
Indra berjalan menuju mobilnya setelah membuat wanita itu mengernyit kebingungan. Hanya dia yang tahu, andai Bian secepatnya pulang dia akan membawa Nita kehadapan Bian untuk melamarnya. Namun, senyuman itu memudar kala ia mengingat jika Krisna berusaha memberikan jarak diantara mereka.
Lelaki tampan itu salah memilih langkah, harusnya dia tidak meminta izin pada Krisna untuk mendekati Tazkia. Apalagi sekarang hubungan mereka sungguhlah rumit. Indra harus secepatnya mengurus kekacauan ini agar segera berakhir kesalahpahaman yang membuat mereka saling menjatuhkan.
Dia-pun ingin mengatakan jika dirinya dan Tazkia tidaklah lagi saling mencintai seperti dulu, perasaan yang sempat hadir hanya sebuah penyesalan karena telah membuat Tazkia terluka di masa lalu. Kejadian waktu itu membuatnya selalu terbayang-bayang dalam rasa bersalah.
Namun, setelah Tazkia menegaskan jika dirinya tidak akan memberikan kesempatan kedua, membuat Indra sadar jika dirinya memang hanya bersalah pada gadis itu.
Beberapa langkah lagi lelaki itu hampir menggapai pintu mobil, tetapi Karina menyeret tangan lelaki itu. gadis itu menyeret Indra sedikit kasar, meski sama sekali tidak membuat lelaki itu tersungkur. Indra lantas tersenyum menyeringai, lelaki itu memegang dagu. Seperti biasa dia memandang ujung rambut Karina hingga ujung kakinya.
"Sebegitu cemburukah kamu padaku, hingga membawaku secara paksa seperti ini." Alis Indra naik turun menggoda Karina, gadis itu mendengkus dengan mata menyipit. Tidak percaya dengan percaya dirinya.
"Aku peringatkan kamu lagi, tolong jauhi Mbak Nita. Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengannya,"
"Bagaimna jika aku tidak mau,"
"Aku akan berusaha semampuku agar kamu tidak lagi bisa dekat dengan Mbak Nita, camkan itu!" gerutu Karina dengan tatapan tajam. Namun, sedikit pun Indra tidak merasa takut.
"Baik, nanti sore aku akan datang lagi untuk membuat bos-mu jatuh cinta padaku." Senyuman licik itu menghiasi lagi wajah lelaki itu. Mengapa bisa dia mencintai Nita, apa sebenarnya yang telah dia rencanakan.
Karina mendesah berat, mengurai rambutnya dengan frustrasi. Dia sudah kehilangan muka di hadapan lelaki itu, tetapi rasa sayangnya untuk Nita lebih tinggi dibanding rasa malunya pada Indra. Dada-nya naik turun tidak menentu.
Dia tidak tahu acara apa yang akan dilakukan Indra, lelaki tampan itu, ya meski dia menyebalkan dan me*um. Tetap saja Karina pun tidak bisa mengelak tentang pesona lelaki itu. Usianya yang masih muda, dan kesuksesan yang telah dia miliki.
***
__ADS_1
Waktu terasa begitu cepat, saat sinar matahari mulai meredup begitu juga dengan rasa cemas yang datang mnghampiri relung hati Karina. Gadis itu berulang kali memandang pintu depan toko dengan tatapan sendu.
Berharap lelaki tampan yang keras kepala itu tidak datang lagi untuk mendatangi bos-nya. Gadis itu mengusap dada dengan lega, ternyata dia tidak datang.
Hatinya bersorak, dan dia mulai menunggu taksi di pinggir jalan. Namun, matanya tertuju pada dua mobil yang tengah terparkir tidak jauh dari toko tempatnya bekerja. Kening gadis itu mengkerut merasa mengenali mobil itu. Serta dua tubuh lelaki yang atletis terlihat tidak asing di indra penglihatannya.
Ingin berusaha masa bodo, tetapi kakinya terus melangkah untuk mendekat. Dan benar saja Krisna dan juga Indra sedang berdiri berhadapan dengan saling melempar tatapan tajam. Kedua tangan mereka, mereka masukkan kedalam saku celana.
Jarak yang cukup lumayan jauh, membuatnya tidak bisa mencakup dengan jelas perbincangan mereka. Gadis itu hanya bisa mendengkus kesal.
"Mengapa mereka berbicara tidak teriak, agar aku bisa mendengarnya," gerutu gadis itu sudah seperti maling yang tengah mengendap-endap.
Satu bogeman mentah dilayangkan kearah pipi Indra. Lelaki itu hanya terlihat memegangi pipinya. Karina yang tidak ingin melihat adegan itu semakin parah, berlari untuk melerai.
"Hentikan! Jika kalian tidak berhenti, aku akan menelepon Mbak Nita." Karina mulai mencari ponsel yang berada di dalam tasnya. Meski tangannya gemetar dia terus bersikap tegas. Meski keduanya sama sekali tidak takut dengan kedatangan Karina. Indra dan Krisna hanya takut jika Nita melihat perkelahian itu.
Tangan Karina ia rentangkan di hadapan Krisna, menjadi penolong Indra.
Debaran jantung Karina masih berpacu begitu cepat, karena ia masih merasa gugup dan gemetar ketika Krisna telah pergi. Pancaran mata lelaki itu memendam kebencian terhadap dirinya. Lalu apakah Krisna harus membencinya, padahal Karina sama sekali tidak tahu menahu dan sama sekali tidak terlibat apapun.
Indra memegangi pundak Karina dengan gerakan pelan. Gadis itu menunduk lesu dan mulai berjalan untuk meninggalkan Indra yang masih heran dengan tingkah gadis itu.
"Hey, kamu mau kemana? Tidak inginkah kamu mengobati lukaku? Dan untuk tadi terima kasih, meski aku tidak membutuhkan bantuanmu." Indra mengekori Karina.
"Kenapa tatapan tuan Krisna terhadapmu begitu menyiratkan kebencian? Apa yang telah terjadi antara kamu dan dia di masa lalu?"
__ADS_1
Tidak mendapat sahutan dari Karina, membuat lelaki itu mencekal gadis itu dan menyeretnya masuk kedalam mobil miliknya. Karina membisu tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Indra keluar mobil beberapa menit, setelah itu dia masuk lagi dan memberikan sebotol minuman. Karina menatap nanar tangan yang terulur, lalu mendongak dengan wajah sendu.
Padahal Indra ingin menggodanya habis-habisan, tetapi melihat tingkah gadis itu yang murung membuatnya mengurungkan niatnya.
Indra menyalakan mobilnya, menuju tempat Nita. Sepanjang perjalanan pula Karina hanya memandangi jalanan dengan tatapan sendu. Indra juga dapat mendengar isakan tangis Karina. Lelaki itu pun memberikan tisu untuk gadis itu.
"Tidak usah dipendam jika ingin menangis. Menangislah, aku tidak akan meledekmu," ucap Indra, Karina menoleh. Benar saja gadis itu menangis sejadi-jadinya di dalam mobil.
"Kenapa tuan Krisna membenciku, padahal kejadiannya sudah beberapa tahun terlewati. Bahkan lelaki itu tidak membiarkan aku untuk sering bertemu dengan keponakanku. Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kasih. Kami memang saudara kembar, tetapi kami tidak memiliki perilaku yang sama. Menghalalkan segala cara agar apa yang dia inginkan menjadi miliknya. Termasuk, membuat rumah tangga mereka hancur.
"Tetapi apakah itu semua salah Kasih? Lantas mengapa lelaki tergoda. Harusnya dia tidak membenciku," ucap Karina panjang lebar. Namun, otaknya kembali sadar. Mengapa dia malah mengatakan kisahnya. Seharusnya dia menggali informasi tentang perkelahian mereka.
Bertemu dengan Krisna membuatnya mengalihkan dunianya. Menjadi terseret kembali kedalam kisah masa lalu. Ah, andai Karina bisa mengulang masa itu. Dia akan menggagalkan pernikahan mereka.
"Kalian bertengkar kar--"
"Ya, tepat sekali tebakanmu." Lelaki tampan itu memotong ucapan Karina dan membenarkannya.
"Tapi 'kan kamu telah meminta izin pada Tuan Krisna ingin mendekati adiknya. Wajar lah dia marah, atau kamu tidak melawan karena menghargainya?" Tebak Karina lagi.
"Ya, memang kamu pikir aku akan mengalah begitu saja. Aku bahkan jago beladiri, dan juga jago di ranjang." Indra menoleh kearah Nita sekilas dengan tatapan genit.
"Mes*m!" Bibir Karina mencebik.
__ADS_1
***