Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab126. Pulang Bersama


__ADS_3

Pagi ini Nita melihat Indra yang sudah bersiap untuk pulang. Ternyata lelaki itu benar-benar akan pergi. Namun, itu lebih baik agar Nita bisa lebih tenang tanpa gangguan.


Indra memandangi Nita yang tidak kunjung mendekat untuk mengantarnya pulang atau bahkan hanya sekadar untuk mengucapkan selamat tinggal.


Harapan lelaki itu terlalu tinggi hingga membuatnya menginginkan Nita untuk memberikan salam perpisahan. Tidak tahan hanya saling memandang dari kejauhan akhirnya Indra mengalah dia mendekati Nita.


Nita mengernyit saat lelaki itu berlari kearahnya. "Jangan bilang dia akan memelukku seperti di drakor-drakor," gumam Nita. Namun, saat berada di hadapan Nita, Indra berjongkok lebih dulu untuk menetralkan napasnya.


"Oh, khayalanku terlalu bod*h," batin Nita.


Lalu dia mendongak memandang Nita dengan tersenyum. "Tidak inginkah kamu mengucapakan kata-kata perpisahan, selain hanya memandangku dari kejauhan?" Tanya Indra.


"Pulang ya, pulang saja," sahut Nita dengan nada tak acuh.


Sedangkan Indra tengah memutar otak untuk menjadi lelaki yang tidak tahu malu jika di hadapan Nita, sebab dia akan kehilangan moment bersama dengannya Jiak tidak melakukan hal itu.


Pantas saja Krisna selalu mengejar Nita, dia pun sama halnya dengan lelaki itu. Semakin merasa tertantang untuk mengejarnya dan juga ingin memilikinya.


"Yakin tidak akan merasa kehilangan saya Nona Nita?" racaunya lagi, membuat Nita memutar bola mata jengah.


"Jika kamu tidak peduli mengapa kamu keluar rumah dan melihatku pergi? bukankah kamu merasa kehilangan aku saat aku akan pulang. Bagaimana kalau aku tidak jadi pulang sekarang, aku akan menemanimu sampai kamu tertidur." Nita menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan jalan pikiran Indra.


"Berhenti berbicara omong kosong! memangnya hanya melihat menandakan aku mencintaimu? pemikiran macam apa itu!" sanggah Nita.


''Benarkan kamu sengaja kelaur untuk melihatku, tidak usah gengsi aku tidak keberatan. Mari antarkan aku." Indra menarik tangan Nita, wanita itu tidak menolak dan menurut.


Indra tersenyum samar, sebelum pergi dia lebih dulu berpamitan pada keluarga Andi. Setelah beberapa menit menempuh perjalan untuk menuju mobilnya Indra pun membukakan pintu Nita.


"Aku belum ingin pulang!" protes Nita. Indra memutari mobil dan membuka pintu mobil untuk masuk di kursi kemudi.


"Ikuti saja aku, sebelum pulang kita akan berjalan-jalan lebih dulu. Anggap kencan pertama kita."

__ADS_1


"Hey, no! tidak akan ada kencan diantara kita, ok, Tuan Indra yang terhormat. Jika anda menganggapnya begitu, tidak usah pergi saja," ancam Nita.


Tetapi sebelum mereka pergi jauh, ponsel Indra berdering. Dahi lelaki itu mengekrut berulang kali, dan mengembuskan napas kasarnya. Entah apa yang membuatnya merasa cemas seperti itu.


"Dengan berat hati aku tidak bisa mengajakmu hari ini Nona Nita, ternyata pernikahan kami akan diadakan minggu depan. Calon pengantin wanitaku ingin secepatnya mengelar pernikahan itu," terang Indra, hati Nita menciut bagai kerupuk yang di siram air.


Nyalinya yang semula menggebu, seketika padam saat mengatakn pernikahan lelaki itu dipercepat. Bukankah harusnya dia bahagia?


Tetapi entah mengapa dia merasa bersedih saat ini.


"Saya antarkan kamu kerumah Pak Andi lagi, Nona Nita."


***


Indra langsng keluar mobil membukkan pintu untuk Nita. Nita membuka seat belt lalu keluar mobil dengan enggan.


Dipercepat?


Kata-kata itu memutar di kepalanya, ingin rasanya dia bertanya kenapa? apa ada masalah? akan tetapi gengisnya terlalu tinggi.


"Jika tidak ingin datang juga tidak apa, Nona. Di sini saja sampai spernikahan kami di gelar," saran Indra. "Nanti saya akan menjemputmu saat pernikahan itu selesai," tandas Indra membuat Nita tersenyum ketir.


Suami Kia akan menjemputnya? apa kata orang padanya?


"Tidak perlu, saya akan pulang juga,"


"Mari kita pulang bersama." Nita menengadah menatap lelaki itu dengan tatapan heran. Tidakkah dia takut jika Kia akan salahpaham pada mereka.


"Kamu tidak takut jika Kia akan ...." Indra menempelkan jari telunjuknya di bibir Nita. Bibir Nita seketika bungkam.


Tatapan bingung, dan meminta penjelasan begitu terlihat. Namun, Indra hanya mentap Nita dengan tatapan teduhnya. Mengangkat tangannya untuk mengusap pipi Nita. Akan tetapi kecepatan tangan Nita kalah dengan Indra, dia menyadari dan mengetahui jika Indra akan membelai pipinya.

__ADS_1


Nita mencekal tangan Indra, hingga tangan keduanya di udara saling terdiam apa yang terjadi sekarang. Indra memandang tanagn Nita yang tengah mencegahnya.


"Tidak bolehkah? aku hanya ingin mengusap pipimu saja," pinta Indra, Nita menggelang kuat.


"Berhenti untuk melampaui batas. Tidak seharusnya anda melakukan hal itu," tegas Nita, Indra mengalah dia menurunkan tangannya tanpa menyentuh pipi Nita. Dia tidak ingin membuat wanita itu merasa dia rendahkan harga dirinya.


"Berkemaslah kita pulang bersama," titah Indra, nada suaranya terdengar dingin. Nita merasa bersalah. Apakah dia telah membuat lelaki itu tersinggung?


Nita pun mengangguk, dia menurut untuk pulang bersama. Dia lantas bergegas kekamar dan mengemasi barang-barangnya. Sebelum membawa kopernya keluar Nita lebih dulu mencari Ana dan juga Andi. Dia berpamitan pada keluarga Ana dengan penuh haru.


Ana merasa rindunya belum terobati, akan tetapi dia belum bisa pulang bersama Nita. Nita memakluminya, dia berkata akan menunggu Ana sampai dia kembali ke kota. Dia-pun tidak akan mengganti Ana jika Ana berniat kembali bekerja.


***


Setelah berpamitan, Andi, dan Ana menunggu Nita di luar rumah. Sedangkan Nita tengah menyimpan uang berisi dua juta rupiah untuk Ana. Meski kebaikan dan kasih sayang Ana, sama sekali tidak bisa di hargai dengan uang. NIta menyimpannya di atas ranjang. Sebelum dia pergi, dia mengamati sudut demi sudut kamar itu. Kamar yang hanya sederhana akan tetapi menyimpan sejuta kenyamanan. Bibirnya mengembang, merasa tidak rela jika dia harus pergi.


Nita berjalan menuju kearah depan dengan menyeret kopernya. Indra yang melihat Nita langsung berlari untuk membawa kopernya. Sebelum masuk kedalam mobil Nita memeluk lebih dulu Ana.


Setelah selesai dengan acara perpisahan, mereka pun memulai perjalanan menuju kota. Indra mendengar Nita masih bersedih, dia merasa bersalah karena telah memaksanya untuk pulang.


"Aku akan mengantarmu untuk kerumah Pak Andi lagi, Nona. Aku tidak sanggup jika melihat kamu menangis seperti ini," ucap Indra.


"Aku bukan tidak ingin pulang. Aku masih rindu dan menginginkan dia untuk bekerja lagi di rumahku. Akan tetapi dia tidak mengatakn jika dia tengah mengalami kesusahan apa. Dia menyembunyikannya dariku." Indra mengulurkan tangannya sebelah untuk mengelus kepala Nita.


"Tidak usah khawatir, hanya masalah kecil. Aku sudah membantu mereka. Dua minggu lagi atau satu minggu Mbak Ana-mu akan pulang," terang Indra. Nita memiringkan tubuhnya lalu menatap Indra dengan meminta penjelasan.


"Kesusahan apa yang mereka alami? kenapa kamu merahasiakannya dariku!"


"Saudara Mbak Ana tengah mengalami musibah. Dia di fitnah mencuri. Tetapi tenang saja, aku sudah meminta pengurus setempat untuk membantu mereka," ucap Indra menjelaskan. Pundak Nita merosot saat mengetahui masalah Ana.


Kedatangannya sungguh tidak di waktu yang tepat, "berarti keputusanku pulang sudah tepat, ya. Pantas saja Mbak Ana begitu lama meminta cuti, aku kira hanya aku yang mempunyai banyak masalah. Ternyata orang di sekitarku lebih berat masalahnya, apalagi dengan terkendalanya materi."

__ADS_1


"Ya, pentingnya merasa bersyukur. Agar kamu tidak merasa hidupmu susah hanya karena masalah percintaan."


***


__ADS_2