
Bab42. Terpuruk.
***
Di bawah guyuran air shower Nita mengosok tubuhnya yang telah di sentuh Krisna. Seharusnya dia bisa bahagia jika Krisna melakukannya dia benar-benar sudah mulai mencintainya. Namun, untuk keadaan seperti ini, apakah dia harus bahagia?
Tekadnya sudah bulat untuk meninggalkan Krisna. Tidak ada alasan lagi untuk dirinya bertahan. Secara tidak langsung dia diusir oleh Krisna. Mengasingkannya ketempat yang sama sekali tidak dia harapkan.
Hatinya sudah mati, cinta untuk Krisna kini hanya menjadi kenangan. Hal bodoh yang telah membuat Nita membuang waktunya cukup lama.
"Aku membencimu, Kris!" Teriak Nita.
Merasa sudah baikan dia keluar dari kamar mandi. Nita melihat ponselnya yang berdering. Tetapi dia enggan untuk menatap ponsel itu, dia tahu pasti Krisna yang menghubunginya. Namun, hati kecilnya tetap ingin menyentuh ponsel itu.
Bian, lelaki itu yang menghubungi Nita. Tidak ada satupun notifikasi dari Krisna. Senyum Nita merekah ketika dia mengetahui jika Bian yang menghubunginya.
["Kamu baik-baik saja?"] Tanya Bian diseberang sana. Membuat Nita merasa terharu, ternyata masih ada orang yang mengkhawatirkan dirinya.
["Aku, baik, Yan,"] jawab Nita dengan suara bergetar. Bian dapat merasakan jika Nita tengah dalam keadaan yang tidak baik.
["Jangan membohongiku, aku tahu meski tidak melihatmu. Siapa yang menyakitimu, Mbak? Jangan bilang suamimu lagi,"] tebak Bian. Nita semakin terisak.
["Aku akan kerumahmu! Aku kan membawamu pergi. Kamu seharusnya pergi dari dulu, Mbak. Jangan menyiksa hatimu seorang diri seperti itu,"] oceh Bian. Bukannya menenangkan lelaki itu malah memarahi Nita.
["Aku di usir dari rumah. Aku sedang di hotel sekarang Yan,"]
["Kirimkan alamatnya. Aku akan kesana,"]
***
Bian dan Nita kini tengah berjalan-jalan di area hotel. Meski Nita tengah bersedih, dia tetap menampilkan keceriaan di hadapan Bian. Dia tidak ingin membebani masalahnya pada orang lain.
__ADS_1
Bian memegangi tangan Nita. Nita membiarkan lelaki itu memegang tangannya. Tidak ada penolakan, membuat lelaki itu lebih berani mengecup punggung Nita layaknya seorang kekasih. Nita terkekeh dengan apa yang dilakukan Bian.
"Hey, apa-apaan. Sedang latihan lagi?" tanya Nita. Lelaki itu menggaruk tengkuk lehernya merasa malu.
"Aku hanya ingin menenangkan kamu, itu saja. Tapi aku bingung harus bagaimana," timpal Bian di iringi dengan tepukan kecil oleh Nita.
"Tidak perlu apa-apa. Hadirnya kamu sudah membuatku bahagia," ungkap Nita membuat Bian tergelak.
"Jika aku lebih dulu mengenalmu, aku akan menjadikan kamu ratu dalam hidupku. Aku tidak akan pernah menyakitimu, aku akan selalu membuat kamu tersenyum, bahkan air mata yang sempat terjatuh di masalalu tidak akan bertambah lagi," ucap Bian. Nita tersenyum simpul. Andai harapan lelaki itu kenyataan. Mungkin dia tidak akan di titik terendah ini. Mencintai tetapi tidak dihargai.
"Kamu bisa dewasa juga," ledek Nita.
"Usiamu masih 26 ya, di usia berapa target kamu menikah?" tanya Nita penasaran.
"Mmm, aku ya?! Sepertinya menunggu kamu sampai janda!' kelakar Bian membuat Nita membuang muka ingin tertawa. Keduanya tergelak bersama ketika lontaran Bian merasa konyol.
Dari kejauhan seseorang tengah mengamati kedekatan mereka. Hatinya sudah panas dingin melihat kedekatan mereka. Dia sudah tidak sabar ingin menjambak wanita itu. Ternyata peringatannya tempo dulu tidak di hiraukan.
"Siapa sebenarnya dia Bian! Kamu selingkuh dengan dia dibelakangku. Kamu pamit padaku untuk mencari makanan. Tapi nyatanya apa! kamu malah berkencan dengan dia!" Tunjuk Karina kearah Nita. Dia kini menatap Nita dengan tatapan menusuk.
"Kamu salah paham. Aku kan sudah bilang ka---" ucapan Bian terpotong ketika Karina menampar pipi Nita.
Nita terhuyung karena tamparan itu cukup kuat. Bian langsung membantu Nita dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan Karina terhadap Nita. Bian menggelengkan kepalanya merasa kecewa.
"Kamu salah, saya dan dia tidak ada hubungan selain dia menganggap saya kakaknya. Saya juga sudah bersuami, untuk apa menggoda pacarmu!" Tegas Nita dia merasa tidak terima. Namun, Nita menoleh kearah Bian. Semua mungkin karena salahnya telah membuat kacau hubungan Bian dengan dia.
Nita tidak mengetahui jika mereka mempunyai janji temu. Dan entah mengapa Bian dapat mengetahui jika dirinya sedang dilanda kesedihan.
"Maaf jika saya membuat kalian bertengkar," ucap Nita pada Karina.
Karina memandang Nita dengan tatapan bersalah. Tetapi tidak sepatah katapun yang terlontar dari mulutnya. Mungkin gadis itu merasa gengsi untuk mengakuinya.
__ADS_1
Bian menarik kasar tangan Karina. Dia akan membawa Karina pergi. Dia malu pada Nita, karena wanita itu membuatnya merasa tidak mempunyai wajah dihadapan Nita.
"Ikut aku!" Bian menyeret Karina. Wanita itu bahkan meringis karena kuatnya cengkraman Bian.
"Bian lepas, kamu menyakiti aku,"
"Bian! Sudah-sudah. Aku sudah memaafkannya. Harusnya kamu juga berkata jujur pada kekasihmu agar tidak ada kesalah pahaman lagi," ucap Nita berusaha menenangkan Nita.
"Maaf Mbak, ini urusan aku dan dia. Kamu tidak tahu apa-apa di antara kami," tegas Bian.
"Berhentilah untuk tetap bersabar ketika di sakiti Mbak. Orang yang kamu lindungi belum tentu melakukan hal yang sama!" Bian memilih pergi meninggalkan Nita yang masih berusaha memohon pada Bian agar tidak menyakitinya. Namun, hati Bian seolah terlalu kecewa. Dia tidak mendengarkan ucapan Nita kali ini.
***
Lengkap sekali kesedihannya saat ini. Baru saja dia merasa bahagia karena Bian menghiburnya. Tapi Karina datang menamparnya seolah dia melakukan kesalahan. Padahal ini hanya salahpahaman. Nita duduk di tanah dengan memeluk lututnya begitu menyedihkan.
Tanpa Nita sadari ada seseorang yang mengenalinya. Ari, lelaki itu tidak sengaja melihat majikannya yang tengah bersedih di taman.
Ari berusaha menelepon Krisna untuk memberitahunya agar dia cepat datang. Dia yakin jika dia memintanya untuk masuk kedalam hotel Nita pasti akan menolaknya. Namun, Krisna belum juga mengangkatnya. Lelaki itu mendesah frustrasi, di saat genting seperti ini Krisna tidak bisa diandalkan. Tetapi jika dia menggendong Nita agar dia pulang kekamarnya pasti Krisna akan murka.
Ari terus mengamati, dia takut jika dia kehilangan jejak Nita. Dia khawatir jika sesuatu hal terjadi pada wanita itu. Setelah hampir satu jam menunggu akhirnya Krisna datang. Dia langsung menuju tempat dimana Nita berada.
Krisna memegangi pundak Nita, wanita itu menengadah. Melihat orang yang tengah berada dibelakangnya. Dia terperanjat ketika Krisna berada di sana.
"Pergi!" Ketus Nita. Namun, Krisna tidak menghiraukan penolakan istrinya yang begitu murka terhadap dirinya.
Krisna langsung menggendong Nita, meski wanita itu memberontak dan menggigit bahunya. Dia tetap melakukannya.
"Diam, Ta. Kamu seperti anak kecil yang tidak ingin diajak pulang,"
***
__ADS_1
Bersambung ...