Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab18. Aku Tidak Keberatan.


__ADS_3

Bab18. Aku Tidak Keberatan.


***


Kasih menunggui Krisna di depan. Dia mondar-mandir tidak jelas, mulutnya sudah tidak sabar ingin mengatakan jika apa yang Nita lakukan adalah salah. Ya, meskipun kedekatan mereka hanya sebatas teman. Namun, Kasih tidak mengetahui jika Nita sudah meminta izin pada Krisna. Hanya saja Nita belum memberitahukan kedekatan mereka sejauh mana.


Wanita itu sudah duduk, lalu berdiri. Berjalan kedepan. Berulang kali dia lakukan, sudah menghubungi nomor suaminya. Namun, belum kunjung juga mendapat jawaban.


Hampir satu jam dia menunggu. Pun terdengar deru mesin mobil menuju pelataran rumah, wajah yang sedari tadi murung pun langsung tersenyum sumringah. Krisna keluar dengan wajah lelahnya. Kasih langsung mengapit tangan suaminya untuk masuk kedalam. Sedangkan Krisna sedikit melonggarkan dasi yang sudah bertengger di lehernya seharian.


"Sayang," rengek Kasih. Krisna memandang istri mudanya untuk jangan merengek dan meminta yang berlebihan.


"Iya, iya, aku paham." Bibir itu mengerucut ketika Kasih mengerti akan isyarat suaminya.


"Sini aku kecup dulu, untuk mengurangi rasa lelahmu." Kasih pun mengecup pipi kanan, dan kiri suaminya berulang kali. Bahkan Kasih menjailinya dengan menjilat pipi suaminya.


Krisna yang mendapat perlakuan seperti itu pun tertawa, dengan tingkah lucu istrinya.


"Kau ini." Krisna mengusap pipi Kasih dengan lembut.


"Aku akan mandi dulu, cukup lelah untuk hari ini," pamit Krisna.


Kasih pun mengeluarkan pakaian untuk Krisna kenakan setelah selesai mandi. Namun, karena lamanya menunggu Krisna keluar, Kasih tertidur.


Dia yang baru keluar dari kamar mandi melihat wajah damai istrinya pun tersenyum hangat. Dia mengenakan pakaian yang telah Kasih siapkan lalu berjalan keluar untuk membuat kopi.


Krisna berjalan mendekati kamar Nita terlebih dulu. Telinganya dia tempelkan di pintu, untuk mencuri dengar apakah istri pertamanya telah tertidur. Namun, hening tidak ada aktivitas apapun. Lelaki yang baru saja selesai mandi itu pun berjalan ke dapur.


Dengan handuk kecil di tangan untuk mengeringkan rambutnya. Alis Krisna menaut ketika Nita ternyata ada di dapur tengah memasak sesuatu. Pantas saja sudah hening. Wanita itu tidak berada dalam kamarnya.


Nita yang masih berkutat dengan masakannya pun belum menyadari jika Krisna tengah memperhatikannya. Di saat dia berbalik dia terperanjat dan hampir masakannya tumpah ketubuhnya.


"Ya Tuhan, kamu Kris. Biasakan kalau datang itu nyapa. Jangan buat orang jantungan. Kamu senang kalau aku meninggal," gerutu Nita, dia meletakkan masakannya lalu mengusap dada.

__ADS_1


"Apakah kamu ingin meninggalkan ku? Bisakah aku saja yang lebih dulu pergi. Daripada kamu meninggalkanku," timpal Krisna dengan wajah tanpa dosanya.


"Gombal," jawab Nita terkekeh. "Meskipun aku lebih dulu pergi, bukankah tidak akan merubah rasamu untukku."


"Meskipun begitu, aku selalu berusaha untuk bisa bersikap adil pada kalian," kata Krisna. Dia berdiri akan membuat kopi seperti apa yang menjadi tujuannya keluar.


Namun, Nita menyuruh Krisna untuk tetap diam di tempatnya. Tangan lihainya lah yang akan membuatkan kopi untuk Krisna. Setelah selesai dia menghidangkannya pada Krisna.


Mereka duduk, menyantap apa yang akan mereka makan, dan minum. Nita sejenak mengumpulkan semua keberanian untuk mengungkapkan kedekatan dirinya dan Bian. Agar tidak menjadi salahpaham di kemudian hari.


"Katakan! Ada sesuatu yang mengganjal?" tanya Krisna. Di saat tanpa sengaja melihat raut wajah Nita yang ragu-ragu.


"Apakah kamu merasa terganggu dengan kehadiran kami, Ta. Aku yakin ini memang begitu sulit untuk kamu. Aku belum bisa mencintaimu dan tidak berperasaannya aku memilih menikahi wanita lain." Krisna merasa bersalah akan sikapnya yang terlalu berlebihan pada Nita.


Dia sadar akan kesalahannya itu. Dia sudah berjanji untuk menjaganya. Tetapi dia malah melukai Nita dengan menyakiti hatinya.


"Jika aku dapat memilih, aku ingin bisa mencintai kamu agar tidak ada orang ketiga diantara kita," ungkap Krisna lagi. Nita mendesah berat. Lalu menatap Krisna dengan senyuman yang selalu ia tunjukkan.


Untuk saat ini keduanya saling merasai kesahalan masing-masing. Saling menunduk dan mengembuskan napas kasar. Meskipun cinta Nita bertepuk sebelah tangan, tetapi dia tidak memikirkan untuk pergi. Saat ini baginya Krisna tetap menjadi pelindungnya.


"Kris," panggil Nita saat keduanya saling terdiam.


Krisna mendongak lalu memandang Nita dengan tatapan sedih. Wanita itu balas tersenyum.


"Aku dan dia, mmm, maksudku aku dan Bian ...." Nita ragu-ragu mengatakannya.


"Kenapa dengan kalian? Apa dia membuat kamu terluka?" tanya Krisna. Namun, Nita langsung menyanggahnya.


"Aku dan dia sudah sering keluar, dan bahkan tadi pun dia bertandang. Aku tidak ingin kamu salahpaham dan menganggap aku tidak menghargai kamu sebagai saumiku. Aku merasa nyambung kalo dekat dia Kris, aku harap kamu tidak keberatan jika aku dekat dengan lelaki lain," ucap Nita panjang lebar. Krisna mengangguk.


"Iya, aku tidak keberatan Tata. Semoga hadirnya dia membuat kamu lebih bahagia." Krisna tidak merasa Keberatan. Setidaknya adanya lelaki itu bisa membuat Nita sedikit melupakan Krisna. Atau bahkan lelaki itu bisa membuat hati Nita berpaling.


'Yang pastinya kamu tidak akan melarang, toh, kamu tidak mencintaiku,' batin Nita.

__ADS_1


"Ah, iya, terima kasih ya, Kris," tandas Nita dengan senyumannya.


Nita pun mencuci dahulu piring kotor yang sempat ia pakai. Meskipun memiliki ART sesekali Nita akan membantu ART-nya itu. Krisna berjalan dan memberikan gelas kotor untuk Nita mencucinya.


"Kamu belum mengantuk, Ta?" tanya Krisna berbisik di telinga Nita.


"Apaan sih, Kris. Bisik-bisik gitu. Bikin orang geli," kata Nita sedikit mendorong Krisna untuk menjauh dari sisinya.


"Apakah tadi dia lama di sini? Aku belum melihatnya, apakah aku bisa bertemu dengannya?" tanya Krisna mengutarakan keinginannya. Nita mengerjap tidak percaya jika Krisna akan mengatakan itu.


Dia pun memandang Krisna dengan tidak percaya. Wajahnya terlihat heran, dahinya mengerut. Nita menggeleng dan akhirnya dia melanjutkan pekerjaannya mencuci piring.


Krisna yang melihat tingkah aneh istri pertamanya itu heran. Bahkan keduanya sama-sama tengah dirundung keheranan. Nita merasa dia salah dengar ketika Krisna melontarkannya.


"Kenapa tidak dijawab?" tanya Krisna lagi, dia tetap mencoba bertanya. Meskipun bingung mendera dirinya.


"Aku harus jawab apa? Kamu saja tidak bertanya," tandas Nita dengan terkekeh. Dia meletakkan piring dan gelas yang telah ia cuci.


"Barusan kamu mendengarku bukan? Aku ingin bertemu dengannya." Ulang Krisna lagi.


Nita lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya merasa apa yang dia dengar adalah halusinasinya saja. Tidak kunjung mendapat jawaban Krisna pun memegangi bahu Nita dan menghadapkan dia untuk saling berhadapan.


Nita yang merasa takut pun berjalan mundur. Dan Krisna berjalan mengiringi langkah Nita, hingga tubuh Nita menabrak dinding. Dia tidak bisa lagi menghindari.


"Kris lepas!" Seru Nita. Krisna pun melepaskan tangannya dan matanya mengerling, membuat Nita ketakutan.


"Kamu kok ganjen Kris." Nita terkekeh, "aku akan mempertemukan kalian. Tapi aku tidak mau kamu mengungkit masalah poligami antara kita!"


"Ok!"


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2