
Pagi, siang, malam telah terlewati begitu terasa lambat. Nita menunggu di rumah untuk kepulangan suaminya. Namun, sampai pukul 9 pun lelaki itu tidak kunjung pulang. Nita sudah cemas tidak karuan di depan rumah. Padahal mereka baru beberapa hari menikah tetapi Indra sudah meninggalkannya.
Ana yang melihat jam di dinding sudah menunjuk larut malam pun, berinisiatif untuk memberi saran pada majikannya. Dia juga mengerti bagaimana cemasnya seorang istri ketika suaminya tidak memberi kabar apapun. Tetapi dia juga tidak ingin manjikannya sampai sakit, dia yakin jika majikan barunya itu tidak akan berani macam-macam di luar sana.
"Non," Panggil Ana, Nita seketika menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya. Sebelum dia beranjak menghampiri Ana, Nita lebih dulu memandang kearah gerbang rumahnya. Namun, belum ada tanda-tanda kendaraan mobil suaminya datang.
"Masuklah," titah Ana, dia memapah Nita untuk masuk kedalam rumah. Tidak baik berlama-lama di luar.
"Tapi Mbak, suamiku belum pulang," lirih Nita dengan sendu, kepalanya masih memandang kearah kebelakang. Saat pintu utama di tutup perasaan sedih kembali menyelimuti rasanya tidak ikhlas untuk di tutup.
"Bair saya saja yang menunggu Tuan, nanti kalau beliau pulang saya bangunkan," ucap Ana memberi pengertian akan tetapi Nita tetap bersikukuh ingin menunggu Indra. Hingga akhirnya dia memilih untuk menunggunya di ruang tamu.
__ADS_1
Kini jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lelaki itu tampak kelelahan dengan melonggarkan dasi yang bertengger di lehernya. Saat pintu utama di buka ada Ana yang terlihat baru saja terbangun dari tidurnya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun Indra langsung berjalan masuk kedalam tanpa menoleh kearah lain.
Ana yang melihatnya pun langsung bersuara.
"Tuan ... Anda tidak ingin membawa Nona masuk kedalam kamar?" tanya Ana dengan cepat. Seketika langkah Indra terhenti dan berbalik kearah Ana. Lelaki itu mengerutkan keningnya merasa heran dengan apa yang di katakan Ana. Namun, setelahnya ia menoleh kearah Ana dan mengikuti arah tatapannya Indra langsung berjalan mendekati sang istri.
Ia belai wajah lelap istrinya yang tertidur bagai putri tidur yang tidak terganggu. Saat Indra telah menggendong Nita, Ana pun masuk kedalam kamarnya.
"Aku harap kamu tidak salahpaham padaku," ucap Indra, lelaki itu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setengah jam dia berada di sana. Saat dia keluar dia sudah mendapati Nita yang tengah bersandar di punggung ranjang, Indra pun mendekati istrinya dan mencium kening Nita dengan lembut.
__ADS_1
"Kenapa sudah bangun?" tanya Indra, Nita menutup mulut saat dia menguap. Ternyata bukan mimpi saat Indra menggendongnya dan berkata yang membuat Nita penasaran. Sebenarnya apa yang telah dia lakukan di luar rumah?
Nita menggeleng lemah, dan membaringkan kembali tubuhnya. Bergulung di dalam selimut dan berbalik arah membelakangi Indra. Indra pun mencari pakaiannya, setelah memakai pakaian dia berjalan menuju ranjang untuk membaringkan tubuhnya.
Saat Indra naik keranjang, Nita langsung memutar badan lagi membelakangi suaminya. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang tengah suaminya sembunyikan darinya.
Indra mendekat, merapatkan tubuhnya dengan tubuh sang istri. Indra memeluk Nita dan menghirup aroma wangi di rambut sang istri.
"Apa maksud dari ucapanmu, Tuan Indra," Batin Nita.
***
__ADS_1