Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab117. Salah Paham.


__ADS_3

Jam pulang kerja telah di depan mata. Indra memilih mengendarai kendaraannya sendiri tanpa diantar oleh Ari, entah mengapa dia ingin melihat Nita meski dia yakin jika Nita tidak akan pernah mau menemuinya untuk saat ini.


Kejadian tadi pagi sungguh membuat rencananya yang tersusun hancur dalam sekejap mata. Mengapa dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memukul lelaki itu. Dia baru menyadari jika Krisna sengaja memberitahu kejadian yang sesungguhnya agar Indra memukul lelaki itu dan terlihat buruk di mata Nita.


Dari seberang toko Indra mengamati para penghuni toko tersebut. Terutama Nita yang menjadi fokus utamanya. Lima orang keluar dari toko dengan wajah yang hampir sama, terlihat lelah dan juga tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan.


Hatinya berusaha menolak untuk mendekat, tetapi tubuhnya seakan tertarik untuk menghampiri Nita. Indra mulai membuka pintu mobil, dan menjuntaikan kakinya, baru saja tubuhnya akan berdiri. Namun, dia urungkan karena sesorang telah datang untuk menjemput Nita.


Terlihat ketiga karyawannya berpamitan untuk pulang lebih dulu, sedangkan Karina tampak sungkan, dia berulang kali membungkukkan badannya dan melambaikan tangannya seolah menolak untuk masuk.


Indra menggeram saat Krisna datang. Lelaki itu sungguh ingin membongkar kebusukkan Krisna yang telah membuat Indra buruk di mata Nita. Fokusnya teralihkan ketika Karina diikuti seseorang.


"Siapa yang mengikuti dia," gumam Indra, dia pun mengesampingkan rasa sakitnya dan mengejar Karina.


"Nona Karin, masuk!" tegas Indra, wajah yang selalu menggoda kini tampak serius. Karina pun merasakan saat dirinya tengah diikuti. Dia pun mau tidak mau menurut untuk masuk.


Ketika sudah berada di dalam dia bernapas lega. Menoleh kearah Indra dengan datar.


"Rencana anda lagi tuan Indra? Kenapa harus menyuruh orang terus agar bisa mengantarkan saya," ucap Karina. Gadis itu menghela napasnya panjang lalu mengeluarkannya secara kasar.


"Harusnya anda sedang bersama Nona Kia, mengapa repot-repot mencari saya. Jangan bilang an--"


"Berhentilah berpikiran jelek tentang saya Nona Karina!" Seru Indra yang mulai tidak suka akan ucapan gadis disampingnya.


"Ok, jika penculikan itu bukan ulah anda, saya pun tidak akan berpikiran sedangkal itu," timpal Karina.


Keheningan mulai menyelimuti, dan Indra pun membawa Karina ke rumahnya sebelum dia mengantarkan Karina kerumah Nita.


"Tu-tuan," ucap Karina ragu-ragu. Gadis itu takut jika kejadian malam kemarin akan terulang lagi.

__ADS_1


Karina menutup matanya rapat-rapat, lalu mencengkram tangan Indra dengan kuat hingga kuku gadis itu tertancap di lengan Indra.


Indra berusaha menahan. Sepertinya gadis itu trauma akan kejadian semalam. Apa yang telah Krisna lakukan terhadap Karina.


"Nona Karina, anda tidak berniat untuk melepaskan cengkraman anda." Karina perlahan membuka mata dan melepaskan cengkeramannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi malam itu, Nona?" Tanya Indra. Namun, Karina mendelik, bagaimana bisa dia melupakannya padahal itu semua adalah bagian dari rencananya.


"Mungkin aku tidak perlu memberitahu anda, jelas anda yang lebih tahu. Aku akan naik taksi saja." Karina akan membuka pintu. Tetapi Indra langsung menguncinya, gadis itu hanya bisa menggerutu saat pintu mobil tidak bisa buka.


Dengan perasaan kesal dia menendang pintu mobil, meski gadis itu tengah duduk.


"Jangan merusaknya Nona, jika tidak bisa membayarnya," bisik Indra, mencodongkan tubuhnya kearah Karina. Sedangkan gadis itu tidak menyadari jika Indra tengah dekat dengannya. Embusan napas yang terasa hangat di telinganya membuat dia langsung berbalik dan refleks menampar Indra dengan kencang.


"Anda tetap mes*m!" Dengan wajah kesal dan tatapan tajam dia menunjuk wajah Indra dengan telunjuknya.


"Cepat antarkan saya pulang, atau saya akan memanggil Mbak Nita kalau saya di culik anda,"


"Cepat masuk, saya akan menunggu anda di dalam mobil!"


***


Karina menghirup napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan, sebelum tangannya menggapai pintu dia berdehem lebih dulu lalu berkata.


"Anda tidak perlu mengantarkan saya Tuan Indra, Mbak Nita akan marah pada anda jika anda datang," larang Karina agar Indra tidak membuat masalah. Apalagi di dalam masih ada Krisna.


Indra tidak memedulikan larangannya, dia tetap keluar mobil dan mengekori Karina dibelakangnya.


Karina memutar badan dan berkacak pinggang. "Saya sudah melarang anda tuan Indra, jangan membuat masalah lagi, anda akan semakin sulit menemui Mbak Nita," imbuh Karina. Lelaki itu tidak menghiraukannya, dia malah mngalihkan tatapannya agar Karina tidak bisa menatap ekspresinya.

__ADS_1


***


Nita membawa minuman untuk Krisna suguhkan, tampak helaan napas panjang yang telah dia lakukan untuk menemui Krisna. Risih, hanya itu yang selalu ada dalam benaknya.


Sebelum minuman itu disimpan Nita tidak sengaja menumpahkan minuman itu kebaju Krisna tepat di dadanya. Krisna mendongak menatap Nita yang tengah terkejut karena kelalaiannya.


Dengan rasa bersalah dia mengambil tisu yang berada di meja lalu mencoba untuk mengelap pakaian Krisna yang basah.


Krisna berusaha menolak, "tidak apa-apa Ta, kamu tidak usah merasa bersalah, toh ini hanya kecelakaan bukan, bukan di sengaja,"


Tetapi Nita tetap berusaha untuk mengelapnya, sempat terjadi tarik-tarikan antara Nita dan Krisna. Nita


merasa bersalah karena telah membuat pakaiannya basah, tetapi Krisna merasa itu tidak perlu karena baginya itu hanya masalah sepele.


Hingga akhirnya tanpa sengaja Krisna menarik tangan Nita hingga wanita itu terjatuh tepat di atas tubuh Krisna.


Mata Nita membola sempurna. Dia memekik karena terkejut. Krisna malah tersenyum karena tragedi itu, dia merasa takdir memihaknya untuk semakin dekat lagi dengan Nita. Krisna memegang pinggang Nita dengan erat agar wanita itu tidak cepat berdiri. Meski Nita memberontak meminta dilepaskan.


"Kris, lepas!" seru Nita memohon.


"Biarkan begini untuk beberapa detik saja, Ta." Krisna memohon agar Nita tidak memberontak. Tetapi Nita tidak patah semangat dia terus melepaskan diri agar tidak berada dalam dekapan lelaki itu.


Nita sudah terlepas dari dekapan Krisna. Dia memutar badan kearah pintu utama dengan cepat. Membuang rasa canggung, dan malu bercampur menjadi satu. Mungkin hanya dirinya sendiri yang merasa demikian. Mengingat Krisna, lelaki itu bahagia bisa memeluk mantan istrinya sedekat itu.


Saat Nita merapikan pakaiannya tangannya terhenti seketika, saat melihat dua orang manusia yang tengah berdiri mematung melihati kearah dirinya dengan tatapan yang seolah mereka tidak percaya jika apa yang dilihatnya berbeda dengan tanggapan orang lain.


Indra dan Karina perlahan memutar badan dan berjalan keluar merasa bersalah karena telah menganggu.


"Ini tidak seperti apa yang kalian pikirkan!" Teriak Nita, dia pun mengikuti kemana arah mereka akan pergi.

__ADS_1


"Tunggu!" Seru Nita lagi dengan napas yang terengah-engah.


***


__ADS_2