Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab147. Kejutan (2)


__ADS_3

Nita memandang penuh takjub rumah yang tengah mereka singgahi. Begitu luas dan juga mewah. Indra turun dari mobil dan memutari kendaraannya untuk membukakan pintu untuk istrinya tercinta. Nita tidak langsung keluar dia memandangi pupil mata suaminya dengan tatapan haru.


Rumah Impian yang dia harapkan dulu hanya sederhana dan penuh kehangatan dari lelaki yang mencintainya. Tidak sangka jika buah kesabarannya selama beberapa tahun membuahkan hasil yang luar biasa. Dia dipertemukan dengan orang yang tepat yang bisa mencintainya apa adanya. Meski dirinya berstatus janda.


Orang tua Indra pun merestui meski mereka tidak datang di acara resepsi. Begitu bahagianya Nita saat ini berdiri di hadapan Indra. Wanita itu perlahan menjuntai kan kakinya untuk turun lalu memeluk Indra dengan erat.


Ada cairan bening yang mengalir di kedua pupil matanya. Sebuah rasa bahagia yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


"Hey, kenapa?" tanya Indra keheranan melihat tingkah istrinya. Dia pun membelai punggung sang istri dengan lembut. Indra juga membalas pelukan dari istrinya.


Nita tidak menjawab dia masih merasai dalam pelukan suaminya. Hangat dan juga menenangkan pikirannya.


"Kamu menangis, sayang?" pertanyaan kembali terlontar ketika Indra tidak mendengar jawaban. Dia merasakan jika bahu Nita bergetar. Perlahan Indra melepaskan pelukannya lalu memegang bahu istrinya.


"Kau menangis? Siapa yang membuatmu terluka?" Indra menghapus sisa air mata yang sempat terjatuh di kedua pipi istrinya. Nita tertawa hambar, lalu semakin kencang menangis.


Indra kalang kabut sendiri melihat istrinya yang menangis, apakah dia telah menyakiti istrinya hingga membuat Nita menangis seperti ini? Nita berusaha untuk menjawab, tetapi suaranya seolah tercekat tidak sanggup berucap dia menggelengkan kepalanya berulang-ulang menatap suaminya dengan sendu.


Lelaki itu menangkup wajah istrinya dengan sayang dan menatap kedua matanya dengan heran.


"Aku menyakitimu?" tidak bosan-bosan Indra melayangkan pertanyaan. Tetapi yang di tanya bungkam tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Apa karena saat kamu sedang menelepon dengan karyawanmu? Ah, benar pasti karena masalah itu." Indra memapah istrinya agar masuk kedalam mobilnya. Dia juga memutari mobil dan menghidupkannya untuk memutar balik. Namun, Nita mencekal tangan suaminya tatapannya seolah memohon agar suaminya tidak pergi.


"A-aku," isak tangis masih terdengar. Indra mematikan mesin mobilnya dan memegangi kedua tangan istrinya itu dengan lembut.


"Aku terlalu bahagia, rumah impian yang aku harapkan bisa menjadi kenyataan," ucap Nita dengan satu tarikan napas. Dia tidak ingin membuat suaminya salah paham padanya.


Indra memegangi tengkuk leher istrinya dan mencium kening istrinya dengan sayang. Dia bernapas lega.

__ADS_1


"Sudah merasa baikan?"


"Dari tadi aku baik, hanya karena terlalu terharu aku jadi begini. Maafkan aku, aku cengeng." Nita. Menghapus dengan kasar sisa air matanya yang berada di pipinya.


"Tidak cengeng juga, mungkin kamu terlalu bersyukur karena mendapatkan ini semua. Aku rasa ini pantas untuk kamu dapatkan mengingat kamu adalah wanita kuat, baik, yang pernah aku temui," terang Indra memuji istrinya.


"Kamu lucu sekali menangis seperti itu. Aku berhasil membuat kamu bahagia sampai menangis terharu." Cup Indra mengecup tangan istrinya.


"Sekarang kita masuk, ok!" Nita menganggukan kepalanya.


***


Tiba di pintu utama rumah Indra, penyambutan yang tidak biasa Nita dapatkan. Beberapa pelayan membungkuk padanya dan Indra. Nita merasa kikuk sendiri melihat mereka yang sebagian lebih tua darinya.


"Apa ini tidak berlebihan?" tanya Nita berbisik pada suaminya dan memepet tubuh suaminya.


"Tidak juga, apanya yang berlebihan itu sudah tugas mereka,"


"Kata siapa aku tidak nyaman di sana? Aku akan nyaman di manapun selama kamu berada disampingku." Indra merengkuh pinggang istrinya dan mendekatkan wajahnya kearah Nita.


Kepala Nita bergerak kesana kemari takut jika pelayan datang dengan keadaan mereka yang seperti itu. Seolah tahu akan apa yang ada di pikiran Nita, Indra pun berbisik di telinga istrinya.


"Mereka tidak akan mengganggu,"


"Mengganggu? Apa maksudmu?"


"Menurutmu apa yang akan aku lakukan saat sepasang suami istri tengah intim seperti ini?" Indra balik bertanya. Nita seketika tercekat, sekadar menelan ludah saja begitu susah. Apakah Indra akan melakukannya di tempat terbuka seperti ini?


"Jangan sampai dia melakukan di sini," batin Nita.

__ADS_1


Indra menggendong istrinya untuk dibawa ke lantai atas. Para pelayan membungkuk melihat tuannya yang tengah bermesraan. Sedangkan Nita sudah dibuat malu, dia membenamkan wajahnya di dada bidang Indra.


Setelah sampai di tempat tujuan Indra menurunkan Nita. Dia menutup kedua mata istrinya dan menyuruhnya masuk sesuai instruksi Indra.


Tiba di balkon Indra perlahan menurunkan tangannya. Nita kembali dibuat terharu dengan penyambutan sederhana ini. Lilin yang dipasang sepanjang perjalanan menuju balkon dan juga menghiasi meja. Tidak lupa Indra memberikan sebuah kado yang berbentuk kotak merah berbalut beledru.


"Aku ingin kamu hidup bersamaku sampai kita menua nanti. Tidak peduli dengan status jandamu, aku akan tetap mencintaimu dengan tulus. Terimalah cincin ini." Indra mengatakannya sembari dia berjongkok membuka kotak kecil itu.


Nita membisu beberapa saat hingga akhirnya kesadarannya telah kembali. Dia mengulurkan tangannya untuk Indra sematkan cincin itu di jari manisnya.


Indra bernapas lega. Ternyata saran dari Kia sungguh berguna dan berjalan dengan sesuai harapan. Meski wanita itu bagian dari masa lalunya dia tetap menganggapnya adik kecilnya.


Indra mendekati Nita dan memeluknya sesaat. Lalu dia menyeret kursi untuk Nita duduki. Setelah Nita duduk, Indra mendudukkan bokongnya di kursi berhadapan dengan Nita.


Namun, Nita hanya menatap makanan yang terhidang. "Apa bukan seleramu? Biar aku ganti kamu ingin apa biar aku meminta pelayan untuk memasakkan makanan baru untukmu," ucap Indra, Nita menatap kearah Indra dengan tatapan sendu.


Hatinya merasa tertusuk belati ketika mengingat masa lalunya. Kejutan ini mengingatkan dirinya di masa lalu saat Krisna memberikan kejutan untuk meminta izin menikah lagi.


Indra menggeser kursinya untuk berdiri, tetapi Nita langsung mencegah suaminya pergi.


"Aku suka, hanya saja. Kejutannya hampir sama. Namun, banyak perbedaannya," ungkap Nita dengan menunduk. Ada kesedihan yang teramat mendalam di setiap gerak-gerik istrinya. Indra mengepalkan kuat-kuat tangannya mengingat Krisna yang telah menghancurkan hati istrinya hingga trauma seperti ini.


"Ayok, makan. Aku sudah tidak sabar mencicipi makanan enak ini." Senyuman ceria terukir di bibir istrinya yang manis itu. Indra kembali mendudukkna bokongnya di kursi.


Indra mengulurkan sepotong steak untuk Nita cicipi. Nita tersenyum dan memakannya dengan suka rela.


"Kok lebih nikmat saat kamu suapi," ucap Nita terkekeh. Indra tersenyum.


"Kalau begitu setiap hari aku akan menyuapimu."

__ADS_1


***


__ADS_2