Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab45. Selamat Tinggal.


__ADS_3

Bab45. Selamat Tinggal.


***


Kasih melihat Riska yang tengah gelisah di depan rumah. Tingkahnya sungguh mencurigakan. Apalagi dia tidak mengetahui kemana istri pertama suaminya itu. Apalagi Mbak Ana pun ikut menghilang, diganti dengan Art baru.


Wanita muda itu yakin jika sesuatu tengah terjadi pada Nita. Apalagi yang dia khawatirkan selain menantu tersayangnya itu.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" Gumam Kasih. Dia terus memata-matai Riska.


Tidak berselang lama Krisna datang, Riska langsung menghadiahi anaknya pukulan.


"Kamu yang membuat Nita ingin mengakhiri hidupnya Kris, kamu harus tanggungjawab atas segala sesuatu yang membuatnya menjadi tertekan!" Teriak Riska. Kasih terperanjat dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Apa salahku, Ma? Berhentilah selalu menyalahkan aku sebelum aku benar-benar tidak akan membawa dia pulang lagi," ancam Krisna. Namun, wanita baya itu semakin murka.


"Apa kamu bilang! Tidak akan membawa Nita pulang lagi? Aku akan melaporkan kamu ke polisi kalau kamu melakukan KDRT, saksi pun ada. Mau main-main kamu sama Mama, Kris," tantang Riska.


"Sudah Ma, jangan marah-marah. Nggak baik untuk kesehatan jantung Mama. Kalau sudah waktunya tiba, aku akan membawa dia pulang," ungkap Krisna. Dia tetap bungkam tanpa berniat untuk memberitahu pada Mama-nya.


Riska mendesah frustrasi. Ternyata anaknya semakin terlihat ingin menang sendiri. Apalagi tanpa dosanya dia seperti tidak melakukan kesalahan.


Sedangkan Kasih yang tengah mendengar mereka beradu argumentasi pun tidak percaya jika Nita bisa senakad itu. Dia pun memikirkan cara agar bisa membantu Nita untuk pergi. Tentu saja agar dia mempunyai keuntungan. Kasih dapat memiliki Krisna seutuhnya jika dia membantu Nita.


Tidak menunggu lama Kasih langsung memberikan negosiasi kepada Nita. Dia langsung menelepon Nita.


["Kamu hendak mengakhiri semuanya?"] Tanya Kasih pada Nita. Wanita itu hanya menjawab dengan deheman.


["Sehancur apapun hidupmu, jangan mengulang lagi dan berfikir untuk mengakhiri hidup, Mbak, meski saya tidak pernah bersikap baik padamu. Saya tidak senang mendengar kamu melakukan hal konyol karena patah hati,"]


["Saya tidak suka berbasa-basi, lebih baik langsung ke intinya,"] jawab Nita.

__ADS_1


["Aku akan membantumu! Jika kamu ingin pergi!"]


***


Malam ini Krisna menginap di hotel bersama Nita. Dia pun berjalan menuju kekamar Nita.


"Ta, bukalah pintunya aku ingin masuk." Tanpa menjawab Nita membuka pintunya membiarkan Krisna masuk kedalam.


Senang karena Nita dengan mudahnya membiarkan dia masuk. Tetapi hatinya sedikit bimbang entah akan terjadi apa. Krisna merasa jika ini akan menjadi pertemuan yang terakhir untuk dirinya. Apakah dia dan Nita akan berpisah? Atau di antara mereka akan memiliki umur yang pendek.


Lamunannya buyar ketika Nita menepuk tangan Krisna dengan ponselnya.


"Aku merasa cemas dari tadi padamu Ta, entah kenapa aku merasa ingin dekat denganmu malam ini,"


"Aku ingin tidur denganmu." Nita terkejut dan mulai merasa tidak nyaman. Krisna dapat merasakannya, dia tersenyum memegangi pundak Nita.


"Tenang saja aku tidak akan tidur di ranjangmu. Aku akan tidur di sofa." Tampak helaan napas lega yang Krisna dengar. Tanpa berbicara Nita memilih keluar kamar.


"Mbak, minum dulu. Aku membuatnya kebanyakan. Ayok minum," titah Nita. Ana tampak sumringah dengan pemberian Nita. Tetapi hatinya pun merasakan hal yang tidak biasa. Dia memeluk Nita lebih dulu sebelum Ana pergi ke kamarnya.


"Semoga anda akan selalu bahagia Nona," kata itu terlontar saja tanpa Ana pikirkan. Nita tersenyum dan pamit pergi.


Nita memasuki kamarnya lagi, dia memberikan minuman itu pada Krisna. Setelah suaminya menengguk minuman itu, Nita langsung berjalan menuju keranjangnya.


Beberapa menit berlalu Krisna langsung tertidur. Nita berusaha melihat sudah nyenyak apakah tidak suaminya itu. Dan sesuai rencana lelaki itu sudah tertidur pulas. Tidak lupa juga Nita melihat keadaan Ana, diapun sudah tertidur pulas.


Nita bergegas mengemasi barang-barangnya. Dia juga langsung keluar untuk segera pergi meninggalkan hotel, meninggalkan semua kenangan yang telah membuatnya hancur.


***


Wanita itu membawa Nita pergi jauh. Sesuai yang diinginkan Nita, jika dia ingin menjauh dari keluarga Krisna. Nita tidak ingin meminta izin lagi, karena itu akan sia-sia, Nita akan mendengar sebuah pengakuan cinta yang membuatnya muak. Sudah cukup lama dia berperang dengan batinnya untuk pergi, dan inilah saatnya, waktu yang tepat agar dia bisa mendapatkan kebahagiaan.

__ADS_1


Kasih memegangi perutnya yang sudah mulai membesar. Dia tersenyum sumringah karena perginya Nita akan membuat Krisna dan Riska bisa memperhatikan dirinya sepenuhnya tidak akan ada penghalang lagi.


'Perginya kamu akan membuat kami Bahagia,' batin Kasih.


"Maafkan aku Ma, Kris, Mbak Ana. Bukan aku tidak ingin berpamitan pada kalian, tetapi banyak pertimbangan ketika aku memilih pergi seperti ini. Aku telah meminta izin baik-baik untuk pergi, tetapi berakhir dengan sebuah tamparan," batin Nita.


"Kamu yakin ingin pergi meninggalkan suami kamu? Apa kamu sudah menyerah dengan cintamu itu?" tanya wanita itu dengan arogan. Nita berdehem lalu berkata.


"Saya sudah yakin dengan keputusan saya. Saya sudah tidak mencintainya. Kamu tidak perlu merasa bahwa saya akan tetap bertahan. Rasa itu telah pergi, anda sudah bisa memiliki dia seutuhnya," tegas Nita.


"Hmmm, benarkah aku sungguh bahagia jika itu terjadi. Semoga saja kamu tidak menyesal di kemudian hari karena telah melepaskannya pergi. Karena kamu sudah melepasnya tentu saja kamu tidak akan memilikinya lagi," tandas Kasih dengan suara angkuhnya.


"Jangan berbangga hati dulu, kamu akan lihat. Siapa yang akan mengemis, aku atau suamimu itu. Sudah aku bilang aku tidak lagi mencintainya. Kamu bisa pegang kata-kataku ini. Aku sudah muak dengan pernyataan cintanya padaku," tegas Nita. Membuat Kasih berdecih.


"Mimipimu terlalu tinggi, Mbak. Bangunlah, kalau mau pergi, pergi saja. Jangan membual," ledek Kasih, Nita hanya tersenyum menanggapi. Dia tidak ingin memperpanjang masalah.


Nita menikmati perjalanan mereka, banyak pepohonan yang mereka lewati. Bahkan ini sudah dini hari. Dia sekilas menengok kearah Kasih yang tengah terlelap. Dia sedikit terluka jika mengingat perlakuannya pada dia. Tetapi dia tidak ingin mempunyai dendam pada wanita itu.


Selama ini dia telah membuat jarak pertemanan di antara Nita dan Krisna berubah. Ya, lelaki itu ternyata bisa menumbuhkan kembali rasa itu. Namun, sayang rasa Nita telah terkikis.


"Konyol jika aku mengingat kebodohanku itu. Memuakkan, aku mengutuk diri sendiri karena telah bertahan," gumam Nita.


Kasih terbangun dan mendengar ucapan Nita, dia langsung tertawa. Wanita itu melihat kearah jendela. Lalu berkata.


"Sebentar lagi kita sampai. Di sana rumahku, kamu harus merawatnya dengan baik. Karena itu warisan orangtuaku," ungkap Kasih.


"Rumahmu? Kamu orang desa? Tetapi ...,"


"Jangan dilanjutkan, kamu tidak akan mengerti, sebaiknya kamu mengganti nomor ponselmu. Ini aku sudah belikan khusus untuk kamu, agar kamu bisa meneleponku jika perlu apa-apa,"


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2