Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab55. Kehilangan (2)


__ADS_3

Bab55. Kehilangan (2)


***


"Anda mengalami keguguran Nona Nita, apakah anda tidak menyadari? Karena anda stres Anda tidak bisa mempertahankan bayi anda." Kata-kata itu terus terngiang-ngiang diingatan Nita.


Wanita itu kini tengah berada di rumah sakit setelah mengalami pendarahan. Mengapa dia tidak menyadari, dan mengapa semua baru diketahui di saat calon bayinya tidak bisa bertahan lama dalam kandungannya.


Nita terus merutuki kebodohannya. Ibu macam apa dia yang telah mengabaikan kehidupan di dalam rahimnya.


Karina datang untuk menjenguknya, gadis itu tahu perihal kejadian yang tengah di alami Nita. Dia datang untuk menghiburnya. Memberikan dia dukungan bahwa memang semua sudah Kehendak Sang Pencipta.


"Sabar ya, Nona. Ini sudah takdirnya, dan mungkin dia memang di takdir kan hanya hadir untuk beberapa saat dalam rahimmu," ucap Karina, Nita menatap penuh kesedihan pada Karina.


Dia memegangi tangan Karina dan meminta bantuan agar tidak memberitahu siapapun. Termasuk Bian, dia tidak mau membuat orang khawatir.


"Aku harap kamu tidak memberitahukan masalah ini pada siapapun,"


Seseorang tengah menguping mereka berbincang, Bian, ya lelaki itu mencuri dengar tentang apa yang tengah mereka perbincangkan. Mengapa nasib orang yang mirip dengan kakaknya tidak jauh berbeda. Memilukkan? Bahkan dibuang di saat dia ingin mencari kebahagiaannya.


Apalagi orang yang menyebabkan mereka tidak bahagia adalah orang yang sama. Dan itu menambah poin yang membuat Bian semakin membenci saudara Karina. Dia pun bertekad akan memberitahukan semuanya pada Nita.


"Kamu salah jika aku tidak mengetahuinya. Mbak bisakah kamu pulang bersamaku dan membantuku menjebloskan dia kepenjara," timpal Bian, ketika Karina tidak kunjung juga menjawabnya. Karina memejamkan mata dengan dada kian sesak. Kini dia dan Bian memang sudah tidak akan bisa seperti dulu lagi.


"Yan, bisakah kamu melihat situasi. Nona Nita baru saja mengalami--"


"Dia wanita kuat Karin, seperti orang yang sudah kamu celakai," timpal Bian lagi menyela ucapan Karina. Wanita itu mematung tidak bisa menjawab apapun lagi.

__ADS_1


Apakah Bian akan mengungkapkan semua tentang saudaranya? Karina mengembuskan napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan, dia berusaha menguatkan hatinya yang telah siap menerima kenyataan pahit tentang kejahatan saudaranya itu.


"Kasih, istri kedua dari Tuan Krisna adalah penyebab meninggalnya kakakku Mbak," ucap Bian pada Nita. Wanita itu terperanjat tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Sejahat itukah madunya itu?


"Apakah ini benar Yan? Aku tidak salah dengar kan?" tanya Nita mencoba mengkonfirmasi. Bian mengangguk begitupun dengan Karina gadis itu membenarkan apa yang di katakan Bian.


"Bagaimana bisa? Dia masih muda dan tidak mungkin melakukan hal seperti itu," ucap Nita dia tampak masih tidak percaya.


"Akan terasa mengerikan jika aku menceritakannya sekarang. Suatu saat aku akan mengatakan segalanya," ungkap Bian.


"Mbak Nita kami pamit keluar dulu membeli makanan," pamit Karina, dia berusaha membawa Bian untuk keluar. Dia sudah tidak tahan lagi dengan ucapan Bian yang seolah menyalahkan dirinya atas kejahatan saudaranya itu.


Padahal Karina tidak mengetahui apapun. Karina membawanya ketempat parkiran. Di sana mereka duduk saling terdiam belum mengatakan sepatah katapun.


"Aku tidak akan terima kamu mengatakan jika aku terlibat. Dan seolah-olah aku pun ikut andil dalam kejadian itu," Ungkap Karina tidak menerimanya. Gadis itu memukul bahu Bian dengan kasar. Bian langsung mencekal tangan gadis itu dengan kuat.


"Bian aku akan membantumu dan aku akan menjadi saksinya. Lalu kenapa kamu harus memberitahukan semuanya pada Nona Nita, kenapa, Yan! Bisakah kamu menghargai perasaanku sedikit saja!" Cerca Karina. Namun, Bian malah bertepuk tangan mendengar ucapan Karina.


Baru saja Bian akan mendekati Karina, ponsel gadis itu berdering. Membuat Bian mengurungkan niatnya. Entah apa yang akan dilakukan lelaki itu.


["Nona Krin,"] panggil Kia di sebrang sana.


["Aku titip kakak iparku di sana ya? Soalnya kami sedang sibuk dan banyak drama di sini. Malas sekali saya menemani Mbak Kasih. Alay banget pas mau lahiran masa mau dilipstik dulu. Gak masuk akal, kan jagoanku bujang mengapa maunya dandan,"] keluh Kia di sebrang sana.


Karina tampak tersenyum sumringah ketika mendengar Kia jika Kasih tengah kontraksi. Tetapi mengapa kejadian sedih terjadi pada Nita. Dia tidak bisa mengatakan kabar ini pada Nita. Wanita itu pasti akan merasa sakit mendengarnya.


["Aku harus menjauhkan dia dari Mbak Kasih. Takut calon keponakanku jadi Pebinor. Soalnya mama-nya jadi pelakor,"] ketus Kia, dia terdengar jengkel ketika sedang menunggu Kasih.

__ADS_1


["Hah! Apa! Lalu bagaimana dengan anaknya?"] Cerca Kia, membuat Karina khawatir dengan keadaan saudaranya itu.


Sambungan telepon pun dimatikan. Karina berusaha kembali untuk menghubungi Tazkia. Tetapi gadis itu tidak kunjung mengangkatnya. Bian mengerutkan keningnya tidak mengerti. Jelas-jelas tadi Karina bahagia. Dan sekarang dia menjadi khawatir.


"Ada apa Karina?" tanya Bian, lelaki itu sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Karina. Tetapi wanita itu tetap tidak melontarkan apapun. Bahkan dia malah akan pergi untuk menjauhi Bian.


"Jangan bilang terjadi sesuatu pada saudaramu itu?" Bian mencengkram tangan Karina. Dia tidak akan membiarkan gadis itu pergi.


"Jika terjadi sesuatu pada saudaraku bagaimana? aku harap kamu bisa mengerti, melahirkan seperti kita sedang bertaruh nyawa. Antara selamat dan tidak," ucap Karina.


"Kamu yang harus menggantikannya!"


Nita melihati keduanya yang tampak tidak akur, dia perlahan mendekati mereka meski berjalan dengan terseok-seok. Nita ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hubungan di antara mereka apa.


"Yan, cukup! Kamu lelaki, tidak sepatutnya kamu memperlakukan dia seperti ini!" Teriak Nita. Bian melepaskan cengkraman tangannya dan tertawa.


"Kamu berada di pihak dia Mbak? Apa kamu tahu dia sengaja memprovokasi kamu pergi agar dia menjadi Nyonya satu-satunya. Dan kamu tahu alasannya kenapa Nona Tazkia dan Sekretaris Ari memintaku untuk menjaga kamu dan meninggalkan rumah itu?" Bian menggantung ucapannya.


"Kenapa Yan?" Nita menunggu jawaban Bian menjelaskan semuanya. Namun, dia mendekati Nita dan menggendongnya.


"Bian lepas! saya mau bicara dengan Karina." Nita berushaa memberontak


"Dia ingin kamu celaka, karena kamu mengancamnya. bukankah kamu pernah berbicara dengannya jika kamu akan kembali dan Kasih tidak akan mendapatkan kasih sayang lagi dari Tuan Krisna? dia akan menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan kamu." Karina menangis sembari mengekori mereka dibelakang. Rasanya begitu sakit ketika Bian melakukan hal ini padanya.


Namun, langkah Karina terhenti ketika dia mendapat pesan singkat dari Tazkia. Dia menangis tidak kuasa karena merasa kehilangan. Lalu bagaimana dengan kehidupannya, Bian pasti akan semakin murka terhadapnya.


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2