Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab160. Aku Akan Menjaganya (Tamat)


__ADS_3

Nita menepis tangan suaminya yang memaksa untuk meninggalkan area pelaminan. Gedung yang masih terlihat ramai oleh lalu lalang para tamu undangan. Entah mengapa dan apa maksud dari suaminya yang memilih untuk meninggalkan pesta daripada menunggu sang pengantin untuk beristirahat.


"Apa, sih. Ini mau kemana? kita harusnya masih di sana!" seru Nita dengan bibir mencebik. Matanya menatap jengah kearah suaminya yang tidak bisa Nita tahu apa maksudnya.


"Honeymoon," bisik Indra di telinga istrinya dengan mencodongkan tubuhnya kearah Nita. Wanita itu memukul kasar lengan suaminya yang kelewat batas.


Nita menjewer telinga suaminya dengan hati-hati, meski tangannya memelintir tetapi dia sama sekali tidak menekan telinga sang suami agar suaminya tidak kesakitan. Indra memegangi tangan Nita dengan lembut dan tersenyum penuh arti.


"Ngapain tangan kamu kayak gini, kalau gak sakit sama sekali, hmm," ucap Indra sembari merangkul pinggang Nita dengan mesra. Namun, Nita mencoba memberontak untuk menjauhkan tangan suaminya dari pinggangnya. Mengingat ini masih di area gedung bahkan masih banyak orang.


"Lepas, Mas! Malu dilihat orang." Nita melirik ke berbagai arah memastikan apakah orang di sekitarnya memperhatikan dirinya dan suami.


"Kamu gugup?" tanya Indra saat melihat raut wajah Nita berubah.


"Iya, plus malu! Lihat orang-orang memperhatikan kita, lepas dong!" seru Nita mencoba untuk mengingatkan. Indra pun menguraikan lalu tertawa puas karena telah menggoda istrinya.


Dia tidak memedulikan tatapan orang-orang terhadapnya. Yang terpenting baginya dia melakukan hal itu pada istrinya bukan istri orang. Sedangkan wajah Nita memerah menahan malu yang amat kentara.


Tidak jauh dari pasangan yang tengah di mabuk asmara itu, Tazkia datang dengan uraian air mata. Tidak kuasa meminta izin jika suaminya tidak mengingatkan. Tazkia merasa Nita terlalu egois karena tidak memberikan kesempatan kedua. Setelah mendapat petuah dari sang suami akhirnya Tazkia mencoba untuk menemui Nita.


"Jangan begitu, bukankah kamu dari awal sudah mendukung mereka. Bahkan kamu tidak mempermasalahkan jika Nona Nita dan Mas-mu tidak bersama lagi,"


Ari memeluk erat bahu sang istri agar semakin mendekat dengannya. Dia mencium puncak kepala istrinya dengan lembut untuk menguatkan. Tazkia mendongak menatap suaminya.


"Ayok, kesana. Baik buruknya kita harus berpamitan dulu agar tidak terjadi kesalahpahaman antara kamu dan Nona Nita. Hubungan kalian baik-baik saja saat pernikahan mereka digelar," ucap Ari. Tazkia semakin terisak dan semakin sesak.


Beberapa menit menangis dan memeluk suaminya. Tazkia pun menghirup napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan perlahan. Dia memegangi jemari suaminya dengan erat untuk menguatkan dirinya, setelahnya dia pun mencoba mendekati Nita yang masih bercanda ria di tempat semula.


Sedangkan Ari hanya mengekorinya dari belakang, setelah berada dibelakang Nita dan Indra, Tazkia pun memanggilnya.


"Mbak Nita,"

__ADS_1


Nita yang dipanggil langsung menoleh kebelakang dan tersenyum. Dia langsung mendekat kearah Tazkia dan memeluknya sekilas.


"Kemana saja, baru Mbak lihat. Baru datang?" tanya Nita langsung bertanya. Nita memboyong Tazkia untuk duduk di kursi. Dia tidak mempedulikan suami Tazkia bahkan suaminya sendiri.


Ari mendekat ke arah Indra, namun lelaki itu mendelik dengan tajam karena telah membuatnya menjauh dari sang istri.


"Saya ditinggalkan!" seru Indra dengan gelengan kepala. Saat wanita masa lalunya itu datang dia menjadi terabaikan.


"Hanya sebentar, Tuan Indra, berikan mereka berdua waktu untuk saling berbicara," ucap Ari dengan santai. Indra langsung menoleh kearah Ari dengan kernyitan dalam.


"Tidak ada waktu lainkah?!"


"Saya dan istri saya akan pergi untuk menemui Tuan Krisna. Bahkan dia juga ingin berbicara dengan anda lebih dulu. Mari kita pergi ke tempat lain sebentar Tuan Indra," titah Ari, Indra pun mengikuti langkah Ari.


***


"Kenapa kok nangis, sayang," ucap Nita saat mereka mendudukan pantatnya di kursi, Tazkia meneteskan air mata.


Selama beberapa detik Tazkia berada dalam pelukan Nita. Lalu dia menguraikannya dan mencoba mengucapkan apa yang akan dia maksudkan.


"Aku akan pergi selama beberapa minggu kedepan Mbak,"


"Mau kemana?" tanya Nita, tangannya terulur untuk menyelipkan anakan rambut yang menutupi pipi Tazkia. Semakin sakit rasa itu kala dia di perlakukan dengan baik seperti ini. Ternyata dia memang benar tidak bisa membenci Nita.


"Apa karena Mas-mu? kenapa lagi dia? apa dia telah membuat kamu terluka lagi?" tanya Nita masih mencoba meminta penjelasan saat Tazkia masih diam membisu.


"Aku sakit melihatnya terluka karena melihat Mbak bahagia dengan orang lain. Aku tidak menyalahkan Mbak karena tidak memberikan kesempatan kedua untuknya. Aku hanya merasa kenapa waktu tidak bisa kuputar kembali saat dia mencoba menikah lagi aku tidak bisa menggagalkannya. Mungkin saja dia tidak akan sesakit ini Mbak," ucap Tazkia panjang lebar.


Nita mengembuskan napas kasar, dan tersenyum. Dia memegangi jemari tangan Tazkia dengan perlahan.


"Ini sudah takdir kami sayang. Ikhlas lah seperti aku sudah mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Biarlah menjadi masa lalu. Dan kamu sampai kapanpun tetap adikku meski aku dan Mas-mu sudah bercerai." Tazkia memeluk Nita dengan erat. Dia kembali menangis dipelukan Nita.

__ADS_1


Beberapa menit dia menangis, sampai Ari yang yang sudah mempertemukan mereka untuk berbicara pun langsung mendekat kearah Tazkia.


Dia langsung mengangkat bahu istrinya dan membiarkan istrinya terisak dalam peluaknnya.


"Maaf Nona, kami harus pulang Terima kasih karena telah menganggap istriku adikmu meski Tuan Krisna telah menyakiti anda begitu dalam," pamit Ari, dia pun pergi meninggalkan gedung.


Sedangkan Indra merentangkan tangannya agar sang istri kembali dalam pelukannya. Dia sudah mendengarkan keinginan Krisna tadi. Dia menitipkan wanita yang paling kuat dalam menyikapi setiap masalah itu. Dia sudah cukup berjuang lama untuk mendapatkan hati suaminya akan tetapi Krisna tidak jua mencintainya. Sampai perpisahan harus terjadi.


Dan Indra sudah berjanji akan menyayangi Nita dengan setulus hatinya. Tidak akan pernah dia membiarkan istrinya terluka. Apalagi menangis, jika pun menangis hanya akan menjadi tangisan keharuan karena bahagia.


"Kamu sepertinya tadi bicara dengan Ari, membicarakan apa kalian sampai menjauh dari kami," tanya Nita. Dia mendongak menatap suaminya. Namun, Indra hanya balas tersenyum dan menjawil pipi istrinya.


"Tidak ada apa-apa, kamu tenang saja," jawab Indra. Padahal kata-kata Krisna sungguh membuatnya menjadi terganggu.


"Tolong jaga Nita dengan baik. Karena saya belum sempat membahagiakannya,"


"Tentu saja aku akan membahagiakannya karena aku mencintainya," batin Indra.


"Sayang ...," panggil Indra. Nita menatap lekat-lekat suaminya menunggu dia akan berbicara apa.


"Aku mencintaimu," ucap Indra, Nita tersenyum lalu tersenyum sangat manis.


"Aku juga mencintaimu, Mas."


***


Tamat...


***


Tidak syarat akan makna tulisanku ini. Pemula yang masih banyak belajar dalam hal plot dan menyusun kata-katanya. Terima kasih untuk semuanya yang telah menunggu cerita ini hingga tamatšŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2