Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab25. Bantu Aku!


__ADS_3

Bab25. Bantu Aku!


***


Nita pergi meninggalkan Krisna yang masih bimbang. Itu adalah keputusan yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Terserah jika tidak ingin menuruti keinginannya. Bagi Nita tidak masalah untuk saat ini jika mereka sama-sama mempunyai pasangan lain.


Dia menelepon Bian untuk kali ini. Hanya dia yang mampu membuat hatinya sedikit terobati.


["Bisa kita bertemu?"] Tanya Nita ketika telepon itu telah dijawab Bian.


["Bantu, aku! Aku sudah tidak bisa memendamnya sendiri."] Kata Nita dengan suara memelas.


["Mbak Nita, apa rumah tanggamu baik-baik saja. Saya merasa bersalah jika kalian bertengkar karena saya!"] Ungkap Bian.


["Datanglah ketempat biasa, aku akan menceritakan segalanya!"]


Bian pun mengiyakan. Mereka akhirnya bertemu lagi. Meski Bian takut akan ancaman Krisna kemarin, tetapi dia tidak bisa menutup mata, dan telinganya ketika seorang wanita yang sudah dia anggap kakaknya tidak dia bantu di saat masa tersulitnya.


Seperti hari ini Nita tidak lagi meminta izin pada Krisna. Tetapi kali ini dia memberitahu Sekretaris Ari jika dia akan bertemu lagi dengan Bian.


["Nona, kata Tuan lakukan apa yang akan membuat hatimu merasa baik. Semoga hari anda bahagia,"] balasan Ari membuat bibirnya sedikit mengerucut.


Lelaki itu tidak hentinya mengatakan itu. Padahal sudah jelas dia tahu bahwa hari-harinya sungguhlah sulit. Dengan keadaan suami yang tidak mencintainya.


Nita turun dari taksi ketika telah sampai mall. Di sana sudah ada Bian yang menunggunya. Lelaki itu melambaikan tangannya memberi isyarat jika dia duduk di sebelah mana.


"Tumben sekali kamu, datang lebih awal. Mmmm, omong-omong kamu tidak bekerjakah? Aku selalu mengajakmu keluar di jam kerja?" tanya Nita, di saat dia membutuhkan dia, Bian selalu ada.


"Jangan dipikirkan. Yang penting aku ada saat kamu membutuhkan aku." Bian tersenyum begitu menawan. Nita pun balas tersenyum manis pada lelaki itu.

__ADS_1


"Oh, Ya Tuhan, aku tersanjung dan juga terharu." Nita memegangi dadanya merasa melayang dengan ocehan Bian.


"Ya, apakah kamu jatuh cinta padaku?" tanya Bian dengan alis yang terangkat sebelah. Sedangkan Nita dia mengernyit tidak mengerti saat Bian dengan PD-nya mengatakan itu.


"Bolehkah aku menjitak kepalamu. Sepertinya kamu sebelum kemari kepalamu itu kepentok." Bian terkekeh merasa jika Nita menganggapnya sebuah candaan.


"Aku bisa pertimbangkan jika benar. Aku akan mencintaimu dengan tulus,"


"Berhenti bercanda, Bian!"


"Ahh, kau pintar sekali jika ini sedang bercanda. Aku sedang latihan untuk menembak seorang gadis,"


"Gadis? Aku yakin dia tidak akan menolak,"


"Tetapi kami ini sahabat dari kecil, Mbak. Kami takut ketika putus tidak bisa seakrab dulu. Apalagi orangtua kami pun berteman baik, sedari kami kecil," terang Bian.


"Mmm, kamu benar. Jalani saja, biarkan mengalir seperti air. Jika berjodoh tidak akan kemana," jawab Nita.


"Aku di madu," ungkap Nita. Kali ini dia berkata jujur pada Bian. Sontak saja lelaki itu tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Wanita dihadapannya saja cantik, lalu mau mencari yang seperti apa hingga dia memilih wanita lain untuk dijadikan istri kedua.


"Lalu kamu tidak mau berpisah dengannya?" tanya Bian.


"Dia tidak mau menceraikan aku. Jadinya aku memaksa dia untuk tetap bisa bersilaturahmi dengan kamu. Aku akan merasa kesepian jika tidak mempunyai teman sama sekali," kata Nita.


Bian mengerti dan dia memilih mengganti topik lain untuk mereka bisa bercanda ria. Baginya tidak ingin terlalu mengulik masalah pribadi orang lain. Dengan begitu jujur saja membaut Bian merasa senang karena wanita dihadapannya sudah rela berbagi lukanya.


***


Setelah merasa bosan di restoran Nita memutuskan untuk pergi ke klub. Tentunya membawa Bian yang akan menemaninya. Tetapi Bian beberapa kali menolak. Dia sudah sering keluar masuk klub malam. Dan dia merasa tempat itu tidak cocok dengan Nita.

__ADS_1


Nita terus merengek ingin pergi. Bahkan dia akan tetap kesana meski Bian tidak mengantarkannya. Akhirnya dengan berat hati Bian pun mengalah untuk mengikuti wanita itu.


Nita mabuk berat ketika sudah sampai di sana. Bahkan Bian harus menghentikan Nita yang terus meminumnya. Bian mengerti dengan keadaan Nita saat ini, mungkin perasaannya sudah sangat hancur. Harapan yang telah di bangun begitu saja hancur. Posisi yang ingin dia tempati ternyata sudah digeser oleh orang yang baru.


Bian juga mengerti wanita mana pun pasti akan terluka jika dia di poligami. Seperti orang terdekatnya. Namun, dia tidak kuasa untuk melakukan balas dendamnya.


"Yan, kenapa minumannya habis." Nita menentengkan botol itu, meski isinya sudah habis dia tengguk.


"Yan, maukah kamu menikahiku. Aku masih per@wan meski sudah menikah." Nita berbicara melantur, bahkan bibir itu terus meracau dan tertawa tidak jelas.


"Sudah Mbak. Ayok kita pulang," ajak Bian. Namun, Nita menolak, wajah yang sudah meler dan juga badan yang sempoyongan ketika berdiri. Menandakan wanita itu cukup parah.


Bian memboyong wanita itu, belum mereka memasuki mobil Nita sudah jatuh pingsan. Akhirnya mau tidak Bian menggendongnya. Dia memandangi dulu wajah Nita yang sudah terlelap itu. Dadanya pun kian sesak melihat wanita itu seperti ini.


Belum juga memasuki mobil Krisna datang dan menghadiahi Bian dengan bogeman mentah. Dia sudah tersulut emosi. Ketika Ari memberitahu dia jika Nita pergi ke klub malam. Bahkan meminum minuman yang harusnya tidak dia minum.


"Inikah perlakukan anda, saat istri saya menganggap kamu adiknya!" Teriak Krisna. Lelaki itu membawa Nita dari gendongan Bian. Menatap tajam, dan merasa tidak suka karena dia berani menyentuh tubuh istrinya.


"Sudah kamu apakan dia!"


"Tuan, anda salahpaham. Saya tidak pernah mempunyai niat jahat padanya. Dia sudah seperti kakak saya. Dan saya menggendongnya karena dia pingsan. Jika anda tidak percaya saya, seharusnya saya membawa dia menginap di hotel saja bukan membawanya pergi!" Jawab Bian memberikan pembelaan, atas tuduhan Krisna yang salahpaham.


Krisna pergi meninggalkan Bian yang tengah mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jari. Ekspresinya datar dan seolah tidak suka dengan suami Nita.


Sekretaris Ari membukakan pintu, lalu menjalankan kendaraan roda empat itu. Krisna terus membelai pipi Nita dengan lembut. Bahkan Krisna memilih Nita berada dalam pangkuannya dari pada harus membiarkan tubuh Nita di kursi.


Ari sesekali melihat mereka dari kaca spion. Tercetak jelas jika Krisna begitu khawatir akan keadaan Nita. Ari menggeleng tidak percaya jika wanita itu bisa nekad pergi ke klub malam hanya untuk minum hingga mabuk.


Bahkan dia tidak memperdulikan keselamatannya. Bagaimana jika orang yang mengantarnya orang jahat?

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2