Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab100. Rasa Tidak Biasa (2)


__ADS_3

Nita berlarian kecil ketika ia telah turun dari mobil. Namun, Indra masih berada di sana menunggu Nita hingga wanita itu tidak terlihat oleh pandangannya. Ketika Nita melesat masuk mobil itu pun pergi.


Wanita itu menempelkan punggungnya di pintu dengan napas yang terengah-engah. Hatinya tidak menentu, canggung yang begitu kentara membuatnya begitu gugup setengah mati. Perasaan apa yang telah dia rasakan begitu membuatnya malu sendiri.


Mengusap peluh yang mulai menitik di dahinya. Matanya menyapu seluruh ruangan dengan tatapan mengernyit. Dia tidak ingat jika Ana sang asisten telah pulang kampung dan tertinggal lah dirinya seorang diri.


Dia membawa ponselnya dari tas yang tengah ia jinjing, menekan nama Karina yang akan dipanggilnya. Dering pertama masih tidak diangkat, begitupun dengan dering kedua, dan seterusnya.


Nita pun perlahan memutar kakinya lagi untuk keluar dari rumah. Namun, ketika dia akan membuka kunci pintu, deru mesin mobil kembali terparkir di pelataran rumahnya. Kaki seseorang yang tengah berjalan begitu terdengar jelas, membuat bulu kuduk Nita berdiri. Dirinya sudah parno dan ternyata di depan ...


Ah, bukannya dia jelas mendengar tadi mobil terparkir dan melesat kembali hanya beberapa saat. Mengapa satpam di rumahnya mau saja membiarkan orang untuk parkir di depan rumahnya.


Dari luar pintu, seseorang mengetuknya. Nita berusaha mendekatkan daun telinganya menempel di pintu. Memastikan jika pendengarannya tidak salah, kalau seseorang telah mengetuknya.


"Siapa malam-malam ketuk pintu. Manusia apa--" gumamnya, tapi tidak ayal tangan itu terulur dan membukanya.


Begitu terkejutnya Nita ketika melihat Karina yang sudah berada tepat di depan pintunya. Berhadapan dengan wanita itu dengan senyuman mereka. Nita lantas memeluknya dengan dalam tidak percaya. Mengapa bisa satu hati seperti itu?


"Aku baru saja menghubungi kami, eh sudah ada di depan," ungkap Nita tidak hentinya melengkukan senyuman manis, bak gula. Dan terpancar begitu berseri-seri karena dia mempunyai teman untuk malam ini.


"Mbak ini, kenapa merasa sungkan sampai membuat Tuan Indra untuk mengatakannya," timpal Karina dengan sekali gerakan gadis itu memimpin perjalan untuk masuk kedalam.


Dalam diam Nita mengingat, kapan dirinya meminta Indra. Padahal dia jelas tahu, interaksi tadi begitu canggung bahkan kaku. Bagaimana bisa lelaki itu mengetahui isi di dalam hatinya.


"Aku tidak mengatakan apapun padanya, mengapa dia bisa tahu. Lalu apakah aku harus mengatakan kalau aku tidak menyuruhnya? Ah, sudah hentikan, jika aku memberitahukan kebenarannya akan menjadi masalah. Indra adalah orang yang pernah dekat dengan Kia," batin Nita.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan menuju kamar Nita. Berpikir keras. Ya, Nita tampak berpikir keras, memikirkan lelaki itu seperti malaikat yang selalu tahu masa sulitnya. Tapi mengapa dia harus seperti itu padanya?


Tidak mungkin bukan jika Indra menyukainya? Sedangkan lelaki itu tengah mati-matian membujuk Kia untuk kembali padanya. Hentikan Nita, kamu terlalu pendek dalam berpikir.


"Hallo, Mbak." Karina terus mengibaskan tangannya di depan wajah Nita berulang kali. Ada apa dengandegan wanita cantik itu. Karina berusaha untuk menyadarkan. Akan tetapi dia tidak ingin membuyarkan lamunannya. Dia pun segera masuk dan datang kekamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Ketika Karina telah selesai, dia menatap kearah ambang pintu. Posisinya masih seperti semula tidak bergerak barang seinci pun. Sebegitu inginkah majikannya itu menjadi manekin. Sampai membuatnya tak bergeming seperti itu?


"Mbak!" Karina memegang bahu Nita dengan sedikit kuat. Agar Nita sadar. Lalu Nita pun menoleh dengan kening berkerut.


"Aneh kamu, Karin!" Serunya dengan balasan tepukan keras di pundak. Karina mengedikkan bahu, tidak mengerti.


"Kenapa dia?"


***


Lelaki itu menyusupkan kedua jemarinya untuk di masukan kedalam saku celana. Dengan wajah tersenyum jijik Tazkia mengangguk dan melesak untuk masuk kedalam kamarnya yang indah dan empuk telah melambai memintanya untuk ditiduri.


"Taz-ki-a," panggil Krisna dengan suara nyaris begitu lembut, tetapi terdapat tekanan dari nada suaranya.


Kia berbalik dan menatap sang kakak dengan menunduk, jemari bertaut merasakan ada hal yang aneh dari sikap kakaknya. Apakah dia akan memberikan izin pada Indra, lelaki yang telah menyakitinya dahulu. Lalu kenapa takdir seolah mempermainkan dirinya?


Tatapan lelaki yang berstatus kakak itu membuatnya mati kutu, setelah dia membuat lelaki itu tidak nyaman. Namun, sekarang dirinyalah yang mulai tidak nyaman. Bahkan aura mematikan begitu tarasa.


Dulu Krisna tidak akan terlalu memikirkan dirinya, bahkan terkesan masa bodo. Yang terpenting Kia bisa menikmati hidupnya.

__ADS_1


"Kamu tahu kenapa media bungkam dan para pemegang saham mau memberikan mas kesempatan, meski mas telah melakukan hal yang fatal?" Kia sudah mengerti arah pembicaraan lelaki itu. Aura dingin yang menyelimuti sikap Krisna mampu membuat nyali gadis itu menciut. Andai masalah konyol itu tidak pernah terjadi.


Dirinya tidak akan digunakan menjadi balas Budi seperti ini.


"Maksud Mas, Kia harus bersikap ramah padanya. Atau harus menerima cintanya! Katakan Mas, kau mau menukarku dengan embel balas Budi. Berikan saja apa yang sudah dia berikan. Kia tidak sudi, kembali! Kia terlalu sakit, meski waktu itu terbilang cinta monyet!" Kelakar Kia mulai meluapkan kata-kata yang ingin dia ungkapkan.


Sorot tajam yang sempat tercipta barusan, berubah menjadi rasa iba. Krisna menghela napas, lalu berjalan mendekati adik satu-satunya itu. Memegangi bahunya dengan lembut serta memberikannya masukan. Lelaki itu mendesah pelan, seolah frustrasi. Lalu menatap dalam kearah Kia.


"Cobalah untuk memberikan dia kesempatan. Jika hatimu tidak nyaman, Mas akan memberikan apa yang seharusnya tidak kita ambil. Jika membuat kebahagiaan kamu lenyap." Krisna memegangi samping kepala adiknya dengan sayang.


Hati Kia melunak, mungkin benar. Dia terlalu egois jika memikirkan diri sendiri. Ada keponakan yang harus dijaga serta membutuhkan biaya. Dia akan berusaha membantu sang kakak.


Bibir Kia terangkat membentuk senyuman tipis. Kakaknya itu selalu berkorban untuk dirinya. Lalu apa salahnya jika dia membalas jasa atas apa yang telah Krisna lakukan padanya.


Gadis itu mengangguk patuh, tanpa menolak.


"Baiklah, Mas. Tapi jika perasaan aku tidak bisa dipaksakan ... aku mohon, jangan memaksa untuk melakukan hal yang tidak aku sukai," terang gadis itu dengan tatapan memelas.


"Naiklah keatas untuk melanjutkan tidurmu lagi. Semoga mimpi indah."


Kia langsung berjalan menuju lantai atas ketika Krisna menyuruhnya untuk kembali kedalam kamar. Hatinya merasa lega, karena Krisna memberikan pengertian padanya.


Baru saja kakinya akan melangkah untuk duduk di tepi ranjang, ponselnya berdering. Rasanya malas, tetapi dia sudah mengatakan pada Krisna jika dia akan berusaha untuk menumbuhkan rasa itu. Jika memang tumbuh kembali berarti memang mereka berjodoh. Tetapi jika tidak! Dia harus rela menjadi hidup sederhana.


***

__ADS_1


__ADS_2