
Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu, tengah berhias di dalam kamarnya. Entah kenapa Indra menjemputnya pagi-pagi begini. Bahkan ini jam kerja orang kantoran berangkat. Sedangkan dirinya tidak bekerja. Lalu dia mau apa membawanya. Apakah dia akan membawa Kia untuk duduk menatap dirinya?
Sungguh membosankan!
Membayangkannya saja membuat gadis itu muak.
Setelah selesai berhias dia langsung berdiri meski malas. Dengan langkah berat dia menuju kelantai bawah. Di sana ada Krisna dan Indra yang saling terdiam. Saling memandang dengan tatapan kosong, entah apa yang berada dalam benak mereka.
Indra lantas berdiri dan berpamitan pada Krisna untuk membawa adik gadisnya. Tangan lelaki itu terangkat untuk memegang jemari tangan gadis itu. Namun, kalah cepat dengan Kia yang mengerti dengan gelagat Indra. Tangannya ia tarik secepat mungkin agar tidak bersentuhan.
Lelaki itu tersenyum manis tanpa berniat untuk memaksa.
Indra memutari mobil untuk membukakan pintu kendaraanya, agar wanita yang dia anggap ratu dalam hatinya tidak perlu bersusah payah untuk menyentuhnya.
"Terima kasih," ucap Kia dengan memutar bola mata malas. Entah mengapa hatinya tidak nyaman berada disekitaran Indra.
Lelaki itu lantas menarik sudut bibirnya tipis. Indra pun masuk, duduk di samping Kia, kendaraan yang mereka tumpangi pun melesat pergi.
"Kerumah Mbak Nita dulu," pinta Kia matanya masih menatap kebenda pipih yang tengah ia otak-atik.
Indra hanya mengangguk tanpa berniat bertanya, meski dia ingin mengetahui kenapa gadis itu memintanya kesana.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara, Kia malas untuk mengatakan apapun. Mengapa lelaki ini tidak menyerah, haruskah dia mengatakan kalau dia tidak lagi mencintainya. Lalu apakah dia harus mencoba untuk merasakan apakah dia bisa senyaman seperti dulu, saat di dekatnya?
"Kamu ingat dulu, saat aku membawa kamu untuk bermain mengelilingi kota dengan bersepeda." Indra mulai mengingatkan masa itu. Masa indah yang mungkin bisa terulang lagi. Tetapi lelaki itu tidak bisa berharap banyak mengingat reaksi Kia yang sama sekali tidak berubah seperti saat dirinya pertama bertemu.
"Aku masih bodoh, tidak tahu mana yang tulus dan hanya bermain-main." Kia memilih menatap kedepan tanpa ingin melihat reaksi Indra.
Harusnya dia terluka ketika mendapat perlakuan sinis itu. Tetapi hatinya seolah tidak merasakan apapun.
Kia turun dari mobil ketika telah sampai di depan rumah Nita. Dengan secepat kilat dia berlari untuk menjauh dari Indra.
__ADS_1
"Mbak!" Teriak Kia ketika pintu utama masih terkunci. Karina berpikir siapa yang sudah bertamu pagi-pagi begini.
Karina membuka pintu, "Nona Kia," sapa gadis itu tersenyum manis. Mempersilakan masuk.
"Mana Mbak Kia, aku mau kalian berangkat bersama denganku, ya!" Gadis itu memohon begitu menghiba. Karina mengedikkan bahu, hanya Nita yang bisa memutuskan.
Kia berlari kearah kamar dan mendapati Nita masih tengah memakai pakaian, gadis itu merengek di depan pintu walk in closet.
Mengetuknya tidak bersemangat, "Mbak, cepatlah bantu Kia!" Rengek gadis itu dengan memelas.
***
Ketika mereka berempat keluar rumah Nita, Kia langsung berjalan cepat untuk masuk kedalam mobil. Dia duduk dibelakang di kursi sejajar dengan kemudi. Karina mengernyit heran dengan tingkah gadis itu. Lalu siapa yang harus di depan. Karina langsung berjalan dengan cepat memilih duduk disamping Kia.
Mau tidak mau Nita pun duduk berdampingan dengan Indra. Sebelum masuk wanita itu mendongak kearah belakang. Kedua gadis itu tersenyum kikuk, tetapi Nita tersenyum masam kearah mereka.
Nita lantas membanting bokongnya di kursi depan. Indra menoleh kearah samping sebelum dia menyalakan kendaraanya. Tubuhnya dia codongkan kearah Nita, berusaha menggapai seat belt untuk membantu Nita.
Sebagai janda yang hanya terjamah satu kali oleh suaminya membuatnya tidak pernah merasakan perasaan ini. Dulu dia hanya bisa melihati kemesraan suami dan madunya. Ternyata begitu manis sekali merasakan jatuh cinta.
Cinta?
Apakah wanita yang telah berumur tiga puluh tiga tahun itu tidak berdosa jika mencintai lelaki pria muda yang usianya terpaut empat tahun?
Nita menggeleng pelan. Menyingkirkan pikiran dan perasaan yang membuatnya geli sendiri. Dia menoleh kearah belakang, Karina memergokinya mengerling saat tatapan mereka bertemu.
"Nona Nita," panggil Indra, ada sedikit rasa tidak enak hati ketika lelaki itu memanggilnya. Mengapa harus dia? Seharusnya Kia lah yang dia panggil.
"Iya," jawab Nita singkat. Tanpa berniat bertanya. Atau membuat suasana menjadi tidak canggung.
"Nanti siang ada acara?" tanya Indra masih dengan tangan yang tengah menyetir. Nita menautkan alisnya.
__ADS_1
"Iya, Mbak temani saja dia. Aku mau kekantor Mas Krisna saja, aku mau ketemu pacarku." Kia berucap tegas dengan menekankan kata pacar dari ucapannya. Dia ingin Indra berhenti mengejar dirinya.
Indra tidak menyahut. Dia pun tidak merasa tersinggung dengan ucapan Kia. Entah apa yang dia rasakan saat ini.
"Cinta orang kaya membuatku pusing kepala saja. Bukankah Tuan Indra mencintai Nona Kia, tetapi dia malah begitu perhatian pada mbak Nita. Lalu Tuan Indra pun tidak menyanggah saat orang yang dia cintai memanggil pria lain, sebagai pacarnya" batin Karina memperhatikan ketiganya.
Masih setengah perjalanan Kia meminta Indra untuk menurunkannya. Dia beralasan untuk menemani rapat sang kekasih--Ari. Indra menurut, tanpa memprotes bahkan bibirnya masih setia melengkungkan senyuman.
Ketika Ari telah datang mereka melanjutkan kembali perjalanannya.
"Bagaimana bisa kamu membiarkan dia pergi dengan lelaki lain. Hatimu terbuat dari apa, tidakkah kamu merasa terluka saat orang yang kamu cintai berkencan dengan lelaki lain," cerca Nita, mengomentari sikap Indra yang masa bodo.
"Aku tidak pa-pa, sungguh," balasnya dengan mantap. Bahkan menoleh sekilas kearah Nita dengan wajah berbinar.
"Konyol!" Celetuk Karina menggelengkan kepala.
Mereka telah tiba di toko Nita. Seperti saat Nita masuk dan Indra membantu memakaikan seat belt. Kini pun dia membantu wanita itu untuk membuka seat belt-nya.
"Ehh." Nita menunduk ketika wajah mereka begitu dekat. Karina yang tidak suka pun memasang wajah garang tidak suka melihat tingkah lelaki playboy itu.
Karina berdehem untuk menyadarkan lelaki mesum itu. Dia bahkan masih berada di sana tanpa berniat keluar sebelum Nita keluar lebih dulu.
"Aku masuk duluan." Nita lantas langsung membuka pintu. Ketika Indra akan mengejar wanita itu untuk keluar, Karina langsung melarangnya.
"Berhenti di mobil, dan jangan keluar. Lelaki mes*m!" Seru Karina dengan mencebik.
"Bisa-bisanya menggoda wanita lain saat bersama dengan gebetan! Playboy cap kaki tiga! Awas saja jika kamu mempermainkan dua wanita itu!" Ancam Karina dengan memukul belakang kursi mobil yang tengah Indra duduki.
"Apakah kamu cemburu?"
***
__ADS_1