Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab51. Menemani Kakak Ipar.


__ADS_3

Bab51. Menemani Kakak Ipar.


***


Tazkia tampak berpikir ketika Ari menitipkannya pada seseorang. Dia tidak mengenalinya, sedangkan Nita tampak akrab padanya. Gadis itu tampak berpikir keras, menebak siapa lelaki itu. Tapi otak kecilnya sama sekali tidak bekerja. Dia tetap tidak mengenalnya.


"Oy, bodoh! Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya. Pantas saja aku tidak bisa mengingat siapa dia," gumam Kia, dia menepuk kepalanya sendiri. Namun, Ari melihat apa yang dilakukan Kia, lelaki itu mengelus kepala yang sempat gadis itu tepuk.


"Jangan terlalu berpikir, yang terpenting kamu sudah aman bersamanya," ucap Ari.


"Tapi kamu melakukan ini tanpa sepengetahuan mas Krisna kan? Jangan sampai kamu memberitahu dia, ini sebagai balasan karena dia telah membuat Kakak iparku terluka," ucap Kia. Ari menganggukan kepalanya. Sebagai penebus rasa bersalahnya karena dia selalu membela Krisna meski lelaki itu pun salah.


"Apa menurutmu aku pun tidak merasa bersalah karena tidak bisa menahan Tuan Krisna untuk menikah lagi. Anggap saja bantuan dariku sebegai penebus rasa bersalah. Dan aku yang telah tidak berperasaan selalu membela kakakmu." Tazkia berbalik untuk mereka saling berhadapan. Bisa-bisanya dia berkata demikian.


"Kurang aja*! Orang salah dibela," maki Kia, tangannya tidak berhenti memukul Ari.


Bian, Karina, dan Nita melihati keduanya yang seperti pasangan kekasih. Namun, dua orang itu belum menyadari jika semua mata mengamati mereka. Di saat pukulan Kia mulai berhenti dia baru menyadari semuanya. Dia tersipu malu, dan tersenyum kikuk.


Menoleh kearah Ari yang tampak santai, di mata Kia lelaki itu bahkan so cool malah merapikan jasnya. Sungguh tidak punya malu.


"Aku pamit pulang kalau begitu," ucap Ari, mereka semua mengantarkan Ari.


"Ok, Mas Ari. Urusan Mamaku kamu tidak perlu khawatir, aku sudah meminta izin padanya. Tolong jaga dia di saat aku jauh. Kalau Mas Krisna aku tidak mau mendengar kabar apapun tentangnya. Aku benci sama kaum lelaki," celetuk Kia. Sontak saja Ari dan Bian menatapnya dengan serius. Ketika Kia merasa dia salah berucap dia sudah melihat tatapan intens dari lelaki itu. Lagi-lagi Kia hanya bisa tersenyum kikuk.


"Sudah-sudah sekretaris Ari, bukankah kamu tahu kalau mulutnya begitu. Sudah pulang, nanti kemalaman pulangnya," titah Nita mendorong tubuh Ari untuk segera masuk kedalam mobilnya.


Namun, sebelum Ari pergi. Dia menatap Nita dengan tatapan bersalah.


"Maafkan saya Nona Nita, karena saya membuat anda kecewa," ucap Ari, Nita menertawakan ucapan Ari yang menurutnya konyol. Bahkan yang mengecewakan dirinya adalah Krisna lantas mengapa dia harus meminta maaf.

__ADS_1


"Untuk hal apa? Krisna yang menyakitiku bukan kamu!" Seloroh Nita.


"Tapi saya tidak pernah membela anda. Saya selalu membela Tuan Krisna. Saat Nona Riska pulang, saya--"


"Aku tahu kamu di marahi dia? Iya karena kamu menyembunyikan ini semua dari Mama 'kan? Ya, ingin sekali aku menertawakan kamu ketika di marahi, Mama. Secara Mama sudah menganggap kamu Kakak untuk Krisna," ucap Nita. Semakin membuat hati Ari bersalah.


"Sudahlah pulang,"


"Mbak Nita kenapa kamu b*doh sih, mau di duakan sama Mas Krisna. Aku tuh gak suka kalau dia menduakan kamu, meski dia kakakku aku tetap akan berpihak padamu, Mbak." Tazkia pun memeluk Nita. Sedangkan. Ari langsung mendekati Tazkia dan menyentil kening dia tanpa aba-aba membuat Tazkia meringis.


Dia cemburut mengadukan semuanya tentang penganiayaan Ari selama ini pada dirinya.


"Kamu tuh gak sopan, lulusan luar negeri tapi begini!" Kelakar Ari menasihati Kia. Namun, gadis itu perlahan mendekati Ari dan berbisik.


"Pulang gih, kamu sudah tidak di butuhkan," usir Kia matanya mengerling, begitu menjengkelkan.


"KIA!"


***


"Kia, kenalkan dia Karina, dan dia Bian," ucap Nita memperkenalkan mereka. Kia tampak berpikir. Membuat mereka menunggu apa yang akan di katakan Kia.


"Mbak makan malam belum beres, ya? Ayok kita masak," ajak Kia, dia nyelonong masuk kedalam menuju dapur.


Karina, Bian, dan Nita hanya bisa keheranan di luar sana. Hanya itu yang Kia lontarkan . Tetapi dia seolah memikirkan sesuatu yang serius.


"Kalian harus bisa memaklumi adik iparku, dia memang sedikit ceplas-ceplos. Tapi dia baik, percaya padaku. Dia orangnya asyik kalau sudah dekat. Menurutku dia seumuran sama kamu, Arin," ucap Nita. Dia pun meninggalkan Bian dan Karina di luar.


Bian menatap tajam kearah Karina. Beberapa saat tatapan mereka bertemu, hanya ada dendam dan kekecewaan yang terpancar di mata Bina. Membuat Karina semakin terluka. Dia belum bisa menerima bahwa kenyataan tidak sesuai yang mereka harapkan. Semua impian yang mereka bangun hancur seketika.

__ADS_1


"Aku mau kita seperti dulu, Yan, a--"


"Mimpi! Sampai saudaramu mendekam di penjara aku tidak akan memaafkan kamu!" Tunjuk Bian kearah wajah Karina.


Kia melihat mereka yang tengah berdebat. Ingin mencoba melerai tetapi dia tidak mempunyai hak, apalagi mereka tidak begitu dekat.


"Kalian bertengkar?" Bian langsung berbalik dan menatap kearah Kia dengan tersenyum. Tanpa mengatakan sepatah kata pun dia masuk kedalam.


"Masuk, yuk? Kamu jangan mau kalau di dua kayak Mbak Nita, jadi wanita jangan bodoh karena cinta, ok!" Baru saja satu langkah Kia sudah melihat Nita yang sedang mendengarkan dia mengatai dirinya.


Kia mengangkat kedua jarinya berbentuk V, sedangkan Nita mengelengkan kepalanya dengan tingkah adik iparnya.


Mereka menyantap makan malam bersama tanpa mengucapakan sepatah katapun. Hanya denting sendok dan garpu yang saling bersahutan terdengar. Setelah selesai menyantap makan malamnya Karina memberikan usul.


"Mbak, bagaimana kalau kita buka warung makan saja. Daripada hanya berdiam diri tanpa pekerjaan," usul Karina. Nita sesaat berpikir, memang benar juga. Dia harus mempunyai kesibukkan agar dia bisa melupakan kepahitan masalalunya.


"Kita kesampingkan dulu ya, masalah bisnis. Aku punya kabar buruk, dan aku pikir juga Mbak Nita harus tahu mengapa aku dan Mas Ari meminta dia untuk pindah dari rumah itu," ungkap Kia, gadis itu tampak di mode serius sekarang.


Bian, Karina, dan Nita mendengarkan dengan serius juga apalagi yang akan di katakan gadis itu. Sebenarnya mereka tidak ingin mendengarkan mengingat Tazkia tidak pernah serius dalam berbicara.


"Mbak Kasih, dia menyuruh orang untuk mencelakai kamu. Tapi aku tidak tahu pasti apa yang akan dia lakukan. Sebaiknya kamu harus lebih berhati-hati lagi, Mbak. Apalagi aku hanya beberapa hari di sini. Jika aku tidak pulang semua orang pasti merindukan aku," celoteh Kia.


"Dia pasti melakukan berbagai macam cara, supaya dia bisa menjadikan dirinya istri satu-satunya. Ka---"


"Cukup Bian!" Karina menggebrak meja, dan menarik tangan Bian untuk pergi. Kia pun tampak curiga dengan gelagat keduanya.


"Mereka itu sedang menyembunyikan apa sih, Mbak?" tanya Kia pada Nita. Namun, wanita itu hanya menggelengkan kepala.


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2