Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab50. Pulang Malam.


__ADS_3

Bab50. Pulang Malam.


***


"Hey, kenapa kamu membawaku pulang sih, Mas!" Teriak Tazkia yang sudah berada di depan rumahnya.


Wanita muda itu masih tidak terima dengan keputusan Ari yang memintanya untuk pulang. Padahal dia ingin menemani kakak iparnya itu. Memberikan ruang agar Nita bisa curhat padanya.


"Lalu aku harus berbicara apa pada Mas-mu. Aku meminta izin membawamu pergi, lalu aku pulang sendirian. Kamu ingin aku di cap lelaki tidak bertanggungjawab," jawab Ari. Namun, Kia mendelik dan menginjak kaki Ari dengan kuat.


Lelaki itu tidak terlihat meringis, hanya terdengar helaan napas berat. Membuat Tazkia semakin kesal.


"Ingat, Kia, jangan memberitahu siapapun. Karena aku pun tidak akan memberitahu Tuan Krisna," ucap Ari.


"Bagus, harusnya kamu sekarang memberi pelajaran pada kakakku itu. Seenaknya saja mengabaikan kakak iparku. Memangnya dia ganteng!" Kelakar Tazkia yang tidak suka karena Krisna menduakan Nita.


"Memang dia tampan. Kamu saja cantik," bisik Ari, dan masih bisa di dengar Tazkia. Gadis itu tersipu malu. Dan mendorong Ari hingga lelaki itu hampir terjatuh.


Riska mendengar deru mesin mobil berhenti di depan rumahnya. Sudah tengah malam, Siapa yang baru pulang. Sedangkan Krisna sudah beristirahat di dalam kamarnya bersama Kasih. Lalu siapa yang berada di depan. Dia berjalan kedepan melihati Tazkia dan Ari.


Mulutnya sudah gatal ingin mengomel. Masalah Nita saja belum selesai, bahkan belum juga di temukan, dan sekarang dia mendapati anak gadisnya pulang dengan lelaki di tengah malam.


Ari menganggukkan kepalanya. Dia pun pamit undur diri untuk pulang. Setelah tatapan menusuk Riska layangkan. Tazkia yang melihat Ari tampak patuh pun perlahan memutar tubuhnya melihat kearah sumber tatapan Ari. Dia terkejut hingga memegangi dadanya.


"Hoy, aku yakin akan terjadi perang dunia." Tazkia tersenyum kikuk pada Mamanya.


"Masuk Kia!" Perintah Riska. Secepat kilat wanita muda itu berlari. Namun, tiba di pintu utama Riska menarik kerah baju anaknya agar dia tidak bisa lolos dari amukannya.


"KIA kamu anak gadis, kenapa sampai pulang larut. Kakak iparmu yang kedua saja pulang jam 10 malam meski telat," oceh Riska. Tazkia menempelkan jari telunjuknya mengisyaratkan mamanya agar tidak berteriak.

__ADS_1


"Masuk dulu boleh, Ma?" tanya Tazkia, Riska masih memberikan tatapan tajam, tetapi dia membiarkan anaknya masuk lebih dulu.


"Apa yang kamu lakukan dengannya?" tanya Riska. Dia berkacak pinggang, membuat Tazkia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Ingin kabur, pasti membuat nyonya marah. Mau berkata jujur tidak mungkin dia mengatakannya.


"Jalan-jalan, Ma. Iya, jalan-jalan. Tapi, mama tidak membiarkan aku makan dulu aku lapar," rengek Tazkia mencoba mengalihkan pembicaraan.


Riska memutar bola mata jengah, dia lebih baik melanjutkan tidurnya. Daripada harus berdebat dengan Tazkia. Gadis itu selalu pintar dalam mengaduk emosinya menjadi malu, karena Riska akan berakhir di goda anaknya.


Tazkia merasa lega ketika Riska sudah tidak mempermasalahkan pulang malamnya. Namun, baru saja dia akan masuk kekamar untuk beristirahat. Dia mendengar Kasih tengah berbincang lagi dengan seseorang di seberang telepon.


Namun, sayang di saat dia akan mendengarkannya Kasih sudah menutup sambungan teleponnya.


"Hah, andai saja dia tidak merepotkan aku, aku sudah bebas sekarang. Tetapi dia membuat aku tidak nyaman karena dia mengancamku akan pulang," ucap Kasih, Tazkia tampak berfikir, apakah wanita itu akan melakukan hal yang buruk pada kakak iparnya.


Dia langsung pergi meninggalkan Kasih yang tengah mengumpati kakak iparnya. Dia langsung memberi kabar pada Ari. Namun, dia belum juga mendapat balasan. Akhirnya dia pergi mengemudikan mobilnya menuju rumah Ari.


***


Ari baru saja keluar dari kamar mandi. Dia langsung melihat ponsel ketika seseorang baru saja meneleponnya.


"Kenapa lagi gadis bar-bar itu," gumam Ari, tak ayal lelaki itu langsung menghubungi Tazkia.


["Kamu jahat! Aku sudah di depan rumahmu sedari tadi!"] Gerutu Tazkia, membuat Ari langsung keluar kamar menuju pintu utama. Dia bahkan tidak mengingat jika dirinya kini hanya memakai handuk.


Tazkia langsung menutup matanya ketika Ari hanya berbalut handuk. Namun, lelaki itu tidak perduli dia langsung menarik tangan gadis itu untuk masuk kedalam.


"Hoy, dasar ca*ul!" Tazkia berusaha melepaskan cengkraman Ari. Namun, lelaki itu langsung menyentil kening Tazkia. Menyadarkan gadis itu.


"Harusnya aku yang bilang begitu, kamu yang ca*ul. Malam-malam datang kerumah seorang pria," kelakar Ari membuat Kia langsung tersenyum kikuk. Tangan kecilnya mulai nakal mengelus dada bidang Ari. Apalagi tetesan air yang jatuh dari rambutnya membuat dia terkesima.

__ADS_1


Ari baru saja akan menyentil lagi kening Tazkia. Namun, kali ini gadis itu bisa menghindar.


"Berhenti menganiaya aku! Aku punya kabar buruk. Sepertinya aku tidak akan menunggu lagi sebelum Kasih mencelakai kakak iparku. Dia menelepon lagi dengan seseorang, dan itu bukan Mbak Nita,"


"Eh, iyalah bukan sama Mbak Nita, kalau sama Mbak Nita yang ada dia jadi buronan polisi dong," ucapnya sendiri dengan terkekeh. Dia yang bertanya dia pula yang menjawab. Ketika dia melihat Ari, wajah lelaki itu sudah menatapnya dengan intens.


"Kamu bisa lebih serius dalam menyikapi sesuatu? Selalu saja konyol!"


"Aku ingin pergi lagi," rengek Kia, dia sudah khawatir sedari tadi. Hatinya sudah tidak tenang jika mengingat perkataan Kasih.


"Kamu tenang saja, di sana ada yang menjaga kakakmu. Besok saja kamu pergi. Aku akan mengantarmu, sekarang pulang dan istirahat," titah Ari.


"Tapi ...,"


"Siapa yang menjaga kakakku di sana. Kamu ngarang?! Di sana dia seorang diri Mas Ari!" Sentak Tazkia yang masih tidak percaya. Dia menggelengkan kepala, lalu mulai berjalan untuk meninggalkan rumah Ari. Namun, Ari menahannya.


"Jika aku mengatakannya, apakah kamu akan mengerti? Lebih baik kamu istirahat dulu, besok aku akan menceritakan segalanya." Ari bergegas mengambil kunci mobil Tazkia. Dia akan mengantarkannya.


Namun, Kia menahannya. Dia meminta Ari untuk memakai pakaian terlebih dulu. Setelah memakai pakaiannya, Ari langsung mengemudikan mobil Kia dan mengantarnya untuk pulang. Diperjalanan Kia terus mengoceh memikirkan tanggapannya Ari tentang status kakkanya yang berpoligami.


"Mas Ari," panggil Kia, lelaki itu hanya menjawabnya dengan deheman.


"Sebenarnya kamu mendukung Mas Krisna gak sih, kalau dia mempunyai dua istri. Apa tanggapan kamu tentang dia?" Tanya Kia, dia ingin mendengar bagaimana pandangan seorang lelaki.


"Saya mendukungnya!" Jawab Ari polos, dengan cepat dihadiahi pukulan di bahu Ari. Gadis itu menggerutu tidak terima.


"Dasar cowok sama saja, bilangnya setia padahal modus. Kamu gak pantas dipanggil buaya, karena mereka setia. Kamu pantas dipanggil kucing, karena mereka suka kawin bukan sama pasangannya, meeoooww," gerutu Kia sembari mencakar tangan Ari. Lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah konyol adik majikannya.


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2