Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
BonChap. Bab71. Balas Dendammu Melukai Hatiku.


__ADS_3

Bab71. Balas Dendammu Melukai Hatiku.


***


Nita duduk di teras depan rumah di temani secangkir teh. Perdebatan kemarin yang membuat dirinya dengan Bian mempunyai misi balas dendam pada Krisna. Semakin Nita ingat memang semakin menyakitkan perilaku Krisna terhadap dirinya.


Semena-mena dan tidak memikirkan tentang perasaannya. Lalu untuk apa sekarang Krisna berusaha keras untuk mendapatkannya lagi. Padahal mereka sudah bercerai, tetapi Krisna masih menganggap bahwa Nita masih miliknya.


Kenangan buruk di masa lalu kini berputar kembali di ingatannya. Mengapa sesulit ini melupakannya? Haruskah dia memilih menerima cinta Bian? Tetapi perasaannya pun pada lelaki muda itu sama, hanya sebatas adik saja.


Nita mengembuskan napas kasar, lalu menyesap tehnya lagi dengan penuh penghayatan sambil menutup matanya. Ketika dia membuka mata betapa terkejutnya dia seseorang sudah berada di hadapannya.


Tatapan lelaki itu begitu menusuk, membuat Nita salah tingkah. Nita memutar bola matanya, dia bingung harus bersikap seperti apa di hadapan Krisna.


"Kita harus berbicara," ucap Krisna, lelaki itu mendudukan bokongnya di kursi samping Nita. Nita menyesap kembali teh itu, untuk mengusir rasa gugupnya. Bahkan wanita itu berulang kali menghirup napas dalam-dalam.


Mengapa harus berkunjung malam-malam? Dia yakin lelaki itu akan memprotes. Pembahasan lelaki itu tidak akan jauh membahas Bian.


"Apa yang harus dibicarakan?" tanya Nita.


"Hubungan kamu dan dia? Kalian bukan pasangan kekasih bukan? Kita baru beberapa bulan berpisah, dan kamu sudah mendapatkan pengganti aku!" Tegas Krisna, intonasinya sedikit meninggi. Nita yakin jika Krisna tengah cemburu. Hatinya bersorak gembira melihat lelaki itu sudah seperti cacing kepanasan.


Seperti itulah, rasanya dia pun dulu. Namun, berbeda antara dia dan Krisna. Jika dia hanya bisa memendam sedangkan lelaki itu terang-terangan mengungkapkan.

__ADS_1


"Kalau kami memiliki hubungan apakah ada masalah? Dan jika bukan pun bukan urusan kamu!" Ketus Nita, dia beranjak berdiri. Ingin meninggalkan Krisna yang membuatnya muak.


Namun, dengan cepat Krisna mencekal tangannya. Begitu kuat, hingga wanita itu tidak bisa sedikit saja untuk melepaskan. Tangannya di cengkram lebih kuat karena Nita berusaha memberontak.


Krisna langsung membawa Nita untuk duduk kembali di kursi. Di saat keduanya sudah di tempat semula. Mereka hanya saling terdiam, hening sesaat yang kini mereka rasakan. Tidak saling bertegur sapa. Nita mulai jengkel karena Krisna masih membisu tanpa mengatakan apapun, meski mereka sempat berdebat.


Nita beranjak dan menghentakkan kakinya kelantai Krisna langsung menoleh, tetapi bukan menatap wajah Nita, melainkan menatap kaki wanita itu yang tengah memperlihatkan rasa jengkel padanya.


"Kamu bicara atau aku akan masuk!" Seru Nita dengan nada kian tegas. Krisna tampak menghela napas kasar. Lalu menatap wanita itu dengan tatapan yang datar. Namun, Nita dapat melihat sorot matanya yang kian frustrasi.


"Balas dendam mu melukai hatiku!" Seloroh Krisna yang membuat Nita perlahan mundur karena Krisna terus berjalan mendekati dirinya.


Hembusan napas lelaki itu kian berat dan menyapu wajah Nita. Terasa begitu banyak beban, tetapi apa yang bisa dilakukan Nita. Meski dia dulu mencintai Krisna dan tidak ingin melihatnya terluka, jika lelaki itu tengah frustrasi Nita akan kalang kabut dibuatnya.


"Inikah yang kamu rasakan dulu, Ta? Inikah balasan atas perlakuan yang telah aku lakukan padamu? Aku dulu menyia-nyiakan kamu, dan malah memilih menikahi wanita lain. Tetapi saat wanita yang kupikir kucintai pergi, aku sama sekali tidak merasa kehilangan. Namun, saat kamu yang pergi duniaku terasa runtuh, Ta. Hidupku seolah tidak memiliki tujuan hidup, meski aku harus tetap hidup untuk menghidupi a-a-anakku," ucap Krisna terdengar lirih diperdengaran Nita. Wanita itu masih setia menjadi pendengar.


Tidak banyak yang bisa dia komentari tentang peristiwa dulu. Mungkin memang ini jalannya. Dan memang harusnya mereka berpisah agar Krisna merasa dirinya berharga dalam hidupnya.


Nita berusaha menghindar, tetapi tangan sebelah Krisna malah menyentuh dinding hingga mengunci pergerakan Nita.


"Tidak bisakah kamu memberiku kesempatan kedua? Sungguh jika itu terjadi aku tidak akan pernah mengulanginya lagi," pinta Krisna memohon. Nita menunduk dan mengembuskan napas kasar. Hatinya terasa kian memanas mendengar pernyataan lelaki yang telah mengunci pergerakannya.


"Kesempatan kedua?" Jeda Nita, dia lalu mendongak menatap Krisna dengan tajam.

__ADS_1


"Jika aku memberimu kesempatan, hal yang sama akan terulang lagi. Bahkan kebersamaan kita selama beberapa belas tahun apa kabarnya? Lalu apakah hatiku ini tidak terluka karena aku masih bersikap biasa padamu. Kamu memang tidak pernah berbuat kasar padaku, tetapi cara kamu memperlakukan kami berbeda, Kris. Aku bagai istri pajangan yang tidak terlihat. Aku tidak berarti apa-apa untuk kamu!" Teriak Nita. Dia mendorong kedua lengan Krisna agar dia bisa pergi. Terlalu menyesakkan jika mereka harus sedekat itu.


"Ta," lirih Krisna. Air matanya kini terjatuh dihadapan Nita. Namun, tidak sedikitpun Nita merasa tersentuh.


"Simpan air matamu Kris, berapa banyak air mata yang telah aku jatuhkan saat kamu meminta izin untuk menikahi wanita lain!" Ketus Nita, wanita itu berlari menuju pintu, dan langsung memasuki rumahnya.


Sedangkan Krisna tidak bisa berbuat banyak, dia sadar apa yang telah dia lakukan sungguh tidak berperasaan. Ini mungkin balasan atas apa yang telah dia lakukan di masa lalu.


Krisna berbalik dan akan pergi untuk meninggalkan rumah Nita. Namun, terasa berat hingga dia mulai memutar tubuhnya kembali hanya untuk melihat rumah yang akan dia tinggalkan.


"Aku menyesal," ucap Krisna, dia pun melangkahkan kakinya untuk pergi dari rumah wanita pujaannya.


Nita mengintip dari jendela kamarnya. Dia melihati langkah gontai sang mantan suaminya. Bibirnya tersenyum miring ketika melihat reaksi Krisna yang tidak biasa. Memang terlihat kejam, tetapi salahkah dia bersikap seperti ini?


Ana mengetuk pintu kamar majikannya itu. Nita mempersilahkannya untuk masuk.


"Nona apakah anda melihat tuan Kris--"


"Saya melihatnya, Mbak. Anggaplah ini sebagai balas dendam, sebenarnya saya tidak ingin melakukan hal seperti ini. Tetapi karena hati ini yang sudah terluka dan susah untuk terobati. Akhirnya memilih mempermainkan hatinya. Sama seperti dia yang telah mempermainkan hati ini, Mbak," ungkap Nita, dia tersenyum penuh arti pada ART-nya. Sedangkan Ana tidak bisa berkata-kata lagi.


Dia yakin keputusan majikannya sudah di pikirkan secara matang. Ana pun membalas senyuman itu dengan penuh tanda tanya dipikirannya, Nita yang menyadari itu pun berkata.


"Jangan dipikirkan Mbak, di depan ada tamu lebih baik buka pintunya," ucap Nita, Ana tersenyum kikuk karena terlalu memikirkan perkataan Nita hingga dia tidak menyadari bel rumah berbunyi.

__ADS_1


***


__ADS_2