Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab157. Tidak Ada Orang Lain Selain Kamu


__ADS_3

Makan siang hari ini semua orang tampak bahagia, tetapi tidak dengan Nita. Dia masih berbicara seperlunya dan juga tidak terlalu banyak bertanya pada suaminya. Sebenarnya Nita ingin sekali bergabung dengan yang lainnya akan tetapi dia merasa tidak enak hati jika meninggalkan suaminya.


Gelak tawa dari luar terdengar begitu mendayu-dayu di telinga Nita. Raga memberontak ingin keluar, Indra menatap istrinya dengan datar. Di saat dia mengunyah buru-buru dia menelan makanannya untuk bertanya pada sang istri.


"Kamu tidak mau makan siang denganku?" tanya Indra, dia menyimpan sendok dan mulai menatap Nita dengan tatapan terluka.


Sorot matanya begitu menggambarkan penuh kecewa, Nita menunduk dan mengembuskan napas beratnya.


"Sebenarnya apa salahku?" Indra mulai bertanya kembali.


Nita menautkan jemari tangannya dengan gelisah, ini adalah kesempatan dirinya untuk mengatakan semua yang berada dalam benaknya. Tentang masalah suaminya yang belum memberi tanggapan jika dirinya ingin mempunyai momongan. Akn tetapi nyali Nita seperti kerupuk yang tersiram air, menciut.


Dia mendongak menatap suaminya dengan dalam.


"Karena kamu tidak mengizinkan aku untuk bergabung dengan mereka!" seru Nita dengan ragu. Indra mengernyit saat Nita mengutarakan keinginannya.


Nita merutiku dirinya sendiri karena dia tidak bisa mengucapkan apa yang berada dalam hatinya. Uneg-unegnya belum juga bisa ia keluarkan.


"Kamu ingin makan di sana begitu? Kenapa tidak bilang dan harus diam membisu dengan gelisah," lontar Indra dengan membawa makanan dan mulai mengulurkan tangannya untuk Nita menggenggam jemari tangan Indra.


Nita ragu-ragu untuk membalas uluran tangan suaminya. Namun, dia mencoba untuk berdamai dengan keadaan dia ingin bisa bersikap biasa di hadapan orang lain. Dia tidak ingin membuat Karina, dan Tazkia khawatir akan dirinya yang telah sering melamun.


Akhrinya Nita pun membalas uluran tangan itu dan mulai berdiri, mengekori suaminya. Mereka berjalan dengan saling terdiam, hingga keduanya keluar dari ruangan barulah mereka menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.


"Kok telat datangnya, Mbak. Kami sudah selesai makannya," ucap Tazkia sembari beringsut untuk mendekati Nita. Indra yang sadar akan pergerakan Tazkia langsung menarik istrinya untuk berada di belakang tubuhnya.


"Dia hanya boleh duduk disampingku, Nona Kia," tolak Indra dengan tatapan menjengkelkan bagi Kia. Wanita itu mendengus dengan penuturan Indra. Dia memasang wajah cemberut dan kesal pada Indra.


Suaminya yang sadar jika istrinya tengah kesal pun menepuk bahu istrinya dan berbisik, "sudahlah sayang, kamu bisa dekat dengannya sepuas hati jika tuan Indra pergi,"

__ADS_1


"Tidak bisa! Aku harus menjauhkan dia dengan Mbak Nita. Apa-apaan dia menyakiti hati Mbak Nita," sungut Kia dengan tatapan tajam kearah Indra. Indra menatap Kia dengan heran, pasalnya dia tidak merasa telah menyakiti hati istrinya. Dia mencintainya mana mungkin dia akan menyakiti hati istrinya.


Indra pun perlahan memutar badan dan menoleh kearah istrinya yang berada dibelakangnya. Namun, dengan cepat Kia langsung menjauhkan Indra dari Nita.


"Kamu bilang tidak akan menyakitinya, tapi kamu malah membuatnya seperti hidup tapi mati, kaya lagu d'bagindas. Kamu tahu 'kan liriknya, Tuan Indra," kata Kia dengan tatapan tidak bersahabat pada Indra.


Kau seperti patung yang tak punya hati


hanya diam membisu seperti orang mati


kini ku bicara tanpa basa-basi


kamu memang tuli buta mata buta hati


hidup tapi mati, hidup tapi mati.


"Aku ke kantor duluan," pamit Bian menepuk pundak Indra, "pulang saja, tidak ada rapat penting hari ini. Selesaikan urusanmu dengan, Mbak Nita," bisik Bian.


Indra menatap Nita dengan penuh suka cita, ditariknya lembut-lembut tangan sang istri agar mengikuti langkahnya. Bukan menuju ruangan kerja, melainkan keluar toko. Nita pun pasrah dan mulai mengikuti kemana arah Indra melangkah.


"Kemana kita, Mas?" tanya Nita saat mereka telah keluar toko.


"Pulang," jawab Indra dengan masih menatap ke depan. Dia langsung membukakan pintu mobil untuk sang istri. Indra memutari mobil dan ikut duduk disamping Nita.


"Aku kira kamu salahpaham tentangku. Dan kita harus meluruskannya," ucap Indra dengan senyuman merekah di bibirnya.


"Kamu sudah peka sekarang?" sindir Nita dengan ketus. Sebenarnya dia ingin Indra mengerti, padahal dia sudah memberi kode tetapi Indra masih tidak memedulikan.


"Ya, makanya aku akan membuat kamu mengerti. Aku tidak mau sampai terjadi salah paham yang berakibat fatal dalam rumah tangga kita. Yang kamu harus tahu tidak ada orang lain selain kamu yang menempati ruang hatiku," terang Indra. Nita masih tak acuh mendengarkan. Sebelum dia tahu alasan yang masuk akal baru dia akan mengerti.

__ADS_1


"Gombal!" sungut Nita sembari memalingkan wajahnya menoleh kearah lain. Pipinya merah merona akan ucapan kata itu. Indra bahkan bisa melihat jika istrinya tengah malu dan memalingkan pandangannya.


"Seperti masih pacaran saja," gumam Indra dengan senyuman geli melihat tingkah istrinya. Nita pun membalik badan kembali dan memukul kasar lengan suaminya.


"Apa sih," sungut Nita tidak terima.


"Masih malu-malu. kita sudah menikah."


"Iya, terus kenapa kalau kita sudah menikah?"


"Tidak ada apa-apa," ucap Indra mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin sampai salah berucap dan membuat istrinya malah semakin murka padanya.


"Ya, harusnya begitu mengalah saja. Di mana-mana juga istri akan tetap benar meskipun pasalnya istri yang salah." Nita mengangkat tangannya untuk menutup mulutnya yang tertawa. Indra menggeleng pelan dengan pernyataan istrinya.


Mereka pun tertawa bersama kala mengingat ucapan Nita. Masalah yang semula membuat Nita tidak acuh kini seolah lenyap. Dia melupakan masa protesnya akan sikap Indra yang selalu mengabaikan keinginannya.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah. Seperti biasa Indra keluar dan membukakan pintu untuk istrinya.


"Kita bicarakan di kamar bagaimana?" tanya Indra mengedipkan matanya sebelah. Nita melipat tangan di dada dan menatap tajam suaminya.


"Kamu mau membuat aku mengerti atau membuat aku naik darah?!" gerutu Nita, wanita itu meninggalkan Indra yang tergelak karena berhasil membuat istrinya kesal.


"Ganti baju, ya. Nanti kita keluar untuk meluruskan ke salahpahaman kita!" teriak Indra saat istrinya sudah memasuki kamar.


Nita buru-buru memasuki kamar dan menutup pintunya dengan cepat. Dia memegangi dada-nya dengan debaran yang berpacu dengan cepat. Padahal dia dan suaminya sudah beberapa bulan menikah, akan tetapi rasa gugup selalu di mendera kala suaminya menggoda.


"Seperti pengantin baru saja. Padahal sudah beberapa bulan menikah," gumam Nita dengan menggelengkan kepala kuat-kuat.


***

__ADS_1


__ADS_2