
Sudah sebulan berlalu setelah peristiwa yang tidak terduga terjadi. Nita masih bersikap dingin pada Indra, meski Kia dan ari sudah menjelaskan jika Indra sangat mencintainya, akan tetapi tidak merubah perilakunya terhadap Indra.
Jika cinta mungkin dia akan tetap memperjuangkan, jika cintanya tidak besar mungkin Indra akan menyerah padanya. Namun, Nita hanya bisa pasrah dia sudah tidak memedulikannya. Meski tidak bisa dipungkiri jika dia pun memang menyukai lelaki berusia dua puluh sembilan itu.
Meski masih terselip rasa kecewa karena mereka telah bersekongkol membohonginya. Meski memang untuk kebahagian Tazkia tetapi Nita tidak membenarkan cara mereka.
"Tahukah kamu, Mbak. Dia lelaki yang tampan bukan? mapan, dan juga kaya. Dia juga mencintai mu, kamu wanita yang sangat beruntung,"
"Mbak Nita, mendengarkan aku bukan, Tuan Indra sangat mencintaimu. Percayalah padaku," rengek Kia saat Nita masih tidak menanggapi ocehannya.
"Hmmm." Hanya deheman saja yang Nita keluarkan. Tidak mengatakan apa pendapatnya.
"Apa Mbak Nita tidak takut jika dia mulai mencintai wanita lain, kalau aku jadi Mbak tidak akan aku menyia-nyiakan kesempatan. Kalau suka ya bilang suka, kalau tidak ya, bilang tidak," oceh Kia sembari melilitkan tangannya di leher Nita.
Nita tersenyum meledek tanpa diketahui Kia. Bagaimana bisa dia mengatakan hal konyol itu jika dirinya jelas telah menolak mentah-mentah lelaki itu. Nita menarik tangan Kia lalu menyuruh gadis itu berdiri di sampingnya.
Menepuk lengan Kia dengan gemas, "bukankah kamu telah menolaknya? kamu saja yang muda tidak terpikat oleh pesonanya, apalagi Mbak," jawab Nita, Kia tersenyum kikuk saat dia mengucapkan kata-kata yang benar dengan kenyataannya.
Tidak mampu menjawab, Kia hanya mengerucutkan bibirnya di hadapan Nita. Sedangkan Nita tergelak melihat tingkah gadis itu.
Nita masih duduk di kursi kerjanya saat mengingat perdebatan mereka. Kia, ah, sungguh dia masih menjadi gadis lugunya. Tidak berubah sama sekali meski dia telah menikah. Dia pun menjadi mengingat Ari yang kini telah menjadi suaminya.
Nita langsung menenteng tas-nya, menyambar ponselnya dan bergegas pergi untuk keperusahaan Indra.
***
__ADS_1
Saat dia telah sampai di perusahan, dia bertanya pada resepsionis. Namun, ternyata Ari sudah tidak lagi bekerja di sana. Dengan langkah gontai dia pun keluar dari perusahaan. Pikirannya menerawang, kenapa tidak lagi bekerja di sana?
Apakah Indra telah memecatnya?
Ketika dia tengah menunggu taksi, Indra datang menghampirinya dengan wajah lelahnya. Nita yakin jika Indra pasti baru saja pergi dengan rekan bisnisnya, atau mungkin dia telah mengadakan rapat di luar perusahaan. Nita merasa iba dan rasanaya ingin memberikan sentuhan tangan di pundaknya dengan memijitnya, agar dia bisa sedikit rileks dengan masalah perusahaan. Tetapi Nita menggeleng dan meyakinkan dirinya sendiri jika itu semua bukanlah masalahnya dan dia tidak perlu repot-repot untuk memikirkan orang lain.
"Ishhh, kenapa aku harus memperhatikan dia," batin Nita menggerutu.
Dari kejauhan saat dia turun dari mobil Indra sudah merasa lelah yang menerpa tubuhnya seketika hilang. Hanya dengan memandang wajahnya membuatnya sudah damai. Baru kali ini dia merasakan perasaan ini, setelah Kia menghilang dari hatinya.
Nita menunduk sembari wajahnya di tutup dengan tas yang tengah ia bawa, tetapi sayang Indra telah mengetahui kehadirannya. Indra tersenyum samar dengan cepat menghadang perjalanan Nita.
"A-ada apa?" tanya Nita gugup. Indra tersenyum smirk dengan merentangkan tangannya.
"Mari masuk dulu, kenapa buru-buru. Apakah kamu rindu padaku?" Nita memutar bola mata jengah, melipat tangan di dada. Omong kosong apa yang tengah Indra ucapkan, Nita tidak cukup berani walau dia memikirkannya dalam mimpi. Namun, bayangan lelaki muda di hadapannya selalu menghantui. Jika memikirkan orang menjadi hutang, mungkin dia telah menjadi orang nomor satu yang mempunyai banyak hutang itu.
Nita meronta agar lelaki itu berhenti mencekal pergelangan tangannya. Ketika mereka telah masuk kedalam kantor banyak pasang mata yang menatap heran kearah Nita dan Indra, mereka seperti pasangan yang tengah bertengkar.
Sang wanita yang tengah merajuk, dan lelaki yang tengah menyeretnya dengan tidak ingin dibantah. Sampai tiba di dalam lift Indra pun melepaskan cekalan tangannya. Lelaki itu perlahan mendekati Nita merapatkan tubuhnya pada wanita itu. Nita mendelik dan mendorong tubuh Indra dengan kasar.
"Jagalah sikapmu, saya harap anda bisa menjaga batasan diantara kita. Jangan melakukan hal konyol seperti ini," ucap Nita tidak suka dengan perilaku Indra. Lelaki itu mengerti dan mulai memundurkan kembali langkahnya agar memberi jarak di antara mereka.
Dada Indra kian sesak dan mulai tidak nyaman, ketika dia telah salah langkah. Bukannya membuat Nita nyaman berada di sampingnya. Dia memijit pelipisnya yang sakit karena telah berbagai cara untuk menggodanya tetapi belum membuat Nita terkesan.
"Lebih baik aku berdebat dengan para dewan direksi jika harus berdebat dengannya, belum juga ada titik terang di antara kami padahal sebelum pernikahan konyol itu Nona Nita terlihat membalas rasaku," batin Indra.
__ADS_1
Ponsel Nita bedering, ["Ya, Kia?"]
["Di mana Mbak Nita, aku dan Mas Ari ketokomu,"]
["Ah, iyakah. Ternyata Mbak sudah mengakui juga jika Mbak mempunyai perasaan padanya. Itu lebih baik juga, sih,"]
["Hey salah pah--"]
Telepon pun di matikan, Nita bingung dengan ucapan Kia, sedangkan Indra berpura-pura membenarkan jas-nya padahal dia mendengarkan ucapan Kia pada Nita.
"Kenapa?" tanya Indra.
"Eh, enggak-enggak ada apa-apa," jawab Nita dengan gugup. Menepuk pelan dahinya dengan rasa malu.
Pintu lift terbuka, Indra berjalan lebih dulu keluar. Namun, Nita masih bergeming di tempatnya. Indra menatap dengan ekor matanya, tetapi dia tidak melihat Nita di belakangnya. Dia pun memutar tubuhnya untuk menengok kebelakang. Dengan terpaksa dia menyeret Nita agar keluar dari dalam lift.
"Tidakkah kamu merasa jika aku memiliki rasa berbeda, dan memperlakukanmu dengan istimewa," tandas Indra sembari tangannya masih memegang tangan Nita.
Nita terkesiap dengan kejujuran Indra. Tidak kah dia salah mendengar? Benarkah apa yang dia ucapkan barusan?
"Aku serius." Indra mulai menghentikan langkahnya dan Nita menatap dalam kearah bola mata Indra, adakah kebohongan di dalam sana?
Akan tetapi dia tidak melihat kebohongan itu, berusaha untuk tetap menarik ulur waktu. Nita tidak ingin jika Indra mudah mendapatkan dirinya, dia pun akan dengan mudah juga meninggalkannya bahkan mudah mencari pengganti dirinya. Seperti Krisna dahulu.
"Apakah kamu juga memiliki rasa yang berbeda padaku?" tanya Indra lagi. Namun, Nita masih terdiam, belum menanggapinya. Hatinya masih bimbang. Nita ingin memberikan pelajaran pada lelaki itu agar bisa menghargainya kelak.
__ADS_1
***