
Karina datang di waktu yang tidak tepat. Menawarkan dirinya untuk bersama Indra, sedangkan Nita tidak ingin pulang bersama Krisna. Wanita itu tampak bersungut menoleh kearah Karina dengan tidak rela, tetapi apa boleh buat, sudah terlanjur seperti ini dia hanya bisa pasrah.
Karina masuk kedalam mobil Indra dengan wajah datarnya, ini kesempatan baginya untuk membuat perhitungan pada lelaki tidak tahu malu itu. Lelaki mes*m yang sungguh tidak tepat meski pun hanya berteman dengan Nita.
Indra melajukan kendaraannya memecah jalanan, hawa dingin dan hening terasa. Lelaki itu tidak menyangka jika Karina begitu menakutkan.
"Saya hanya ingin memperingati kamu, jauhi Mbak Nita. Dan katanya kamu itu mantan Nona Kia ya. Untung sudah jadi mantan, lelaki cab*l seperti kamu tidak pantas dengan Nona Kia, apalagi dengan Mbak Nita," ledek Karina saat mulutnya sudah gatal ingin memaki lelaki itu.
"Hey! tarik kata-katamu itu, saya tidak seperti yang anda kira," sanggah Indra tidak terima dengan ledekan Karina.
"Lalu apa? semua wanita akan berpikir seperti itu, jika anda melakukan hal seperti kemarin. Membuntuti orang, dan membekap orang itu sampai pingsan. Menurutmu itu baik," ucap Karina menyudutkan Indra. Lelaki itu memukul setir mobil dengan frustrasi. Mengapa masalahnya menjadi rumit seperti ini. Seharusnya dia katakan saja kalau Bian yang menyuruhnya.
"Hey, Nona dengarkan saya, saya tidak mung--"
"Ya, tidak mungkin tidak melakukan hal yang lebih jika saya terbangun, begitu," potong Karina, menyela ucapan Indra.
"Turunkan saya!" seru Karina, saat dia merasa telah mengatakan apa yang harus dia katakan. Namun, Indra tetap melajukan mobilnya, tidak berniat menepi.
"Tuan Indra, saya akan melompat keluar jika anda tidak menepikan mobilnya," ancam Karina, lelaki itu memegang seat belt yang tengah membelit tubuh Karina agar gadis itu tidak melakukan hal nekat.
Kuatnya cekalan tangan Indra yang memegang seat belt membuat Karina diantarkan hingga kedepan kontrakannya. Setelah sampai Karina memandang tajam kearah Indra.
Terlanjur di tuduh cab*l, Indra pun mencoba menggoda gadis itu, saat Karina akan berdiri, Indra mencekal tangan gadis itu hingga Karina mendudukkan bokongnya kembali di kursi mobil.
Lelaki itu mendekatkan wajahnya kearah Karina membuat Karina memalingkan wajahnya kearah lain. Gadis itu semakin yakin jika Indra lelaki tidak baik.
__ADS_1
"Lepas!" teriak Karina, Indra malah meniup telinga gadis itu. Dia tertawa jahat karena berhasil membuat gadis itu kesal.
"Jangan Piktor Nona garang, saya hanya membantu anda membuka ini." Tunjuk Indra saat Karina lupa melepaskan seat belt-nya. Gadis itu bersemu merah, menahan malu.
"Ingat kata-kataku!" sungut Karina yang masih menampilkan wajah garangnya.
["Sudah mengantarkan Karina?"] tanya Nita mengirimi pesan singkat pada Indra.
"Sebaiknya memberikan mereka ruang untuk saling membicarakan masalah mereka. Saya tidak mau dianggap menjadi orang ketiga," gumam Indra, dia pun membalas.
["Sudah Nona Nita, pegawaimu garang juga seperti kucing garong."] Nita membaca pesan dari Indra, mengernyit heran. Galak, seperti kucing? apakah Karina mencakar lelaki itu?
"Ada apa lagi dengan Karina? tidak mungkin juga jika mereka mantan kekasih," batin Nita.
Krisna yang melihat tingkah Nita seperti itu merasa khawatir jika pujaan hatinya tidak enak badan. Mengingat lelahnya dalam bekerja. Sepanjang perjalanan Nita tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tenaganya cukup terkuras hari ini.
"Biasa saja menatapnya, aku memerhatikan kamu ya, Kris," kelakar Nita, Krisna tersenyum malu karena tingkahnya diketahui oleh wanita itu.
"Kris," panggil Nita, yang dipanggil merasa bahagia karena dipanggil oleh wanita yang dikasihinya.
"Ya," jawab Krisna singkat, dia ingin tetap terlihat cool meski dia begitu terang-terangan mengejar mantan istrinya.
Diam, Nita kembali terdiam. Dia masih sibuk dengan ponselnya menanyakan keadaan Karina. Setelah dia tahu jika Karina pulang dengan selamat, dia pun duduk menyamping kearah Krisna.
"Kalung ini bukan milikmu?" tanya Nita lagi untuk memastikan. Krisna masih menjawab seperti kemarin. Dan mengatakan kalau kalung itu milik Kia. Nita menghela napas kasar dan memandang Krisna dengan serius.
__ADS_1
"Kamu membohongi aku." Krisna menautkan alisnya tidak mengerti dengan ucapan Nita.
"Aku menganggap kamu pemilik kalung ini, dan kamu yang telah kuanggap menyelamatkan aku dari tenggelam di kolam," cerca Nita, sontak saja membuat Krisna langsung mengerem mobil secara mendadak.
"Apa yang kamu katakan, Ta. Kamu tidak pernah bertanya padaku." Krisna tampak membela dirinya yang tidak merasa bersalah.
"Maksud kamu aku salah, ya, aku selalu salah. Dan salahku karena telah menikah dengan kamu!" Nita melepas seat belt dan mencoba membuka pintu. Namun, Krisna langsung mengunci pintu mobil. menahan wanita itu agar tidak keluar dari mobilnya.
"Seberapa berharganya pemilik kalung itu untuk kamu, sampai kamu bersikap seperti ini padaku." Krisna tidak terima dengan reaksi Nita yang berlebihan.
"Sudah lama, dan seharusnya kamu memulai hidup kamu yang baru. Sama hal-nya saat kamu memintaku untuk move on dari pernikahan kita, dan yang harus kamu ketahui, aku tidak akan menyerah," tegas Krisna, lelaki itu langsung melajukan kembali mobilnya.
Kini keduanya terdiam, bila Nita merasa lega karena uneg-unegnya telah terungkapkan. "Aku harap kamu mengerti, aku mau di jodohkan dengan kamu karena berhutang budi padamu karena telah menolongku. Dan sekarang kamu bukan pemilik kalung ini yang sebenarnya. Keputusanku tidak salah, untuk berpisah dengan kamu." Nita menjelaskan alasannya untuk menikah dengan Krisna.
"Tapi kamu mencintai aku 'kan? perasaan itu masih untukku bukan?" Krisna tampak salah tingkah, menunggu jawaban gadis itu. Tetapi Nita menutup mulutnya rapat-rapat seolah dia tidak ingin mengungkit tentang perasaan.
"Kita bisa memulai kisah baru, Ta. Maafkan aku karena telah melukai hatimu. Maafkan khilafku, dan berikan aku kesempatan kedua," rengek Krisna. Namun, Nita tidak menanggapi.
Nita bernapas lega, ketika mobil itu telah sampai di pelataran rumahnya. Dia bisa menghindari pertanyaan Krisna yang tidak ingin dia jawab. Padahal Krisna sudah mengetahui, bagaimanapun keadaannya dia tidak ingin memberikan kesempatan kedua padanya.
"Kris, buka!" titah Nita, ketika pintu mobil masih dia kunci. Krisna menatap sendu seakan tidak rela jika Nita pergi dari mobilnya. Dia masih ingin bersama wanita itu.
Krisna malah menatap dalam pada Nita membuat dia salah tingkah. "Kris, buka!" perintah Nita lagi, tetapi tetap saja Krisna mengabaikan teriakan Nita.
"Besok kita bicarakan lagi, datanglah ketokoku, tetapi jangan jam makan siang. Datang pas kamu pulang kerja." Akhirnya Nita memberikan ruang lagi agar mereka bisa bertemu.
__ADS_1
Krisna keluar mobil dnegan wjah yang sumringah. Dia berharap Nita bisa berubah pikiran, dan memberikan kesempatan kedua untuknya.
***