Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab64. Kenangan Indah Diakhir Cerita.


__ADS_3

Bab64. Kenangan Indah Diakhir Cerita.


***


Sudah satu Minggu berlalu Nita tinggal di rumah itu. Dia tidak pernah berbicara sepatah kata pun pada Krisna. Sikapnya tetap dingin seolah dia tidak ingin melihatnya lagi. Dia masih menunggu waktu yang tepat agar membicarakan semuanya.


Sebelum jam makan malam datang Nita berbicara dengan Bian di seberang telepon sana.


["Rasanya aku sudah lelah harus berpura-pura terus, Yan,"] keluh Nita, dia menghela napas panjang.


["Lalu kenapa tidak berterus terang saja,"] saran Bina.


["Aku hanya ingin memberikan kenangan indah diakhir cerita saja, Yan. Membiarkan dia merasa aku akan memberinya kesempatan. Nyatanya aku sama sekali tidak akan melakukan. Bodoh sekali diriku ini jika masih mau menerimanya. Aku kembali juga karena memang rumah ini sudah milikku,"]


["Jika masih cinta, tidak masalah jika ingin bersama lagi. Toh, dia juga sudah menurunkan martabatnya untuk mengejarmu Mbak,"]


["Aku akan membuat dia membayar atas rasa sakit ini, Yan. Kamu tidak perlu mengomporiku untuk menjadi wanita bodoh lagi seperti dulu. Cukup dulu saja aku ini terlihat menyedihkan. Sekarang aku ingin bermain-main dulu sebelum menendangnya. Sebenarnya kamu dimana? Bisakah aku mengunjungi kamu?"]


["Terserahmu Mbak, apapun yang kamu lakukan, aku yakin semuanya sudah kamu pertimbangkan. Suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Semoga kamu sudah janda,"] goda Bian, Nita terkekeh mendengar ucapan lelaki itu.


["Aku sudah tua, kamu cocoknya dengan Kar--"]


"Mbak Nita!" Ketukan dari luar membuat Nita langsung mematikan telepon dengan cepat. Semoga saja Karina tidak curiga padanya.


Nita keluar memberikan senyuman manisnya. Dia berusaha bersikap santai takut jika Karina mengetahuinya. Bian sudah berpesan jika dia tidak ingin Karina tahu jika Bian dan Nita masih saling berkomunikasi.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang makan. Di sana Krisna sudah menatap kearah Nita dengan penuh rasa suka. Tetapi Nita tak acuh pada lelaki itu. Bahkan di saat Nita akan duduk Krisna menggeser kursi itu agar Nita mendudukinya.


"Jangan banyak berharap, nanti pas jatuh sakit!" Kelakar Kia, Krisna menatap tak suka kearah adiknya itu.

__ADS_1


"Kia!!" Riska memelototi anak gadisnya. Sedangkan Karina dia sibuk memberikan SUFOR untuk keponakannya.


Selama satu Minggu itu pula Nita tidak ingin melihat anak Kasih. Dia tidak sedikit pun merasa tersentuh ketika anak bayi itu menangis. Dia masih ingat saat perlakuan Kasih padanya. Semena-mena karena Krisna selalu memanjakannya.


Setelah makan malam selesai tertinggal Nita, Krisna dan Riska.


"Kris," panggil Nita, yang dipanggil begitu antusias menatap dengan penuh semangat akan apa yang di katakan Nita.


"Maaf aku ingin kamu secepatnya pindah dari rumah ini. Aku rasa kita tidak perlu satu rumah lagi. Bawalah anakmu juga," pinta Nita, senyum yang tadi merekah kini memudar.


"Tidakkah kamu memberiku kesempatan Ta? Aku tidak akan mengulang lagi kesalahan waktu itu. Aku ingin kita memulai semuanya dari awal, dan membesarkan anak itu," pinta Krisna dengan memelas. Nita mengembuskan napas kasar.


Segampang itu dia berbicara seolah apa yang dilakukannya di masa dulu tidaklah fatal. Hatinya sudah dia lukai. Namun, sebersit diingatannya kembali teringat. Saat dia diberi kejutan untuk pergi dari rumah itu dengan paksa. Sepertinya Nita ingin juga memberikan kejutan yang sama sekarang untuk memberi Krisna pelajaran. Sakit yang telah dia terima waktu dulu belum lah sembuh.


"Sepertinya Mama tidak akan ikut campur. Kalian selesaikan saja masalah kalian," pamit Riska, dia tidak akan memaksa Nita untuk bertahan. Dia cukuplah malu dengan menantunya itu tentang perilaku Krisna yang sudah semena-mena padanya.


"Kesempatan untuk apa?" tanya Nita menatap dingin kearah Krisna.


"Mm, untuk bersama jika kamu memberiku kesempatan,"


Namun, Nita tidak menjawabnya dia langsung pergi dan meninggalkan Krisna. Lelaki itu mengacak rambutnya frustrasi merasa malu karena tidak di respon positif.


Harus bagaimana lagi supaya Nita bisa memberinya kesempatan. Dia sudah berusaha tetapi usahanya sungguhlah sia-sia.


***


Malam ini begitu bising di rumah Nita. Ya, anak itu tidak kunjung berhenti menangis membuat Nita terpaksa terbangun. Penghuni rumah sudah kalang kabut dibuatnya. Bahkan Ana dan Riska yang sudah berpengalaman pun tidak bisa menenangkan anak itu.


Krisna pun tak kalah kusut karena anaknya tidak kunjung terdiam. Nita melihati mereka yang tengah cemas. Dia mencoba untuk mendekat tetapi rasanya berat. Baru saja dia akan melangkahkan kakinya untuk mendekat Karina datang memberikannya SUFOR. Anak bayi itu langsung terdiam Nita pun tidak jadi untuk mendekatinya. Namun, setelah sufor itu habis anak itu kembali menangis.

__ADS_1


"Sini Tuan, biar sama saya," pinta Karina. Namun, Krisna seolah enggan untuk memberikan anaknya pada Karina. Meski mereka terikat saudara, tetapi Krisna tidak ingin anaknya di rawat Karina.


Dia hanya takut jika sifat keduanya sama. Padahal jelas mereka berbeda. Riska yang melihat sikap tidak sukanya terhadap Karina langsung menyuruh Ana untuk membangunkan Tazkia.


"Mbak Ana coba bangunkan Kia," titah Riska, bukannya terbangun gadis itu malah semakin mendengkur. Ana langsung kekamar Krisna lagi dan mengatakan jika Kia tidak juga terbangun.


Riska sudah bingung harus bagaimana lagi, sebab anak itu akan begitu nyaman ketika di gendong Kia. Tetapi gadis itu sungguhlah tidak bisa diandalkan. Sedangkan Riska yang hatinya gelisah tidak bisa membuat anak itu nyaman.


Nita melihat bagaimana sikap tidak sukanya Krisna terhadap Karina. Wanita itu hanya menatap dingin dengan tangan dia lipat di dada. Dia memikirkan jika dia bisa melahirkan anaknya yang belum sempat ia lahirkan kedunia. Dia lalu menurunkan tangannya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Meski rasa benci terhadap anak itu, nyatanya nuraninya masih ada. Nita perlahan mendekat dan mulai meminta anak itu dari gendongan Krisna. Bayi itu langsung merasa nyaman berada dalam pelukan Nita.


"Ta, kamu ...."


"Aku akan menenangkan dia. Kamu pergi lah kekamarmu Kris," titah Nita, lelaki itu menurut dan meninggalkan anaknya di gendong Nita.


"Nona Nita anda tidak---"


"Tidak Arin, biarkan saja dia saya gendong," potong Nita.


Riska memandang haru menantunya itu, dia berharap Nita bisa melupakan rasa sakitnya tentang apa yang telah Krisna lakukan. Dia berharap juga Nita mau mengasuh cucunya itu seperti anaknya sendiri. Tetapi dia tidak bisa mengungkapkan hanya bisa bergumam di dalam hatinya.


"Ta, andai kamu bisa menjadi ibu sambungnya, mama bahagia, karena mama tidak percaya jika Krisna menikah lagi mendapatkan wanita sebaik dirimu,"


"Jalani saja, biarkan seperti air yang mengalir Ma, aku tidak bisa mengatakan jika aku mau menerimamya lagi atau tidak. Kesakitan yang aku terima tidaklah sedikit."


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2