
Bab32. Tinggalkan Saja Aku.
***
Nita memandang Krisna yang akan berangkat kerja dengan wajah kusut. Lelaki itu mungkin bingung harus begaimana. Ketika Nita berbalik sudah ada Kasih dengan tatapan meremehkan.
"Mbak Nita merasa sudah menang, membuat suamiku tidak tega mengusir kamu dari sini," ucap Kasih.
"Tentu saja dia tidak akan melakukan itu, rumah ini milikku. Kamu tidak berhak mengusir aku," balas Nita dengan nada tegas.
"Kita lihat saja, mas Krisna pasti akan mengusir kamu dari sini!" Ancam Kasih dengan percaya dirinya.
"Lihatlah kesini Mbak." Tunjuk Kasih kearah perutnya. "Aku sedang hamil muda, anak suami kamu. Lihatlah dirimu, mandul ya, sudah lama menikah belum juga mengandung," ledek Kasih diiringi tawa merendahkan Nita.
Nita memandang tangan Kasih yang tengah mengelus perutnya. Mandul? Bahkan dia belum di sentuh suaminya, bagaimana wanita itu bisa mengatakan hal sesakit itu. Padahal mereka sama-sama perempuan.
"Aku ..."
"Mmm, atau kamu belum pernah disentuhnya? Ya Tuhan, kasihan sekali. Harusnya kamu mengakhiri saja pernikahan tanpa cinta itu. Bahkan dia tidak berani menyentuh kamu." Kasih meledeknya lagi memutari tubuh Nita.
"Percaya padaku, kamu hanya menjadi istri pajangan. Jika aku menjadi kamu, aku lebih baik pergi dari kehidupan lelaki yang sama sekali tidak mencintaiku." Kasih mencoba menanas-manasi Nita. Dia ingin wanita itu pergi dan menjauh dari hidupnya.
"Kata siapa dia tidak pernah menyentuhku. Sudah aku bilang, itu privasi, mungkin saja saya belum waktunya untuk diberikan kepercayaan," jawab Nita. Kasih mencebik.
Madunya itu begitu senang ketika tengah menghakimi Nita. Sedangkan Nita yang tidak percaya dengan kehamilan Kasih pun bertanya.
"Apakah benar kamu tengah mengandung? Jangan berpura-pura jika kamu hanya ingin membuat suamimu mengikuti kemauanmu," cerca Nita. Dengan wajah yang sudah ditekuk Kasih langsung kekamarnya.
Membawa sesuatu untuk membuat Nita percaya. Setelah membawanya dia langsung kembali pada Nita lalu meletakkan benda itu di telapak tangan Nita dengan hati-hati.
__ADS_1
Tespeck bergaris dua begitu terpangpang nyata di tangannya. Nita memandang pilu kearah benda itu. Membuat Kasih tersenyum kemenangan. Karena mampu membungkam mulut istri pertama suaminya.
Nita merasa sesak ketika melihat secara langsung benda itu. Ternyata benar, wanita itu tengah mengandung, lalu dirinya bagaimana? Kasih langsung pergi kekamarnya ketika telah memberikan bukti kehamilannya pada Nita.
Nita merosot jatuh kelantai, Mbak Ana yang melihat Nita begitu terpuruk mencoba membangunkannya. Dia juga sama halnya dengan Nita. Merasakan sakit ketika tahu Kasih mengandung.
"Bangun, Non. Yang sabar ya?" Ana mencoba membantu Nita untuk berdiri. Dia memapah Nita untuk masuk kedalam kamarnya.
"Mbak Ana, dia tengah mengandung anak suamiku, tapi aku, lihatlah Mbak." Nita menunjuk perutnya sendiri. "Aku bahkan masih perawan sampai saat ini, Mbak. Krisna tidak adil padaku, Mbak. Aku membencinya, aku membenci Krisna, Mbak." Isak tangis yang kini Ana dengar. Dia tidak menyangka jika hubungan majikannya itu begitu jauh.
"Sabar Non, sabar." Nita memukul-mukul perutnya sendiri dengan keras. Membuat Ana panik. Dia tidak bisa lagi menenangkan Nita. Akhirnya dia keluar kamar dan menelepon Krisna.
Kasih yang mengetahui jika ART-nya menelepon Krisna langsung mengancamnya.
"Awas jika kamu mengadu pada suamiku, jika aku yang menyebabkannya seperti itu!" Kasih keluar rumah ketika Nita tengah menangis histeris di dalam kamarnya. Dia memilih pergi dari rumah itu. Agar Krisna tidak dapat menyalahkan dirinya.
Tidak bisa berkata-kata lagi, Ana hanya bisa menuruti Kasih untuk membungkam mulutnya agar dia tidak mengatakan pada Krisna. Tidak begitu lama Krisna datang dengan wajah cemasnya. Dia meminta Ana untuk keluar kamar Nita.
Nita terisak ketika melihat Krisna berada di kamarnya. Tangisnya terhenti kala Nita menuntun tangan Krisna kearah perutnya.
"Kamu membuat istri mudamu mengandung, sedangkan aku sama sekali tidak kamu anggap Kris. Sentuh aku Kris, sentuh aku!" Nita mencoba menggoda Krisna.
Krisna langsung berdiri dan menggeleng lemah. Tatapannya seolah mengisyaratkan bahwa dia tidak bisa melakukannya.
"Hentikan Nita! Hentikan! Bagaimana bisa aku menyentuhmu sedangkan aku tidak mencintaimu, aku bukan lelaki seperti itu. Aku hanya bisa melakukannya ketika aku mencintai wanita itu," terang Krisna membuat Nita tersadar. Nita menelengkupkan tangannya kewajah dengan tangis yang semakin pecah.
"Tinggalkan aku Kris, ceraikan aku, jika kamu tidak mau menyentuhku," pinta Nita membuat Krisna langsung mematung.
Lelaki itu mendesah berat, lalu mendekat kearah Nita. Dia memeluknya mengumpulkan keberaniannya untuk menuruti keinginannya. Krisna memegangi bahu Nita agar mereka saling berhadapan.
__ADS_1
Lelaki itu mencoba mendekati bibir Nita untuk menciumnya. Belum juga bibir mereka saling bertaut, Krisna langsung berdiri dan menjauh dari Nita.
"Aku tidak bisa, Ta. Kumohon mengertilah, jika aku hanya ingin menjagamu. Meski aku menikahimu tidak sedikitpun niat di hatiku mencoba untuk memanfaatkan tubuhmu," ucap Krisna frustrasi.
"Tapi kamu sudah berhak akan tubuhku Kris, meski hatimu tidak mencintaiku tapi sudah semestinya kamu menyentuhku Kris," jawab Nita dengan air mata yang tiada hentinya mengalir.
"Maaf, Ta, aku tidak bisa. Kumohon mengerti." Krisna keluar kamar Nita. Meninggalkan dia yang masih terisak-isak di dalam kamarnya.
"Mbak Ana, jaga dia. Saya masih banyak pekerjaan," pinta Krisna. Ana mengangguk dan melihat kepergian tuannya.
Ana mencoba untuk masuk kedalam. Namun, Nita mengunci kamarnya dari dalam. Dia tidak mau bertemu dengan siapa pun saat ini.
"Biarkan aku sendiri dulu, Mbak. Aku baik-baik saja!" Teriak Nita. Ana pun terpaksa melangkah jauh dari depan pintu kamar Nita.
Nita di dalam menangis sejadi-jadinya. Betapa dia malunya mencoba untuk mencium Krisna. Tetapi apa, lelaki itu sama sekali tidak bisa melakukannya.
"Sampai kapan aku akan seperti ini, Kris. Menangis dalam kesakitan, yang tidak berkesudahan. Harusnya kamu meninggalkan aku saja, itu akan membuat aku lebih nyaman,"
"Aku tidak bisa menjadi ibu ketika menjadi istrimu. Sedangkan jika aku menjadi istri orang lain aku pasti akan bisa mendapatkannya. Mendapat kasih sayang yang sama seperti kamu berikan pada Kasih," lirih Nita. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi kekantor Krisna.
Nita membersihkan tubuhnya, dia berpamitan pada Ana untuk pergi menemui Krisna di kantornya. Ana berusaha menghubungi Krisna jika Nita ingin berkunjung kesana. Dia tidak mau jika Nita malah pergi meninggalkan rumah. Dan dia tidak ingin di salahkan jika Ana teledor menjaga Nona-nya itu.
"Mbak aku pamit dulu, ya," ucap Nita. Namun, dicegah Ana lalu dia mengatakan jika Ari akan datang menjemputnya.
Nita mengangguk patuh, dan menunggu Ari di depan rumahnya. Tatapannya kosong. Tidak seperti biasanya. Ari yang menyuruh Nita masuk pun merasa jika Nita sedang dalam keadaan tidak baik.
"Masuk, Nona,"
***
__ADS_1
Bersambung...