
Bab33. Berkunjung.
***
Wajah ceria yang selalu menghiasi kini hanya ada tatapan kosong yang bertengger. Ari bisa merasakan begitu dalam luka yang Nita rasakan. Tetapi dia bisa apa. Dia tidak berhak untuk ikut campur dalam pernikahan majikannya.
Wanita itu sedang bersedih sekarang, tidak ada kata candaan yang kini terlontar. Ari hanya bisa mengusap dada. Dia juga bingung mengapa tuannya melakukan hal itu pada istri pertamanya.
Jika tidak cinta harusnya dia tinggalkan saja. Ari yakin jika Nita bersama orang lain, dia akan bahagia. Contohnya Bian, lelaki itu yang bisa membuat Nita sedikit tegar menghadapi tuannya.
Tetapi Krisna meminta Ari agar Bian tidak menghubungi Nita lagi. Bahkan Nita kini tidak mempunyai akses untuk menghubungi kontak Bian. Nomor ponselnya sudah Bian blokir. Akun media sosialnya Nita tidak mengetahuinya. Dia tidak mempunyai teman lagi.
"Nona, anda baik-baik saja?" tanya Ari.
"Aku baik, memangnya ada apa denganku?" jawab Nita masih bisa tertawa kecil meski air matanya terjatuh.
"Air mata anda dapat membuat orang berspekulasi bahwa anda tengah bersedih. Begitupun saya," ujar Ari.
"Aku ... Memang sedang tidak baik-baik saja! Tetapi, orang lain tidak akan ada yang mengerti kecuali diriku sendiri. Kebahagiaan yang aku impikan hanya sebatas khayalan tidak akan menjadi kenyataan," tandas Nita.
Tanpa terasa mereka telah sampai di pelataran kantor Krisna. Nita memilih menunggu Krisna yang tengah mengadakan rapat. Dia menangis di dalam ruang tunggu, menumpahkan semua rasa yang menyesakkan di hatinya.
Kini dia sudah tidak tahan lagi untuk tetap bertahan mempertahankan pernikahan tanpa cinta itu. Terlalu menyakitkan jika masih dijalani. Nita pun ingin bahagia seperti orang lain. Mempunyai buah hati yang akan mempererat ikatan tali pernikahan mereka.
Sudah saatnya dia mundur, apalagi dengan status Kasih yang tengah mengandung membuatnya merasa akan sia-sia jika dia tetap berjuang seorang diri. Rasa itu hanya akan mematahkan hatinya. Kebahagiaan yang Krisna ucapkan belum juga mendapatkan titik terang. Kapan, dan mengapa masih menjadi misteri.
"Nona Nita, Tuan Krisna sudah selesai. Jika anda ingin mengunjunginya anda bisa menemui beliau di ruangannya," ucap karyawan Krisna memberitahu Nita.
__ADS_1
Nita mengangguk, dia membenarkan dulu penampilannya. Lalu berjalan keruangan Krisna. Di sana masih ada Ari yang tengah membahas pekerjaannya. Ketika Nita datang lelaki itu pamit undur diri.
Nita mendudukan bokongnya di kursi. Dia memandang Krisna dengan tatapan sedih. Air matanya kembali jatuh ketika melihat kedua bola mata lelaki yang telah menemaninya itu. Sudah berusaha sekuat hatinya, tetapi hatinya tetap rapuh. Dia sudah lelah untuk bertahan.
"Kris," panggil Nita. Krisna menatap istrinya yang tengah menangis di hadapannya itu. Tatapannya datar, Nita berpikir Krisna Memang sudah tidak mengharapkannya lagi.
"Mari kita berpisah!" Dengan suara yang bergetar Nita mengatakannya. Krisna menutup matanya sesaat lalu menatap Nita kembali. Dia berjalan mendekati istrinya lalu memeluknya dengan erat.
"Jangan berharap kamu bisa pergi dari hidupku, Ta," bisik Krisna. Nita berusaha memberontak agar pelukan mereka terlepas. Tetapi kuatnya pelukan Krisna tidak mampu Nita uraikan. Akhirnya Nita hanya bisa pasrah dirinya dipeluk suaminya.
Di saat pelukan Krisna terasa sedikit longgar, Nita langsung mendorong tubuh suaminya. Dia juga melayangkan tangannya akan menampar Krisna. Namun, tangan itu melayang di udara, nyatanya Nita tidak sanggup melakukan itu.
"Sudah aku bilang, bersabar. Kamu akan bahagia jika tetap bertahan di sisiku," ucap Krisna. Tidak memikirkan perasaannya. Apakah dia tidak mengerti sakitnya hati Nita saat ini.
"Aku lelah Kris, berikan aku kebebasan. Andai kamu tahu hatiku sudah hancur, aku tidak lagi mencintaimu!" Erang Nita.
"Berhentilah membuat harapan palsu padaku, Kris. Aku sudah lelah. Aku sudah menyerah dengan perasaan ini." Tunjuk Nita kearah dadanya.
"Hatiku telah mati, dan kamu yang telah mematikannya. Aku sudah memberimu kesempatan untuk menjaganya, tetapi kamu telah mengabaikan rasa itu. Ini semua telah berakhir. Kumohon, lepaskan aku, aku juga berhak bahagia. Meski bukan bersama denganmu," ungkap Nita panjang lebar.
Krisna mematung tanpa melontarkan apa-apa. Sedangkan Nita sudah menunggu jawaban dari suaminya itu.
"Aku ingin berpisah!" Seru Nita dengan tegas. Seseorang yang mencoba masuk pun perlahan mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam ruangan Krisna.
Orang itu ingin mendengarkan lebih banyak perdebatan mereka. Dan memastikan bahwa pendengarannya salah. Tidak mungkin jika Nita ingin berpisah dengan Krisna. Dia sedari kecil melihat pertumbuhan mereka bersama. Bagaimana mereka menjalani masa remaja bersama. Penuh cinta, dan saling mencintai. Tidak mungkin Nita ingin berpisah dengan Krisna.
"Aku juga ingin kamu perhatikan lebih, Kris. Aku tidak bisa terus menerus seperti ini. Aku sakit, aku terluka," lirih Nita dengan suara parau.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, kamu tidak akan bisa pergi dari sampingku. Paham!" Tegas Krisna. Nita yang kesal dengan keegoisan Krisna langsung menarik tangan lelaki itu. Hingga mereka terjatuh, lelaki itu menimpa tubuh Nita. Mereka saling tatap dengan waktu yang cukup lama. Nita menatap setiap inci wajah suaminya yang akan dia lepaskan.
Nita memegangi pipi Krisna dengan perlahan. Rasa tidak percaya jika mereka kini begitu dekat. Namun, hati mereka jauh.
"Ayok kita lakukan sekarang," ajak Krisna lelaki itu memegangi perut Nita.
"Aku akan memberikan sesuatu yang membuat perutnya membesar." Nita mendorong tubuh suaminya agar menjauh dari tubuhnya.
"Maaf, serius untuk kali ini. Aku tetap ingin berpisah denganmu,"
Itulah perdebatan mereka yang di dengar seseorang. Orang itu menggeleng tidak percaya dengan apa yang Nita dan Krisna bicarakan. Merasa semakin penasaran dengan apa yang mereka perbincangkan dia akhirnya mengetuk pintu ruangan Krisna.
Dia tidak ingin jika mereka sampai berpisah. Mengingat dia sudah mencintai Nita seperti anak kandungnya sendiri. Dia salah selama beberapa bulan tidak mengunjungi mereka. Nyatanya hubungan mereka sedang dalam keadaan tidak baik.
Sedalam apa Krisna menyakitinya hingga membuat wanita itu meminta berpisah. Menurutnya seorang wanita akan tetap bertahan jika tidak menyangkut perselingkuhan. Lalu apakah Krisna mempunyai idaman lain?
Krisna mengizinkan orang itu untuk masuk. Keduanya pun tampak mencoba membenarkan penampilannya. Berusaha tetap bersikap biasa agar orang itu tidak mengetahui tentang pertikaian mereka.
Keduanya terkejut saling memandang ketika orang itu memasuki ruangan Krisna.
"Saya mendengarkan percakapan kalian," kata orang itu. Dengan tatapan menyelidik mengamati ekspresi keduanya.
"Pacaran kok di ruangan, bukankah ada kamar di kantor ini, Krisna. Mengapa kamu tidak membawanya? Pandai menggoda tetapi tidak ingat ini area kantor," kelakar orang itu dengan menggelengkan kepalanya merasa malu sendiri. Bahkan dia melupakan tentang ucapan Nita yang ingin berpisah dengan Krisna.
***
Bersambung ...
__ADS_1