
Bab7. Nyaman Berada Dalam Pelukanmu.
***
Akan menguras emosi. Tetapi, ikuti alurnya ya😊
***
"Ya mungkin dia merasa kesepian jika dia tinggal di rumah sendirian. Tenang saja, jika dia melakukan yang tidak kamu sukai bicarakan padaku, aku akan menasihatinya," ungkap Krisna. Masih memberikan pengertian pada Nita. Bagaimana keiginan istri keduanya itu.
Nita masih diam membisu, dia tidak menolak, atau pun mengiyakan. Rasanya begitu cepat jika itu harus terjadi hari itu juga. Mengapa Krisna tidak berkata lebih dulu supaya dia bisa menata hatinya agar kuat.
Nita rapuh dan terjatuh dalam lubang duka yang tidak berkesudahan. Hatinya sakit jika harus melihat, mendengar dengan mata kepalanya sendiri bagaimana dia memperlakukan Kasih begitu lembut dan istimewa. Berbeda pada dirinya Krisna memang memperlakukannya dengan baik, tetapi Krisna mempunyai batas yang menjulang tinggi pada Nita. Dia sulit menggapai hati suaminya sendiri.
"Bukankah itu juga baik untuk kamu. Kamu juga bisa mempunyai teman. Kemana-mana kalian bisa bersama bukan. Kamu harusnya mengerti, bukankah kamu juga yang merestui kami," ungkap Krisna ketika Nitaasih saja belum mengeluarkan pendapatnya.
"Aku kekamar kecil dulu, Kris," pamit Nita. Namun, baru saja Nita beranjak berdiri Krisna mencegahnya dia pun memeluknya.
"Aku tahu kamu akan menangis. Menangis lah dalam pelukanku. Mungkin bisa sedikit mengurangi bebanmu. Maafkan aku yang tidak bisa juga membuka hati untukmu. Aku hanya tidak ingin kamu pun tersiksa karena aku jarang pulang. Jika tinggal di rumah bersama bukankah kalian berdua bisa melihatku setiap hari. Jika kamu dan Kasih tinggal di rumah berbeda, tentu saja aku akan jarang pulang ke rumahmu, Tata," terang Krisna. Nita mempererat pelukan itu. Menumpahkan segala kesakitan yang selama ini dia pendam.
Setelah satu tahun membina rumah tangga ini, baru kali ini dia memeluk suaminya seperti ini. Rasa itu sungguh membuatnya lebih jatuh cinta pada Krisna. Dia tidak bisa membohongi hatinya.
'Andai kamu pun bisa mencintaiku dengan tulus Kris. Aku akan menjadi wanita yang paling bahagia,' batin Nita.
"Bagaimana, Tata. Kamu setuju kan jika kami tinggal di sini. Supaya kamu tidak merasa sendiri." Krisna membelai puncak kepala Nita. Lelaki itu memberikan pengertiannya dan memberikan ketenangan.
"Tapi ... Kenapa kamu tidak bilang di saat akan pulang tadi?" tanya Nita dengan suara seraknya.
__ADS_1
"Seperti kamu yang kuberitahu mendadak. Kasih pun mengatakannya dengan mendadak. Dia menganggap kamu Kakakmya Ta, semoga kamu pun menganggap dia seperti adik," jawab Krisna. Nita pun terus berpikir mungkin ada benarnya jika mereka satu rumah.
Nita tidak akan perlu cemas jika lelaki itu tidak pulang. Bukankah rumah ini cukup besar jika ditinggali 4 orang saja tidak akan masalah.
"Ya, aku setuju Kris,"
Baru saja Krisna akan mengecup kening Nita, Kasih berdehem menyadarkan keduanya agar tidak terlalu romantis di hadapannya. Wanita muda itu sedikit tidak suka jika suaminya dipeluk-peluk Nita.
'Menyebalkan, jadi dia mengambil kesempatan di saat aku beristirahat. Dasar wanita gatal," gerutu Kasih dalam hatinya.
Krisna menguraikan pelukan itu, Nita pun memejamkan mata masih enggan untuk terlepas dari pelukan suaminya. Aroma parfum itu membuatnya mabuk kepayang. Andai Kasih tidak bangun mungkin kejadian langka itu masih bisa dia rasakan cukup lama.
Lelaki itu memapah Kasih yang masih diam mematung tanpa berniat untuk melangkahkan kakinya. Nita hanya bisa memandangi pemandangan itu dengan hati yang iri. Dia tidak akan pernah mendapatkan perhatian yang istrimewa seperti Kasih.
"Ayok, makan dulu," ajak Krisna.
"Sayangnya mana, Mas. Aku gak mau makan kalau kamu gak panggil sayang!" Rengek Kasih. Wanita muda itu cemburu melihat suaminya dan Nita berpelukan. Dia pun akhirnya memperlihatkan bagaimana perilaku Krisna terhadap dirinya.
Nita yang melihat kedekatan mereka hanya bisa merasakan sakit. Dia tidak tahan untuk melihat kedekatan keduanya. Nita pun akhirnya menjatuhkan air matanya. Namun, ia langsung mengusapnya dengan kasar.
Senyuman tipis tersungging dari bibir Nita melihat istri pertama suaminya itu tampak bersedih. Ketika Krisna mengajaknya untuk duduk. Krisna dengan cepat menyeret kursi itu dengan cepat lalu mempersilahkan Kasih untuk duduk di sana.
"Kalian sudah makan, Mas, Mbak?" tanya Kasih ketika melihat piring Nita dan Krisna sudah terpakai. Nita hanya mengangguk dan tersenyum tipis pada wanita itu.
"Iya, sa-yang," jawab Krisna dengan ragu-ragu. Pasalnya dia merasa tidak enak hati mengingat Nita juga berada di sana. Krisna pun tidak mengingat Nita di saat tadi dia bermesraan dengan Kasih.
"Ambilkan dong sayang. Biasanya juga di bawakan. Kamu kok gak peka sekarang, sih," gerutu Kasih. Dia memasang wajah cemberut seperti anak kecil yang tengah marah.
__ADS_1
Krisna memandangi Nita dahulu sebelum dia menyuapi Kasih. Nita tersenyum lalu mengangguk. Nita meremas pakaiannya dengan kuat. Sakit sekali rasanya. Dia sudah tidak kuasa melihat kemesraan mereka.
"Aku duluan, ya. Sudah ngantuk juga," pamit Nita. Dia menggeser kursinya untuk pergi meninggalkan mereka. Belum juga kakinya melangkah Krisna berucap.
"Jangan tidur dulu, Tata. Kamu baru saja makan tidak baik untuk tubuh,"
"Nonton TV atau apapun yang ingin kamu lakukan. Apakah setiap hari kamu seperti ini, Tata?" tanya Krisna. Ia akhirnya menyimpan sendok yang berisi makanan itu untuk Kasih. Membuat Kasih mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Enggak kok, Kris. Maksudku aku akan berjalan-jalan dulu di taman dengan Mbak Ana. Lanjutkan saja kamu menyuapi istrimu, Kris," ucap Nita. Ia pun berjalan meninggalkan mereka.
Krisna langsung mendudukan bokongnya di kursi dan melanjutkan menyuapi Kasih. Dia juga menatap Kasih dengan datar.
"Kenapa tatapan kamu seperti itu, Mas?" tanya Kasih.
"Sudah aku gak mau makan lagi," rengek Nita kembali ia mulai marah.
"Sudah aku katakan jika kamu jangan memancing dia bersedih. Meskipun aku tidak mencintainya, tapi kita juga harus menghargai perasaannya," tandas Krisna menasihati Kasih.
"Jadi maksudmu aku salah, Mas," ucap Kasih dia mulai berkaca-kaca dan menangis.
Krisna mengembuskan napas kasar dengan rengekan Kasih. Tidak biasanya juga istri keduanya itu manja berlebihan seperti itu. Akhirnya Krisna membawa Kasih kedalam dekapannya.
"Sudah jangan menangis lagi. Bukankah kamu berjanji akan menghargai perasaan dia. Bukankah kamu juga yang ingin tinggal bersama dengannya di sini," tandas Krisna. Kasih pun mengangguk dan meminta maaf pada Krisna.
'Aku memang sengaja melakukannya. Aku mau kamu menjadi suamiku seutuhnya," batin Kasih.
Nita yang diam-diam mengintip mereka hanya bisa meremas dadanya yang sakit. Air mata itu terus saja terjatuh ketika melihat perlakuan Krisna yang begitu berbeda.
__ADS_1
***
Bersambung ...