
Bab60. Salahpaham.
***
Sepulang dari pasar wajah Ari tampak di tekuk. Lelaki itu berpikir keras tentang seseorang yang telah membuntuti Nita. Tetapi dia sudah mencari pun tidak ada kecurigaan selain pembeli dan penjual yang sedang bertransaksi. Lalu kemana orang itu pergi, mengapa dia bisa kehilangan jejaknya.
Krisna mengamati tingkah sekretarisnya itu. Dia pun mendekati Ari dan memegangi bahu lelaki itu. Ari mendongak lalu berdiri menganggukan kepalanya memberikan hormat pada Krisna.
"Ada apa? Apakah ada sesuatu yang membuatmu gelisah?" tanya Krisna. Ari tampak ragu-ragu mengatakannya. Namun, belum juga menjawab ponsel Ari berdering.
Nona Kia, sekilas Krisna membaca di layar ponsel Ari.
"Angkat saja, kamu boleh pergi," titah Krisna. Gegas Ari meninggalkan Krisna dan mengangkatnya..
["Ya, Nona Kia, kenapa?"] Tanya Ari.
["Gak usah sok manis ya, kenapa kamu tidak mengabari aku, Mas. Bagaimana dengan hubungan mas Krisna dan kakak iparku. Sudahkah mereka satu kamar?"] Cerca Kia. Ari menghela napas dalam-dalam.
["Masih kecil sudah Omes! Tidak ada pergerakan sama sekali. Nona Nita belum juga ingin menemui Tuan,"]
["Oalah, mantap. Rasain memang enak. Karma tuh, makanya jadi lelaki jangan sok pura-pura gak butuh. Memangnya dia kira lelaki bukan dia saja, huh!"] Seru Kia.
["Berhentilah untuk mengomentari kami kaum lelaki. Tidak semua lelaki seperti itu,"]
["Semua lelaki sama saja! Buktinya Mas Ari tidak pernah menepati janji. Kan aku juga mau makan malam. Tapi tidak pernah diiyakan,"]
["Iya, nanti!"]
["Tapi menurutmu apakah Mbak Nita akan menemui mas Krisna,"]
__ADS_1
["Mungkin samentara belum, entah jika besok atau lusa. Tetapi kami tidak punya banyak waktu lagi."]
["Kayaknya gak usah ketemu deh, aku tuh gak setuju!"] Kelakar Kia, membuat Ari sementara menjauhkan ponselnya dari telinga, sungguh memekakkan.
["Gak usah so cool, meskipun perempuan sangat mencintai dia tidak akan terus mengejar kalian wahai kaum lelaki. Wanita tidak semuanya sama! Gak murahan kayak yang udah meninggal! Heh, Mas Ari, kenapa kamu jadi membahas dia. Jangan bawa-bawa yang sudah meninggal, Hoy!] Kelakar Kia, Ari hanya menjadi pendengar tanpa berniat untuk menjawabnya. Bagi dia sudah terbiasa menghadapi kerempongan gadis bar-bar itu.
["Kamu bisa berbicara dengannya jika masih kesal pada dia. Coba kamu datangi keburannya dan marahi dia!"] Telepon pun dimatikan. Kia di sana menggerutu karena belum tuntas untuk meluapkan emosinya. Sedangkan Ari hanya menggeleng tidak mengerti dengan jalan pikiran adik bosnya itu. Tidak pernah dalam mode serius jika tengah mengatakan sesuatu.
***
Keesokan harinya Krisna sudah mendapat pesan tidak mengenakan dari seseorang. Nita, ya wanita itu memberinya sebuah pesan, bahkan terlihat seperti ancaman.
["Saya tidak suka diikuti, Kris. Jika kamu melakukan ini dan membuat saya tidak nyaman. Akan kupastikan kamu tidak akan pernah bertemu dengan saya lagi,]
Krisna mengerjapkan matanya tidak percaya dengan isi pesan bernada ancaman itu. Apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu. Padahal dia tidak melakukan hal yang di luar nalar. Lalu apa yang salah, dia hanya mengamati mereka dari kejauhan. Bahkan Krisna belum juga bertemu Nita. Mengingat sikap wanita itu kini sudah berubah.
Ari pun akhirnya membuka suara, jika ada seseorang yang telah membuntuti Nita.
"Kenapa kamu tidak memberitahu saya!" Tanpa berpikir banyak Krisna langsung menuju rumah Nita.
Dia ingin Nita tahu bahwa dirinya tidak sama sekali mengikuti dia. Seperti biasa Krisna mengetuk pintu. Namun, dia hanya akan berakhir dengan tangan kosong. Dia tidak kunjung keluar rumah untuk menemuinya. Sekeras itukah hati Nita hingga membuat dia enggan bertemu.
Apakah kesalahannya tidak layak mendapat maaf dan kesempatan kedua?
Krisna bersembunyi di pinggir rumah, dia tidak ingin seperti ini terus. Dia harus bertemu dengannya. Nita keluar, Krisna pun akan menghampirinya. Belum saja melangkah seseorang berkata.
"Nona Nita, sampai kapan kalian akan seperti ini? Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah," ucap Karina.
"Lalu aku harus apa? Memaafkannya begitu saja! Sampai mati sekalipun tidak akan memaafkannya!!" Seru Nita. Wanita itu tetap pada pendiriannya. Akan tetap seperti ini dan tidak akan merubahnya.
__ADS_1
Krisna merasa tubuhnya bagai di tusuk pedang tajam. Sakit rasanya mendapat kebencian dari orang yang telah dia cintai. Krisna bertekad apapun yang dilakukan Nita dia akan menerimanya. Krisna ingin hubungan mereka seperti dulu. Baru saja satu langkah dari tempat persembunyiannya Karina berucap lagi.
"Apa karena kamu keguguran Nona Nita, jadi tidak bisa memaafkannya?" Tanya Karina, Nita bergeming. Dia menatap kosong kearah depan.
"Ini sudah takdir, Nona. Seperti apa yang telah saya katakan. Bahwa dia mungkin memang di takdir kan hanya untuk beberapa saat di dalam rahim anda," ucap Karina lagi, membuat Nita merasakan kehilangan lagi. Sesakit ini kehilangan buah hati? Jika dapat menukar kehidupan dia lebih baik tidak akan ingin bertemu lagi dengan Krisna tetapi anaknya hidup kembali.
"Jika dapat memilih aku akan lebih memilih bayiku lahir, aku tidak perduli jika pun aku selamanya tidak bertemu dengan Krisna. Dia terlalu melukai perasaan ku. Hingga membuat janinku meninggal! Apa kamu kira hukuman ini pantas untuknya. Dia harus lebih sakit lebih dari apa yang aku rasakan!" Penuh kebencian, ya, kebencian yang kini bersarang dalam hati Nita.
Tidak kuat lagi menahan perkataan itu, Krisna akhirnya memanggil Nita.
"Ta." Keduanya menoleh kearah sumber suara. Nita sama sekali melihat datar kearah Krisna. Sedangkan Karina begitu terkejut, hingga membuatnya membekap mulutnya sendiri, karena menganga.
Krisna perlahan mendekati Nita, sedangkan Karina yang ingin memberikan waktu untuk keduanya berbincang pun, perlahan mulai mundur, dan memasuki rumahnya.
Tatapan Nita masih datar, dia tidak memperlihatkan bahwa dia senang bertemu dengan lelaki itu. Tetapi tidak dengan Krisna. Lelaki itu begitu terharu bisa menyapanya seperti ini. Meski sikap Nita begitu dingin.
"Apa kabar?" tanya Krisna. Dia mengembuskan napas dalam-dalam. Begitu berbunga-bunganya hati Krisna bisa melihat wajah Nita lagi. Hingga dia melupakan perbincangan mereka perihal keguguran.
"Aku harap kamu baik," ucap Krisna ketika Nita tidak kunjung menjawab pertanyaannya lagi.
"Apakah kamu tidak ingin melihat wajahku Ta, tidakkah kamu ingin pulang denganku." Nita masih bergeming, dia bahkan tidak mengindahkan lontaran Krisna. Jika dulu dia ingin Krisna tetap bersamanya. Tetapi sekarang bertemu dengannya saja sungguh membuatnya tidak berselera.
Muak dengan lontaran Krisna yang membuatnya semakin sakit. Nita pun memutar tubuh untuk masuk kedalam rumahnya. Tetapi Krisna tidak kalah cepat, dia langsung mencekal tangan Nita.
"Lepas! Saya tidak punya waktu untuk bertemu dengan orang yang telah membuat hidup saya hancur." Nita melepaskan tautan tangan Krisna begitu kasar. Sedangkan Krisna menatap nanar tangan yang dulu selalu merangkulnya dengan hangat.
***
Bersambung...
__ADS_1