Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab148. Berita Spektakuler


__ADS_3

Nita yang tengah makan malam romantis malam ini berbeda dengan Tazkia yang keheranan melihat kedekatan Krisna dan juga Karina. Tidak biasanya Krisna seakrab itu pada gadis itu, yang Kia tahu Krisna begitu membenci Karina. Bahkan untuk sekadar menemui anaknya saja tidak diperbolehkan.


Ketika makan malam telah usai mereka berbincang-bincang dan mulai berbasa-basi. Kia yang sudah tidak tahan melihat keakraban mereka diam-diam mengambil potret keduanya untuk dikirimkan pada Nita.


"Yah, belum dibaca juga," gerutu Kia yang sebal karena Nita tidak kunjung membacanya.


"Karina, jika kamu ingin mengajak anakku bermain ajak saja besok ke toko bersamamu jika Nita tidak keberatan kamu membawanya," titah Krisna dengan tatapan ramah. Tazkia sungguh tidak bisa berkata-kata lagi selain mengerjapkan matanya tidak percaya.


"Kesambet apa dia Mas Ari?" bisik Kia di telinga suaminya. Ari yang yeng tengah menengguk minuman pun langsung tersedak. Heran dengan pertanyaan istrinya.


"Apa yang kamu pikirkan?" Ari balik bertanya.


"Heran saja mereka menjadi akrab begitu,"


"Kamu kenapa Ari?" tanya Krisna yang mengamati adik ipar dan juga adik kandungnya. Tazkia tersenyum kikuk dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sejak kapan, Mmm, anu, kapan kalian bisa seakrab itu?" tanya Kia to the point. Krisna menatap dalam adiknya dengan pertanyaan gamblang itu.


Sebelum menjawab dia menatap lebih dulu kearah Karina seolah meminta tanggapannya. Karina tersenyum tetapi seolah dipaksakan.


"Kami memang harus dekat bukan, dia saudara anakku satu-satunya. Dan mungkin bisa menjadi ibu sambung untuk anakku," tutur Krisna membuat Tazkia bungkam.


"Kamu keberatan Nona Kia?" tanya Karina mulai menimpali. Tazkia menggeleng.


Karina membalas dengan senyuman yang tidak biasa. Dari meja belakang Krisna seseorang tengah menguping perbincangan mereka. Rasanya ingin sekali orang itu keluar dan menghajar orang yang tengah membawa orang yang dicintainya. Tangannya terkepal kuat di bawah meja.


"Ingin rasanya aku memukul anda, Tuan," Batin Bian menggertakkan giginya.


"Menurutmu apakah dia cocok menjadi ibu sambung untuk anakku Kia? Tidak masalah bukan jika dia menjadi kakak iparmu?" tanya Krisna tertuju pada Kia. Kia yang semula hanya mengamati mereka langsung salah tingkah.


"Aku ... Tidak masalah jika kalian saling suka? Asal jangan saling terpaksa dan saling menyakiti. Ingat Mas, kamu pernah gagal dalam membina rumah tangga. Aku tidak mau kamu gagal lagi, jangan main-main dengan pernikahan," terang Tazkia memberikan nasihat.

__ADS_1


Krisna mengangguk, lalu berpamitan untuk pulang. Setelah Krisna dan Karina telah meninggalkan restorant. Bian datang menghampiri Ari dan Tazkia. Bian meminum bekas Karina dengan satu kali tenggakan.


"Mereka berpacaran?" tanya Bian pada Tazkia.


"Iya, begitulah mungkin," jawab Kia dengan memutar pupil mata malas.


"Pantas saja dia selalu mengabaikan aku, sejak kapan mereka dekat Nona?"


"Aku baru melihat mereka malam ini dekatnya. Entah jika sebelumnya aku tidak tahu,"


Bian mengacak rambutnya frustrasi melihat pujaan hatinya bersama orang lain tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kejar jika kamu mencintainya!" timpal Ari dengan ketus.


"Saya dan istri saya harus pergi." Ari menarik lengan Kia untuk pergi dari hadapan Bian.


"Kenapa kamu malah memintaku pulang, Mas? Kasihan dia." Ada rasa iba yang mulai menghinggapi relung hatinya. Akan tetapi dia tidak bisa menolak keinginan suaminya.


"Biarkan dia selesaikan sendiri urusannya."


***


Indra bahkan bergadang hingga pagi menjelang. Saat Nita sudah terbangun matanya memicing melihat sekitar tidak mendapati suaminya berada di ranjang. Perlahan Nita turun dari ranjang menuju kamar mandi.


Dia menempelkan telinganya di depan pintu. Namun, tidak ada suara gemiricik air, apakah suaminya sudah pergi bekerja? Nita yang penasaran mencoba mengetuk pintu.


"Tuan, Indra kamu ada di dalam?" Hening, dia pun mencoba membuka pintu dan mendapati kamar mandi tiada penghuni.


Dia berjalan menuju nakas untuk membawa ponselnya. Dia juga memanggil suaminya. Panggilan pertama tidak mendapat jawaban, tepat di dering kedua suaminya mengangkatnya.


"Ya, kemari sayang aku ada di ruang kerja," titah Indra dengan suara serak khas bangunnya. Nita pun bergegas kesana. Namun, dia bingung di mana ruangan kerja suaminya. Mau tidak mau Nita pun memutari lantai atas untuk mencari suaminya.

__ADS_1


Nita bingung harus kemana untuk mencari suaminya. Dia pun kearah kiri dan terdapat dua kamar. Di sebelah kanan terdapat satu ruangan yaitu ruang kerja Indra.


"Nona mencari, Tuan?" tanya pelayan yang baru saja membersihkan kamar di sebelah Nita. Wanita itu menoleh dan menganggukan kepalanya.


Nita di arahkan ke kanan ruangan suaminya. Ternyata tidak jauh dari kamarnya.


"Terima kasih," ucap Nita. Pelayan pun menganggukkan kepalanya dan pamit undur diri.


Nita mengetuk pintu dengan ragu. "Masuk!" Suara suaminya yang tegas.


Nita membuka knop pintu dan mendapati suaminya yang masih menutup mata di sofa yang berada di dalam.


"Masih tidur? Tadi kok bisa sempat menyuruh masuk? Sudah siang, kenapa belum kerja," ucap Nita sembari berjongkok mensejajarkan dengan tubuh suaminya.


Nita melihat setiap inci wajah suaminya, hidung mancung, matanya yang penuh pancaran kasih sayang. Dan perilakunya yang membuatnya tidak bisa berhenti untuk memikirkan Indra. Bibir Nita tersungging melihat lelapnya suaminya. Saat tengah asyik mengamati tangan Nita di tarik hingga tubuhnya ikut berbaring di sofa bersama suaminya.


"Tuan!" pekik Nita yang merasa kaget.


"Aku lelah ingin memelukmu, biarkan seperti ini," pinta Indra, Nita pun menurut. Dia memeluk suaminya dan menghirup aroma tubuh suaminya. Lagi-lagi kenyamanan kembali melanda. Dia tidak ingin berjauhan dengan suaminya.


Cup Nita mengecup pipi Indra dengan cepat. Tetapi Indra tidak bereaksi apapun. Dia terlalu nyaman memeluk istrinya. Hingga dering ponsel Indra berbunyi Nita pun melepaskan diri dari pelukan Indra. Dia juga mengangkat telepon dari Kia.


"Kenapa Kia?" tanya Nita saat mengangkat teleponnya.


"Mbak ketinggalan berita? Sesibuk itukah hingga kamu tidak membaca pesanku," rengek Kia dengan manja di seberang sana. Nita memicingkan matanya seolah tidak mengerti dengan ucapan Kia. Dia tidak sempat mengecek ponselnya. Siapa yang mengiriminya pesan singkat pun dia tidak memedulikan nya.


"Lihatlah Mbak, ini adalah berita spektakuler!" Kia kembali mengompori Nita untuk segera membaca pesannya.


"Sepenting apa beritanya hingga kamu rela menelepon suamiku Kia," tandas Nita dengan lembut, namun memberikan efek kecanggungan pada Kia.


"Ah, apakah kamu cemburu padaku Mbak Nita. Karena dia mantan pacarku? Aku hanya ingin memberitahumu saja, jangan salah paham," terang Kia yang mengerti arah pembicaraan Nita. Nita tergelak mendengar jawaban Kia. Tidak menyangka jika dia akan bereaksi seperti itu.

__ADS_1


"Ya, aku akan melihatnya!"


***


__ADS_2