
Memilih gaun serta fitting baju telah dilakukan. Tanpa terasa pun siang telah berganti dengan malam hari. Tidak terasa waktu cepat berlalu di saat mereka sibuk dengan memilih gaun hingga seharian. Malamnya pun Sebelum pulang Indra mengajak Nita dan Kia untuk makan malam terlebih dulu sebelum pulang. Nita terus besenda gurau dengan Kia, saat Indra mulai masuk dalam perbincangan Nita langsung terdiam seolah tidak ingin mengganggu kedekatan mereka.
"Apakah kamu senang, Nona Kia?" tanya Indra dengan wajah yang tersenyum bahagia. Nita memandangi Indra yang terlihat semakin mesra dengan Kia.
"Tentu saja aku senang, tidak ada perempuan yang tidak akan senang jika dia akan segera menikah," jawab Kia sembari memasukkan buah-buahan yang terhidang di dalam meja, sebagai cuci mulut.
"Aku terlalu naif jika merasa dia mencintaiku, mereka akan segera menikah. Dan aku tidak mau disebut wanita murahan karena mengganggu hubungan orang. Mulai saat ini aku tidak akan tergoda lagi dengan ucapannya," batin Nita.
"Setelah menikah kamu ingin pergi honeymoon kemana?" tanya Indra lagi, lelaki tampan itu tampak begitu antusias bertanya pada Kia, dan mungkin dia melupakan kehadiran Nita diantara mereka.
Kia tampak berpikir, dengan mengetukkan jari telunjuknya kebibir, terlihat menghitung seolah tengah memikirkan kemana saja mereka akan pergi. Nita yang tersedak saat pertanyaan itu, Indra lontarkan. Bahkan air yang sempat masuk kedalam mulutnya keluar membuat pakaiannya basah. Mulutnya dia tutupi dengan tangan agar air itu tidak menciprat di makanan yang terhidang.
Indra dan Kia menatap Nita bersamaan, merasa khawatir saat wanita itu tengah terbatu-batuk. Kia langsung berdiri dan duduk diamping Nita.
"Hati-hati, Mbak. Kenapa tidak pelan-pelan, 'kan tidak akan ada yang minta juga," celetuk Kia dengan mengelap bibir Nita.
"Mmm, apa Mbak juga mau ikut aku untuk pergi honeymoon? kalau mau bicara saja Mbak, Tuan Indra akan mengizinkan bukan!" seru Kia dengan menaikkan alisnya sebelah.
"Eh, apa yang kamu katakan Kia." Nita mengambil alih tisu yang tengah Kia pegang.
"Mungkin ada orang yang tengah membicarakan Mbak, makanya Mbak tersedak," kilah Nita.
"Apaan sih, Mbak. Masih percaya takhayul. Mbak itu terlalu kaget saat minum makanya tersedak. Yang logis saja kalau bicara," ucap Kia membuat Nita hanya memutar bola matanya kesana-kemari. Dia bingung harus menjawab apalagi.
"Aku permisi dulu kekamar mandi, ya, Kia," pamit Nita. Dengan perasaan yang malu karena perkataan Kia benar adanya. Dia terlalu kaget karena pertanyaan Indra.
__ADS_1
Nita membasuh wajahnya di wastafel. Menatap cermin yang tengah memantulkan dirinya. Bentuk wajahnya, penampilannya yang mungkin sudah tidak menarik lagi mengingat usianya yang sudah memasuki kepala tiga.
Embusan napas berat dia lakukan saat mengingat pernikahan pertamanya yang hancur karena orang ketiga. Jelas karena dia yang salah terlalu mencintai dan dibutakan oleh cinta.
Nita membawa benda yang berada di sakunya. Kalung yang telah lama ia berikan pada Kia kini telah Kembali dalam genggamannya.
"Apakah kamu mencari ku? atau kamu sudah tidak mengingatku," gumam Nita. Setelah merasa lebih baik dia mulai keluar dari kamar mandi. Memasukkan kembali kalung itu kedalam sakunya.
Baru saja satu langkah dia keluar, seseorang menarik tangannya dan menubrukkan tubuh Nita Kedinding. Indra, lelaki itu melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan.
"Tuan Indra!" Nita memekik saat jarak keduanya begitu dekat. Berani-beraninya lelaki itu melakukan hal seperti ini padanya. Nita berusaha menoleh kekiri dan ke kanan dengan tangan dia angkat di depan wajah. Dia takut jika Indra akan menciumnya. Dia juga takut jika Kia datang dan melihat adegan yang tidak seharusnya seperti ini.
"Menjauh dariku, Tuan Indra!" seru Nita, giginya bergemurutuk saat dia meminta tetapi lelaki itu sama sekali bergeming di tempatnya.
Nita pun berusaha memberontak, agar Indra menjauh dari tubuhnya. Matanya memerah sempurna dengan kilatan emosi yang memuncak.
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Indra dengan nyaring terdengar. Rasa ngilu dan panas begitu terasa di pipinya saat ini. Indra mengusap pipinya yang telah di tampar.
"Kurang ajar kamu!" Nita menjeda ucapannya. "Mentang-mentang saya janda, jadi kamu bisa seenaknya melakukan hal seperti ini!! kamu benar-benar telah merendahkan saya sebegai seorang wanita. Ingat usia kita tidak sama, kamu dan saya jauh lebih tua saya. Harusnya kamu menghormati saya, seperti Bian yang tidak pernah melakukan hal gila seperti ini!" maki Nita. Indra hanya menatap datar kearah Nita tanpa menyanggah ucapannya.
Membiarkan uneg-uneg yang dia rasakan agar dia keluarkan.
"Apa yang kamu lihat kemarin bukanlah di sengaja, kamu mengira saya dan dia tengah melakukan hal yang tidak senonoh begitu, dan kamu pun mencoba melakukannya," cerca Nita lagi dengan napas yang terengah-engah.
"Kamu sudah akan menikah dan beraninya kamu berbuat tidak senonoh padaku. Berhenti mengganggu saya!"
__ADS_1
Nita meninggalkan Indra yang masih berdiri di tempatnya. Lelaki itu tidak mengatakan sepatah kata pun, mencoba menjelaskan saja tidak. Perilakunya membuat Nita muak. Dia sudah berjanji akan menjauhi Indra mulai saat ini, tidak peduli dengan perasaannya. Dia tidak mau kejadian dulu terulang lagi.
"Eh, Mbak bertemu dengan Tuan Indra? dia juga berpamitan ke kamar mandi," ucap Kia, wajah gadis itu tampak biasa saat melihat wajah memerah Nita yang tampak emosi.
Alis Nita terangkat saat gadis itu sama sekali tidak bertanya apakah Indra mengganggunya seperti tadi pagi.
"Mbak, tidak bertemu sama sekali dengannya," jawab Nita, setelah menjawab Indra datang dengan wajah tanpa dosanya. Seolah dia tidak melakukan kesalahan apapun.
"Bagaimana aku mengatakan pada Kia, kalau lelaki itu sungguh tidak baik," batin Nita.
"Tuan Indra, maaf sepertinya aku harus pulang lebih dulu. Kamu antarkan Mbak Nita, jangan sampai dia pulang sendirian." Tanpa menunggu jawaban Kia langsung bergegas pergi meninggalkan mereka.
Nita menatap dingin kearah Indra yang tengah memandangnya dengan tatapan sumringah. Akhirnya dia bisa kembali berduaan dengan wanita itu.
"Terima kasih untuk makan malamnya, Tuan Indra, saya pamit." Nita pun menyeret kursinya dengan kasar. Namun Indra tidak tinggal diam, dia berusaha mencekal tangan wanita itu agar tidak pergi dari hadapannya.
"Jangan membuat aku menjadi lelaki yang tidak bertanggungjawab karena membiarkanmu pulang sendirian." Nita menghempaskan tangannya yang tengah dicekal lelaki itu dengan erat.
"Berhenti berbicara omong kosong, ini kemauanku, kamu tidak perlu merasa bersalah! cepat lepaskan!" seru Nita dengan tegas. Tetapi Indra tidak menggubrisnya dia semakin erat mencengkram pergelangan tangan Nita, hingga membuat Nita mengaduh.
Hingga tiba di luar restoran Nita langsung mengancam Indra untuk melepaskan tangannya.
"Lepas atau aku akan meminta Kia, untuk tidak datang denganmu ketika dia ingin mengunjungiku!"
***
__ADS_1
Terima kasih untuk yang masih setia dengan cerita ini๐ jika masih ada tokoh yang tertukar dan typo mohon dimaklumi ya๐