Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Baba56. Kehilangan (3)


__ADS_3

Bab56. Kehilangan (3)


***


Setiap insan yang hidup akan berpulang kepada sang penciptanya. Namun, untuk Bian dia tidak ingin wanita itu meninggal dengan mudah. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Di saat dia berusaha ingin membuat wanita itu menderita ternyata dia lebih dulu pergi.


Lalu apakah dia harus membalas dendam pada Karina? Mereka saudara kembar, tetapi sikap dan perilaku mereka berbeda. Haruskah Bian memberikan pelajaran itu pada Karina?


Nita melihati Bian yang tengah melamun, dia yakin jika lelaki itu sangat terpuruk karena tidak bisa membalas rasa sakitnya terhadap Kasih. Nita mendekat kearah Bian, dia menepuk pundak Bian dengan sedikit kuat hingga membuat lelaki itu tersentak.


"Buang semua dendammu itu Bian. Seperti aku, aku pun sudah memaafkan Krisna. Meski hatiku hancur, tetapi aku tidak akan pernah kembali padanya. Setelah 40 hari kematian Kasih aku ingin bercerai dengannya," ucap Nita.


"Apakah ini adil, Mbak? Dia belum mendapatkan karma yang setimpal!" Jawab Bian.


"Dia sudah mendapatkannya, bukankah Kamu tadi mendengar kalau dia pendarahan hebat, dan harus mendapat donor darah secepatnya. Tetapi persediaan darahnya kosong. Apakah itu tidak cukup di sebut karma Bian. Hilangkan semua rasa dendam di hatimu itu." Bian hanya terdiam dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia harus mencari Karina.


Lelaki itu beranjak berdiri, Nita berusaha untuk menahannya tetapi lelaki itu tidak mengindahkan keinginan Nita. Biasanya dia akan penurut dan menghargai Nita. Tetapi dia juga mengerti akan kondisi Bian. Dia pun membiarkan Bian pergi.


"Karina!" Teriak Bian dia terus memanggil Karina yang sedang menangis di dalam kamarnya.


"Jika kamu tidak memohon padaku untuk menunggu kelahirannya, aku dapat melihat dia menderita. Puas kamu sekarang karena dia mati dengan mudah!" Cerca Bian. Karina menatap tidak suka dengan ucapan Bian. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu.


"Bian aku tidak menyangka jika kamu bisa mengatakan hal menyakitkan seperti itu, padahal aku punya bukti yang kuat kalau Kasih bukan dalangnya. Dia juga di suruh oleh orang lain!" Teriak Karina, wanita itu kini meluapkan kemarahannya terhadap Bian.


Meski dia begitu mencintainya, kini hatinya seolah membeku. Karena Bian telah berubah. Karina mencari sesuatu di dalam almarinya. Dia memberikan sebuah flashdisk untuk diberikan pada Bian.

__ADS_1


"Ambil ini! Ini adalah bukti. Dan kenyataan yang sebenarnya. Jika kamu merasa kamu salah jangan Temui aku lagi! Aku sudah memutuskan aku tidak ingin menjadi bagian dalam hidupmu lagi!"


Bian menatap sinis kearah Karina. Dia pun membawa flashdisk itu.


***


Satu hari setelah pemakaman itu selesai, Krisna diberikan sebuah buku dairy oleh Ana. Krisna mengambilnya dengan perlahan. Dia mulai membuka lembar demi lembar coretan tangan yang Kasih tulis di buku itu.


Hatinya tidak percaya jika apa yang di katakan Tazkia benar. Mengapaa dia benar-benar bodoh dan bisa mempercayai wanita itu.


Tazkia datang menghampiri Krisna. Meski dia teramat membenci kakaknya yang keras kepala. Tetapi dia tidak bisa mengabaikannya. Dia juga merasa kehilangan, meski hubungan dia dan Kasih tidaklah baik.


Dia teramat membenci Kasih karena telah membuat rumah tangga Nita dan Krisna hancur seperti ini. Dia perlahan memegangi tangan Krisna seolah menguatkan.


"Yang sabar Mas Kris," ucap Kia. Riska pun datang menghampiri kedua anaknya. Selama beberapa hari dia dapat melihat perang dingin di antara keduanya. Tetapi di saat musibah ini terjadi keduanya tampak saling menguatkan.


"Ma, tulisan Kasih memintaku untuk mencari Nita, dan menjadikan dia ibu sambung untuk anakku, Ma," lirih Krisna. Riska menghela napas, lalu dia menatap kearah Tazkia yang tengah berada disamping Krisna.


"Meski itu amanat, Mama yakin kamu tidak akan bisa membawa Nita kembali, Nak. Selain kamu mengikhlaskan dia. Bukankah kamu tahu bagaimana Nita--"


"Aku akan berusaha, Ma. Jika dia melihat jagoanku seorang diri, dia pasti akan luluh. Dan mau kembali padaku," potong Krisna dengan percaya diri.


"Hey tampan Aunty, kamu yakin Mama Nita kembali, Aunty yakin Papa-mu akan sia-sia jika berjuang. Rasakan saja, memang enak kena karma!" Kelakar Tazkia tanpa dosa gadis muda itu mengumpati kakaknya di depan orangnya. Ari yang baru saja berada di sana menggelengkan kepala tidak percaya. Jika dia akan mengatakan hal itu.


Ketika Kia melihat sekretaris Ari, lelaki itu mengisyaratkan bahwa dia harus pergi dan mengikutinya. Kia mengerti dengan isyarat lelaki itu. Diapun mengikutinya.

__ADS_1


"Bisakah kamu kalau ngomong dikontrol sedikit, kakakmu sedang berduka. Bisa-bisanya kamu mengatakan hal seperti itu," ucap Ari, Kia hanya mendelik dan melipat tangan di dada.


"Dia juga tidak merasakan sakitnya hati Mbak Nita. Aku simpati padanya, aku juga merasa sedih. Tetapi jika mengingat perlakuannya, aku ingin menelannya hidup-hidup." Raut wajah Kita berubah menjadi garang. Dia bahkan mengepalkan tangannya. Alis Ari mengkerut dengan tingkah gadis di hadapannya. Di saat dia merasa akan sia-sia jika menasihati Kia, akhirnya dia memilih pergi.


Kia terus saja mengoceh ketika dia belum menyadari kepergian Ari. Wanita itu memunggungi Ari, jadi dia tidak bisa melihat kepergiannya. Di saat dia memutar tubuhnya dia merasa menjadi orang gila karena berbicara seorang diri. Dia mencebik dan mencoba mencari Ari. Dia ingin memarahi lelaki itu, dia yang memerintahkan untuk datang dan dia juga pergi tanpa berpamitan.


"Dasar cowok memang aneh," gerutunya. Bukannya bertemu dengan Ari, dia malah bertemu dengan mamanya. Riska menantap heran pada anaknya yang sama sekali tidak menghargai perasaan Krisna.


"Bisakah kamu terlihat sedih untuk beberapa hari kedepan saja Tazkia! Bagaimana bisa mama melahirkan anak perempuan yang sama sekali tidak mempunyai hati nurani seperti kamu." Riska menepuk dahinya sendiri karena ulah anak perawannya.


Tazkia hanya tersenyum kecut dengan ucapan mamanya. Orang-orang di rumah itu sungguh membuatnya pusing. Daripada berdebat dengan mamanya yang membuat kepalanya pecah, lebih baik dia pergi keluar untuk berjalan-jalan. Namun, saat dia melihat Ari dan Krisna berjalan kearah belakang rumah dia mengikutinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi Ari?" Tanya Krisna ketika mereka telah sampai di belakang rumah.


Tazkia mengikuti mereka, menguping pembicaraan mereka. Sebenarnya dia ingin mencoba masa bodo. Tetapi penyakit keponya memaksa dia untuk mengikuti mereka.


"Nona Kasih tersangkut dengan kasus pembunuhan. Saudaranya tidak terima, rencana dia akan menjebloskan Nona kepenjara seusai melahirkan. Tetapi takdir berkehendak lain, kalau dia telah pergi dan meninggalkan berbagai misteri dan kontroversi," terang Ari. Krisna mendengarkan dengan baik, dan ikut berfikir.


"Siapa yang kamu maksud?"


"Nona Airin,"


Kia, mengerutkan keningnya ucapan Ari seolah dia tahu siapa wanita itu.


"Airin."

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2