
Bab34. Riska Nanda.
***
Nita dan Krisna saling menunduk tidak bisa mengucapkan kata-kata. Riska Nanda ibunda Krisna dapat mengetahui gelagat keduanya. Mereka pasti tengah menyembunyikan sesuatu pada dirinya.
Sepasang suami istri yang dia anggap bahagia nyatanya menyimpan rahasia. Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan. Membuat Riska merutuki diri sendiri pergi cukup lama.
"Kalian bertengkar? Masalah apa? Mengapa Nita bisa meminta ingin berpisah denganmu Krisna. Jangan bilang kamu melukai hatinya. Atau bahkan kamu berselingkuh dari dia," ucap Riska ibu dari Krisna.
Krisna masih belum memberikan komentar tentang pertanyaan dari Riska. Tetapi, semua harus dibeberkan.
"Ya, dia meminta berpisah Ma. Dan aku memang mempunyai dua istri," ucap Krisna berterus terang. Dia lebih baik berbicara kebenaran. Karena lambat laun mamanya pun akan mengetahui tentang masalah itu.
Riska menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang telah Krisna lakukan. Pantas saja menantunya ingin berpisah. Rasa sakit yang Nita rasakan membuat wanita baya itu langsung menampar anaknya sendiri.
Meski Krisna anak kandungnya, tetapi dia akan memarahi anaknya itu jika dia berada di jalan yang salah. Bagaimana pun dia tidak akan membenarkan poligami itu.
"Kalian saling mencintai bukan? Dan kamu mengapa menduakan Nita, Krisna? Secantik apa istri keduamu itu sampai kamu melukai hatinya. Kamu lupa dengan janji yang telah kamu ucapkan pada orangtuanya Nita? Kamu menikahinya untuk menjaga raga dan juga hatinya!" Teriak Riska murka. Dia bahkan menampar Krisna lagi.
"Apa yang kurang pada menantuku ini." Riska beralih menatap Nita. Memegangi lengan Nita dengan wajah sedihnya.
Riska memeluk Nita dengan erat, dia dapat mengerti bagaimana sakitnya berada dalam situasi menantunya. Riska menuntun Nita yang tengah terisak. Dia mengelus punggung Nita dengan lembut.
Bagai seorang ibu yang tengah menguatkan anaknya. Nita merasa sedikit lega saat ini. Datangnya Riska membuat dirinya mempunyai kekuatan.
"Sayang ... Maafkan Mama yang tidak menjengukmu dalam waktu yang cukup lama. Mama kira kamu Bahagia, ternyata asumsi Mama salah, maafkan anak Mama sayang." Riska merasa bersalah pada Nita. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri. Mengingat dia terlambat mengetahuinya. Jika dia tahu, dia akan membatalkan pernikahan Krisna dengan wanita itu.
__ADS_1
"Kamu tidur dulu ya, sayang. Mari Mama antar," ucap Riska. Nita berusaha menolak tetapi dia tetap mengikuti apa yang di katakan Riska. Mereka berdua berjalan memasuki kamar khusus itu.
"Ma, ini bukan salah Krisna. Ini salahku karena mengizinkan dia untuk menikah lagi. Aku yang seharusnya di salahkan bukan dia. Aku terlalu mencintainya dan a--"
"Sudah, Nak. Kamu beristirahatlah, biar Mama yang bicara dengan Krisna," potong Riska. Namun, sebelum Riska pergi, Nita mencegahnya dan menggelengkan kepalanya.
"Dia tidak bersalah, Ma." Riska melepaskan cekalan tangan Nita. Dia akhirnya menuntun Nita untuk berbaring di ranjang itu. Dia mengusap kepala Nita agar wanita itu cepat tertidur.
Beberapa menit kemudian Nita tertidur pulas. Terdengar dari dengkuran halus yang Riska dengar. Wanita baya itu menyentuh wajah menantunya yang sembab karena menangis. Dia pun meneteskan air mata, merasa dia sudah gagal mendidik anak lelakinya.
"Krisna! Krisna!" Panggil Riska dengan berteriak ketika dia tidak melihat batang hidung anaknya. Krisna keluar dari kamar mandi dengan gaya tanpa dosanya. Begitu tenang seolah dia tidak pernah menyakiti hati siapapun.
Riska menghampirinya dengan bertolak pinggang. Tatapannya tajam begitu menusuk.
"Kenapa, Ma?" tanya Krisna. Riska yang sudah naik vi*am pun langsung menghadiahi anaknya dengan pukulan. Dia memukulnya dengan tas jinjing yang tengah ia bawa. Bahkan Riska menjewer telinga anaknya yang masih bersikap santai tanpa dosa, seolah perlakuannya pada Nita bukanlah hal yang patal.
"Ini tidak sebanding dengan apa yang menantuku rasakan. Dasar lelaki tidak punya perasaan. Ingat Mama tidak akan mendukung kamu meski kamu anak kandung Mama." Tunjuk Riska kearah anaknya.
"Meski dia ingin berpisah denganku, Mama akan mendukungnya juga?" tanya Krisna. Riska mendelik dan menganggukkan kepalanya malas.
"Dia tidak akan bisa jauh dari sisiku, Ma, dia tidak mungkin bisa hidup tanpaku," ucap Krisna percaya dirinya. Riska langsung memukul lengan anaknya dengan kasar.
"Sudah berapa lama kamu menduakannya?" tanya Riska.
"Aku tidak menduakannya, Ma," jawab Krisna. Membuat Riska gemas sendiri. Rasanya wanita itu ingin menonyor kepala anaknya itu. Mengapa anaknya berbeda dengan suaminya. Ayah dari Krisna begitu bisa menghargai seorang wanita, apalagi jika statusnya sebagai seorang istri.
Alasan itulah yang membuat keluarga Nita memilih Krisna untuk menjadi suaminya. Keinginan itu masih terekam jelas oleh Riska.
__ADS_1
"Maksudmu, kamu tidak mencintainya jadi kamu tidak merasa menduakan cintanya meski kamu melakukan pernikahan dua kali," ungkap Riska menilik setiap ucapan yang dilontarkan anaknya. Krisna mengangguk dengan senyuman yang terpaksa ia lengkungkan.
Riska mendesah berat, "kamu bukannya mencintai dia, lalu mengapa bisa kamu berkata seperti itu, Krisna. Mama dan almarhum Papa sungguh malu dengan perlakuan kamu pada Nita," resah Riska dengan wajah frustrasi.
"Keputusanku tetap dan tidak bisa dirubah Ma, dia tetap akan berada disampingku," tegas Krisna tanpa mau mendengar lagi ucapan mamanya. Krisna memilih meninggalkan Riska dan mulai melanjutkan pekerjaannya kembali.
"Bagaimana bisa kamu bilang kamu tidak mencintainya sedangkan kamu tidak mau melepaskannya. Biarkan dia pergi mencari kebahagiaannya sendiri. Kamu masih tetap bisa menjaganya tanpa harus menyakiti hatinya," ucap Riska panjang lebar. Namun, Krisna tidak menanggapinya sama sekali. Lelaki itu sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.
"Mama akan dukung dia jika kamu tidak juga menceraikan istri keduamu itu. Sebaik apapun kamu menjelaskan Mama tidak akan pernah menyukainya. Ingat itu!"
"Kau ini menganggap Mama-mu patung. Padahal wanita ini yang melahirkan kamu, kamu sudah banyak berubah sekarang. Mau jadi anak durhaka kamu?" Oceh Riska. Namun, tetap saja Krisna tidak menanggapinya. Merasa tidak dianggap Riska terus mencari cara agar anaknya menanggapi dirinya.
"Ok! Kalau begitu biarkan Nita tinggal di rumah, Mama," ucapan Riska mampu membuat Krisna menghentikan pekerjaannya.
"Dia harus terbiasa, Ma. Kemarin dia sudah marah-marah karena ingin dia dan lelaki itu tetap bertemu. Aku sudah mengabulkannya. Dan sekarang Mama ingin dia tinggal bersamamu. Lalu aku, siapa yang melayani," cerca Krisna, dia mengucapkan protesannya.
"Ada istrimu yang lain, mengapa takut tidak di layani Nita. Dasar lelaki maunya enak saja!"
"Tapi aku benar-benar menjaganya, Ma. Bahkan sampai saat ini aku belum menyentuhnya,"
"Apa kamu bilang! Ya Tuhan, Krisna!"
"Pokoknya Mama, mau dia tinggal bersama Mama,"
"Aku tidak akan mengizinkannya, Ma,"
***
__ADS_1
Bersambung ...