Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab138. Maafkan Aku?!


__ADS_3

Sudah hampir satu jam Nita berasa di dalam kamar mandi. Tetapi tidak ada tanda-tanda jika dia akan keluar. Bahkan Indra sudah beberapa kali menengok kearah pintu berharap sang istri keluar dari kamar mandi.


Matanya memicing heran, sedang apa istrinya di dalam? Atau mungkin dia pingsan di dalam karena merasa gugup saat dia berusaha meminta haknya untuk malam ini?


Indra menyimpan dahulu ponselnya berjalan mendekati pintu kamar mandi. Tidak berniat mengetuk lebih dulu, dia menempelkan lebih dulu telinganya di depan pintu. Hening, di dalam begitu hening seolah tiada penghuni. Akhirnya Indra mengetuk pintu merasa khawatir dengan istrinya itu.


"Sayang ... Kamu baik-baik saja di dalam?"


Dua ketukan masih tidak mendapat sahutan, Indra kembali mengetuk pintu dengan irama cepat kali ini. Tidak peduli jika penghuni rumah ini akan terganggu, atau bahkan para tetangga pun akan terganggu. Perasaannya diliputi kecemasan. Dia yang terlalu larut dalam dokumen pekerjaan membuatnya melupakan istrinya.


"Nita!" Teriak Indra lagi, membuat orang yang di dalam semakin cemas. Pikiran Nita saat ini Indra sudah tidak sabar untuk meminta haknya. Sedangkan Nita dia tengah sibuk memilih lingeria yang akan dia akan.


"Aku pakai yang mana ini!" Gumamnya sembari memilah-memilih, karena ketukan itu kini menjadi gedoran akhirnya pilihan Nita jatuh pada warna hitam dengan renda di dada.


Sebelum dia membuka pintu dia lebih dulu menjawab, "iya sebentar!" Teriak Nita. Dengan cepat dia memakai pakaian yang sudah lama dia pilih, tidak lupa memakai bathrobe-nya agar tidak langsung mengeksplorasi lekuk tubuhnya.


"Kamu sedang apa di dalam? Cepat buka pintunya atau aku akan mendobrak pintu ini!" Ancam Indra dari luar kamar mandi.


Pintu kamar mandi terbuka dan Indra langsung menyelonong masuk kedalam. Entah kenapa pikirannya melayang jika Nita tengah bermesraan dengan lelaki di dalam kamar mandi. Setelah telah selesai menggeledah dia pun keluar kamar mandi dengan terkikik.


Sedangkan Nita dia sudah merah padam seperti tomat. Pasalnya dia belum sempat menyimpan kembali lingeria yang telah dia pilih.


"Memalukan sekali," batin Nita.


"Sebegitu lamanya kamu di dalam hanya untuk membuatku bahagia, hmmm," ledek Indra dengan mengedipkan matanya. Nita tertunduk malu, jari-jemarinya bertaut seolah dia tidak bisa mengatakan apapun lagi.


"Kenapa juga harus mengeceknya, sih," Gumam Nita. Namun, Indra masih bisa mendengarnya. Lelaki itu mendekati Nita dan memeluknya dengan sayang.


"Meskipun kamu tidak memakai pakaian itu, kamu tetap saja menggoda di mataku," Goda Indra.

__ADS_1


Nita mendongak menelisik setiap inci dari wajah Indra yang kini berada begitu dekat di depan matanya. Senyumannya tersungging jelas sangat manis. Indra pun mengecup mesra mata itu yang kini menatapnya.


Nita terhenyak, dia mengerjap refleks saat Indra menciumnya. Dia terkekeh geli melihat tingkah Indra.


"Apa sih, enggak jelas sekali kamu." Nita memukul manja lengan suaminya yang kini tengah melingkar di pinggangnya.


"Apakah tidak akan ada drama saat malam kedua kita? Hmmm, kamu tidak akan lari saat suamimu meminta hakmu bukan? Seperti di dalam novel yang belum siap," ucap Indra menatap lekat kedua bola mata indah itu.


Nita menatap dalam, seolah dia tidak akan menolak apa yang akan menjadi kewajibannya. "Tidaklah, apa novel? Kamu sering membaca novel? Tidak kusangka, masih sempat kamu membaca novel," ledek Nita lagi dengan geli.


"Belum pernah sih, hanya sesekali baca komik saja," jawab Indra tergelak.


"Aku dapat kata-kata itu dari Nona Kia dulu, dia suka membaca, kadang apa yang dia baca di ceritakan padaku," ungkap Indra, membuat Nita seketika bungkam. Apakah dia cemburu pada gadis itu?


"Kenapa kamu diam? Cemburu?!"


"Menurutmu?!" Indra berjalan masih memeluk pinggang sang istri. Tiba di tepi ranjang, perlahan dia menidurkan istrinya. Kini dia mengungkung istrinya.


Nita mencekal tangan Indra saat lelaki itu menunjuknya. "Lalu kenapa kamu menikahiku jika tidak bisa menerimaku. Bukankah sangat jelas jika aku adalah seorang janda?"


"Aku tahu,"


"Lalu kenapa mengungkitnya?"


"Kenapa kita tidak dipertemukan lebih dulu denganmu, aku tidak akan membuat statusmu menjadi janda,"


"Sudah jangan dibahas. Semua sudah berlalu aku sudah Melupakannya. Kamu tahu tentang kisah hidupku?" tanya Nita, dia menatap wajah suaminya dengan sendu.


"Aku tahu segalanya, aku mencintaimu ...." Indra mengecup kening istrinya, Nita menutup matanya dengan dalam menikmati kecupan di keningnya.

__ADS_1


Tangan Indra perlahan membuka tali bathrobe-nya, lalu mulai mengusap perut istrinya dengan lembut. Nita merasa tubuhnya amat geli hingga dia perlahan membuka matanya, Indra masih mengecup keningnya. Namun, tangannya sudah mulai nakal menjelajahi tubuh sangat istri.


Perlahan tapi pasti Indra mulai melepaskan bibirnya dari kening sang istri. Dia menatap bola mata indah itu dengan penuh tatapan menuntut.


"Aku menginginkan kamu malam ini." Tatapan yang amat penuh tuntutan itu begitu jelas Nita lihat. Dia sebenarnya tidak masalah, dia juga tahu apa yang seharusnya terjadi saat pernikahan telah terjadi. Dia wanita dewasa dan juga sudah berpengalaman, tetapi apakah kejadian waktu itu akan terulang lagi?


Kejadian di mana dia yang dipaksa oleh mantan suaminya?


Nita diam seribu bahasa saat Indra bertanya, lelaki itu mulai menundukkan kepalanya dan mulai mendekatkan bibirnya dengan sang istri. Dia juga mulai mengecup, tidak ada penolakan Indra mulai ******* memberikan sens4si rileks agar istrinya tidak merasa tertekan.


Mata Nita pun terpejam menikmati sentuhan suaminya. Namun, bayangan saat mantan suaminya memaksa kini mulai berkelana di dalam pikirannya. Nita mendorong Indra hingga lelaki itu tersungkur.


Nita memekik dan langsung meloncat dari ranjang saat suaminya menyentuh lantai.


"Maaf, tolong maafkan aku," ucap Nita merasa bersalah. Indra tidak merasa marah. Namun, dia perlahan menuntun Nita agar istrinya duduk di tepi ranjang.


"Jika belum siap aku akan menunggu." Indra menyempilkan anakan rambut kedaun telinga Nita.


Nita mendongak menatap Indra dengan tatapan bersalah, "aku ... sungguh minta maaf,"


Indra menangkup wajah Nita dan memintanya untuk menatap dalam kearah bola matanya. Dia sama sekali tidak marah saat Nita melakukannya tanpa sengaja.


"Tidurlah jika belum siap." Indra menyuruh Nita untuk membaringkan tubuhnya di ranjang. Namun, Nita menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


Nita dengan berani mengecup mesra bibir Indra, dia tersenyum manis pada Indra, membuat Indra tidak bisa lagi untuk mundur.


"Kamu yang menggodaku, jangan salahkan aku yang tidak akan bisa berhenti saat kamu memintaku untuk berhenti. Kuncinya hanya satu agar kamu tidak merasa takut, rileks dan nikmati setiap sentuhanku," terang Indra pada Nita. Wanita itu mengangguk pelan karena malu.


Tanpa aba-aba Indra langsung menyambar bibir itu untuk di lumatnya. Tangannya mulai menjelajahi bagian sensitif sang istri. Kini Nita memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan suaminya.

__ADS_1


***


__ADS_2