
Mulai saat ini dia sudah bertekad untuk menghadapi Krisna, mungkin jika dia terus menghindar urusan dirinya dan mantan suaminya tidak akan berakhir.
Dia sudah tidak ingin lagi terjerat dalam dunia Krisna. Dia ingin hidup bebas dan menemukan cinta sejatinya.
Di saat dia tengah beristirahat dering ponsel miliknya terus berdering. Nita hanya mendelik kearah benda pipih itu, ketika Indra menghubunginya. Memberikannya buket bunga dengan catatan dia harus memaafkannya, tetapi ada pengecualian dirinya mesti mau untuk diajak tid*r bersama.
"Pesan macam apa itu, dasar lelaki me*um yang tidak pantas menjadi saudara Bian." Bibirnya mencebik, Ponselnya tidak berhenti berdering sedari tadi. Namun, Nita enggan untuk mengangkatnya.
Saat Krisna hari ini tidak mengganggunya, tetapi orang baru hadir dan membuatnya terganggu. Nita tidak bisa lagi menahannya.
["Bian bisa kamu beritahu saudaramu itu supaya dia tidak menggangguku lagi, kamu dan dia sungguh menyebalkan."] Nita mematikan ponselnya. Lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.
"Jodoh terbaik adalah cerminan dirimu, lalu apakah diriku tidak baik hingga mengalami kegagalan dalam berumah tangga." Saat dia tengah memikirkan nasibnya, Ana mengetuk pintu dan memberitahu jika di depan tamu tengah menunggunya.
Nita mengernyit, siapa gerangan yang mengunjunginya. Jika itu Krisna mungkin Ana tidak akan memberitahunya. Dia mungkin akan langsung mengatakan jika NIta sudah tertidur. Hati Nita bertanya-tanya, ketika Ana tidak mengetahui orang itu.
Nita langsung menajamkan tatapannya ketika dia tahu siapa tamu yang berkunjung.
"Kamu!" Nita, pun menududukkan bokongnya di sana. Indra memiringkan kepalanya dan menatap Nita dengan senyuman yang merekah.
"Selamat malam Nona Nita, maaf saya mengganggu waktu istirahat anda malam ini. Saya hanya ingin mengucapkan kata maaf yang sebesar-besarnya atas insiden salah kirimnya bunga itu." Indra tampak bersalah.
"Terjadi kesalahan teknis, saya harap anda tidak berpikiran buruk tentang saya," cicit Indra, Nita hanya mengernyitkan dahinya dan menggedikkan bahu. Dia memang kesal dengan pesan itu. Namun, syukurlah jika itu bukan ditujukkan untuk dirinya.
"Saya tidak peduli, Tuan Indra. Saya sedang sibuk memori ingatan saya terganggu dengan pesan yang terselip di buket bunga itu. Merayu wanita begitu merenda*kannya," ledek Nita, membuat alis Indra menaut. Separah itukah pesan itu hingga membuat Nita marah? Namun, lelaki itu bersyukur karena Nita orang yang telah menerima buket bunga itu.
__ADS_1
"Apakah sungguh mengganggu Nona? saya bisa membantu anda dengan mewujudkannya. Agar anda tidak merasa terbebani." Sontak saja membuat Nita membelalakan matanya tidak percaya dengan lontaran Indra.
"Anda benar-benar lelaki tidak tahu menghargai perempuan!" tunjuk Nita dengan telunjuknya. Indra menatap tangan itu dengan heran karena dia tidak mengerti.
Nita yang sudah terlanjur jengkel karena sikapnya yang tanpa dosa membuat Nita terpaksa untuk menyeret lelaki itu pergi dari rumahnya. Setelah di depan pintu utama Nita langsung melipat tangan di dada.
"Untuk kedepannya jangan datang lagi! saya tidak mau bertemu lagi dengan lelaki mes*m seperti anda!" Blug, pintu langsung ditutup dengan kencang oleh Nita.
Lagi-lagi Indra mengernyit mengingat dia tidak merasa membuat kesalahan pada wanita itu. Tiidak terpikirkan olehnya jika Nita sulit untuk dijinakkan. Tidak seperti gadis-gadis yang sempat di rayunya.
"Perbedaan antara janda dan gadis, janda sulit untuk dirayu mengingat dia sudah berpengalaman dalam segala hal," gumam Indra terkikik mengingat adegan yang seharusnya tidak dia pikirkan.
"Eh, memang isi pesan itu apa? dia memanggilku dengan sebutan mes*m." Indra belum beranjak pergi, dia masih berdiri di depan pintu dengan pikiran bingungnya. Dia pun melihat log panggilan keluar dan melihat dia memanggil Bian di jam tiga sore tadi.
"Biang keroknya ternyata ada pada bocah itu." Buru-buru Indra meneleponnya.
Nita pun berjalan dan melihat di dekat jendela. Dia singkap gordeng itu, dan di sana masih ada Indra yang masih berdiri di depan rumahnya.
"Maunya dia apa? aku sudah mengusirnya tapi dia tidak pulang juga." Terlanjur kesal Nita kembali berjalan menuju pintu depan. Dia ingin mengusir Indra secara kasar kali ini.
Sebelum membuka pintu, dia mendengar percakapan Indra. Bian menjelaskan saat Indra meneleponnya, dan menyuruhnya memberikan buket bunga. Karena Bian yang tidak tahu akhirnya bertanya pada supir Indra, dan memberikan alamat toko Nita.
["Bian! kurang ajar kamu. Kamu tahu jika kamu salah mengirimkan paketnya,"]
["Bukankah kamu bilang jika NT colection, bukankah itu toko wanita yang akan kamu lamar?"] tanya Bian di seberang sana. Nita yang geram karena Bian berpikiran mes*m pun langsung membawa ponsel Indra.
__ADS_1
["Yan, kamu yang mempunyai ide gila semacam itu? baru pergi beberapa tahun saja, otakmu sudah di cuci menjadi kotor oleh saudaramu ini!"] Bibir Nita mencebik kearah Indra, sedangkan lelaki itu hanya tersenyum mendengar perdebatan mereka.
Saat Nita tengah memberikan petuah pada Bian, seseorang membawa ponsel itu dengan paksa dari genggaman Nita. Krisna--ya, lelaki itu datang lagi. Karena di jam tujuh seolah menjadi rutinitas baginya. Pergi mengunjungi Nita meski wanita itu sama sekali tidak pernah menghiraukannya.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan dia, Ta," protes Krisna, tatapan Krisna begitu tajam pada Indra. Sedangkan lelaki itu hanya tersenyum meledek, seolah dia meremahkan Krisna.
Krisna berjalan mendekat kearah Indra, "berhenti mengejar dia!" ancam Krisna berbisik di telinga Indra.
Nita tidak bisa mendengarnya, Karena takut jika Krisna akan memukulnya lagi, dia menarik Krisna agar mereka memili jarak. Itu akan lebih aman, karena dia tidak ingin jika Indra babak belur karena dirinya, yang membuatnya menjadi merasa bersalah.
Suasana tampak mencekam setelah mereka berdua memiliki jarak. Tatapan dari keduanya menggambarkan jika saling menantang.
"Kalian pulanglah, ini sudah malam," titah Nita mengusir keduanya. Namun, Krisna, dan Indra tidak menyahut. Keduanya masih saling bertatapan dalam jangka waktu yang cukup lama.
"Sebenarnya aku ingin masuk, tetapi jika aku meninggalkan mereka. Aku takut keduanya akan berkelahi, Tuan Indra anda harusnya pergi mengapa masih di sisni," batin Nita merasa frustrasi melihat mereka berdua yang masih bergeming.
"Aku tidak akan pulang, sebelum kamu mau memberiku kesempatan, Ta," ucap Krisna seolah enggan untuk pergi. Dia memegangi kedua bahu Nita membalikkan tubuhnya hingga menghadap padanya.
Indra tidak tinggal diam, dia menepis tangan Krisna, agar tidak menyentuh Nita. Wajah Krisna sudah merah padam, Nita tahu jika lelaki itu marah pada Indra.
Namun, karena ponsel Krisna bergetar dia pun memilih pergi dan berpamitan pada Nita. Sebelum pergi pun dia masih sempat untuk mengancam Indra.
"Jika tidak ada sesuatu yang harus kulakukan, aku tidak akan membiarkan kamu untuk berdua dengan Nita." Wajah cemas begitu kentara.
"Ada masalah apa hingga dia secemas itu." Batin Nita.
__ADS_1
***