Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab89. Rumah Impian.


__ADS_3

Nita tengah duduk melamun di teras depan rumah Krisna. menikmati pemandangan indah yang selamanya ini belum pernah tergapai. Rumah impian, rumah yang ditinggali dirinya bersama suaminya kelak dan juga buah hati mereka, buah cinta atas pernikahan mereka. Senyuman itu terangkat, pemandangan itu sungguh meneduhkan hatinya.


Nita kembali memegangi kalung yang sempat terpakai oleh Tazkia, dan kini kembali menjadi miliknya. Lalu jika bukan Krisna siapa pemilik kalung itu? otaknya berpikir keras, harus mencari kemana dirinya, waktu yang sudah terjadi telah lama terlewati. Apalagi dia tidak mengingat siapa bocah lelaki yang telah datang untuknya, dia hanya tingat jika Krisna berada disampingnya saat di rumah. Serta memegangi kalung itu dan memberikannya pada Nita.


"Harus mencari kemana? aku belum sempat berterima kasih, dan tahu namamu," gumam Nita, dia berdiri memutar tubuhnya untuk kembali masuk kedalam rumah.


Namun, dia terkejut ketika Krisna tengah memandangnya di ambai pintu dengan tatapan yang tidak biasa. Wanita itu tampak salah tingkah, menyelipkan anakan rambut kedaun telinganya sendiri, dia juga berdehem berulang kali agar mengusir rasa gugupnya.


Namun, karena merasa tidak enak melihat tatapan Krisna, Nita memilih untuk berjalan melewati pintu samping. Krisna yang melihat Nita berjalan kesamping ikut mengejarnya.


"Kenapa tidak lewat depan?" Krisna membuka suara, bahkan laju langkahnya mengikuti kecepatan langkah Nita. Wanita itu yang merasa risih langsung berhenti melangkah, Krisna yang tidak tahu jika Nita berhenti tanpa aba-aba langsung menubruk tubuh Nita.


Gadis itu terpental, tetapi Krisna berusaha mengagapai lengan Nita. Setelah tergapai tubuh Nita berputar lalu jatuh kedalam pelukan Krisna. Hati Nita berdebar-debar, memejamkan mata. Berharap Nita tidak terjatuh. Mengingat begitu kuat tubuhnya tertubruk oleh Krisna. Perlahan Nita membuka matanya, dia tidak terjatuh, ya, tubuhnya masih tegak berdiri. Namun, seseorang telah mendekapnya dengan kuat. Nita teringat dengan aroma parfum itu, Krisna, apakah dia yang telah memeluknya?


Nita mendongak memandangi wajah Krisna yang begitu dekat dengan wajahnya. Dia yang baru menyadari langsung mendorong tubuh Krisna agar menjauh dari tubuhnya.


Krisna berdehem berulang kali untuk menghilangkan rasa canggung diantara mereka. Dia menyesali karena telah membuat wanita itu akan terjatuh.


"Maaf." Hanya kata itu yang bisa Krisna ucapkan, lelaki itu bingung harus memberi alasan apa ketika Nita tidak akan memercayainya. Namun, Nita masih bergeming, tidak mengatakan sepatah katapun.


Krisna pun meninggalkan Nita seorang diri di sana. membiarkan wanita itu untuk menyendiri, Krisna menyadari jika insiden yang akan membuat Nita terjatuh karena dirinya. Nita masih menatap kearah depan dengan tatapan kosongnya, lelaki itu memegangi pundak Nita dengan sedikit menyentak ketika Nita tidak kunjung tersadar saat dirinya memanggil.


"Nona." Panggilan itu sudah kesekian kalinya Indra ucapkan. Nita terkesiap menggelengkan kepalanya, dia memukul kepalanya membuat Indra berusaha menahan tangan Nita agar wanita itu tidak mencelaki tubuhnya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa? belum bisa melupakannya saat kalian begini." Indra merapatkan telunjuk dan jari tengahnya berhimpitan. Sontak saja mata Nita melotot tidak percaya jika Indra melihat adegan memalukan itu.


"Anda salah paham, kami--"


"Saya sudah tahu, Nona. Kalau dia tidak membantu anda, jika dia telat saja satu detik." Indra menunjuk kearah kening Nita. "Keningmu akan benjol," ucapnya melanjutkan apa yang dia ketahui.


Nita memandang Indra dengan tatapan mengagumi, Indra mengulas senyum. Mempersilakan wanita itu untuk berjalan lagi lewat pintu samping rumah Krisna. Sedangkan lelaki itu ikut mengekor dibelakang Nita.


"Kadang heran dengan tingkah perempuan. Padahal lebih dekat lewat depan, mengapa harus repot-repot malah memutari rumah, lelaki akan berpikir jika dia masih mencintainya ketika wanita itu enggan saling berdekatan. Hati dan ucapan bertolak belakang," kelakar Indra, membuat Nita yang semula santai kembali memasang wajah garang.


"Jadi maksud kamu saya masih mencintai dia? apa hakmu berbicara seperti itu!" Nita tampak garang seperti kucing yang akan mencakar orang yang baru ditemuinya.


"Marah? berarti benar apa yang saya katakan?" tebak lelaki itu membuat Nita naik vitam. Dia mengejar Indra untuk dia cakar. Indra yang menyadari langsung berlari, menghindari serangan Nita.


Krisna melihati kedekatan mereka dari atas balkon. Tatapannya begitu iri, mendapati jika wanita pujaannya bercanda begitu bahagia bersama lelaki lain. Seperti inikah rasanya ketika Nita dulu melihat keromantisan dirinya bersama istri mudanya.


"Karma itu nyata." Setelah mengatakan kata itu Tazkia berbalik meninggalkan sang kakak. Ari berjalan mendekati tuannya untuk memberitahukan jika dia harus segera datang kekantornya.


***


Krisna turun kebawah dan melihat mereka masih belum usai berkejaran. Lelaki itu berdecih merasa tingkah keduanya sungguh kekanak-kanakan.


"Pergilah ketaman kanak-kanak agar bisa bermain sepuasnya. Rumah saya bukan taman hiburan!" sru Krisna dengan dingin, ketika dia melewati dua orang itu.

__ADS_1


Nita dan Indra tampak terengah-engah, saling melempar pandangan dengan tatapan bingung. Keduanya saling menautkan alis merasa tersindir.


"Ada masalah apa anda datang?" tanya Krisna langsung ditujukan pada Indra.


"Saya akan menjemput Nona Nita, Tuan," jawab Indra lelaki itu membungkukkan badannya. Krisna mencebikkan bibirnya, alih-alih langsung pergi bekerja dia malah berjalan kearah Indra dengan tangan dia masukkan kedalam saku celananya.


"Apakah akan bersaing dengan saya?" tanya Krisna penuh tekanan. Indra tampak menautkan alisnya membuat Nita bingung apa yang mereka bicarakan. Namun, Nita tidak mungkin mendekatkan dirinya pada dua lelaki itu agar dia bisa mendengarnya.


"Apa yang kalian ...," kata Nita menggantung ucapannya dengan telunjuk dia arahkan pada Krisna dan Indra.


Krisna berdehem, mengalihkan pandangan dari Indra dan memilih pergi meninggalakan mereka tanpa berpamitan pada Nita. Dia tidak ingin memperlihatkan kecemburuannya dihadapan Nita.


Nita melihati langkah mantan suaminya yang mulai menjauh dari pandangannya, setelah Krisna masuk kedalam mobilnya Nita mengalihkan pandangan menatap Indra, meminta penjelasan.


"Urusan lelaki." Lelaki itu meninggalkan Nita yang masih bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Indra.


Indra melihat kearah balkon ketika dia menyadari jika seseorang telah melihati mereka dari atas sana. Hatinya terenyuh, ketika dia yakin akan menjadi kesalahpahaman lagi.


Indra menghela napas kasar, dia ingin kembali kemasa itu. Masa di mana dia masih bersamanya, menghabiskan waktu bersama tanpa adanya penghalang seperti saat ini. Berpura-pura tidak mengetahui, tetapi hati masing-masing masih saling peduli.


"Andai waktu bisa kuputar kembali," gumam Indra dengan wajah sendunya.


Dia melihat kearah ponselnya ketika Nita mengiriminya pesan singkat, Indra menoleh kembali kearah belakang. Berharap Nita masih berada di luar, dia bisa ikut masuk kedalam rumah itu bersama wanita itu.

__ADS_1


"Ah, kukira dia akan pergi ketokonya."


***


__ADS_2