
Nita bangun pagi-pagi kali ini. Dia harus menyiapkan sarapan pagi untuk Tazkia, agar gadis itu bisa makan. Setelah menyiapkan sarapan pagi untuk Tazkia, dia tampak memikirkan kunjungan Indra semalam.
Lelaki itu begitu memedulikan Tazkia, bahkan selayaknya seperti orang yang sudah akrab. Namun, ketika dia menanyakannya Indra menyanggahnya. Lelaki itu bersikeras jika baru saja bertemu.
Indra beralasan jika perhatiannya hanya sebagai rasa dukanya atas apa yang telah menimpa Tazkia.
"Ingin percaya, tetapi kenyataannya berbanding terbalik dengan yang kulihat," gumam Nita, dia pun membawa sarapan itu untuk kekamar Tazkia.
Nita menginap di rumah Tazkia, dia juga memberitahukan pada Ana tentang meninggalnya Riska. Indra pun mengetahui kabar ini dari Ana ketika dia berkunjung kerumah Nita.
Ketika sampai di depan pintu kamar Tazkia, dia mengetuknya. Kia pun mengizinkannya untuk masuk. Kia yang masih berbaring pun perlahan mengubah posisinya untuk duduk. Agar lebih mudah untuk makan.
"Sudah mendingan?" tanya Nita, terlihat jelas Nita begitu mengkhawatirkan gadis itu. Kia menatap sendu kearah Nita dengan senyuman yang dia paksakan.
"Maafkan aku ya Mbak, karena aku Mbak jadi kerepotan begini harus memasak untuk aku dan merawatku," jawab Kia mengutarakan rasa terima kasihnya. Nita menghela napas lalu membelai rambut gadis itu yang tergerai.
"Tidak pa-pa, kamu sudah Mbak anggap sebagi adik kandungku, jangan sungkan. Aku akan berada disampingmu ketika kamu terluka." Nita pun menurunkan tangannya, dan memutar badannya ketika seseorang membuka kamar Tazkia.
Indra--lelaki itu datang lagi, bahkan membawa buah-buahan serta bunga. Nita perlahan mundur dan mempersilakan Indra untuk berbincang dengan Tazkia. Namun, Tazkia meminta Nita untuk tetap di sana dan menemaninya. Nita pun menurut dan duduk diamping Kia.
"Semoga lekas membaik, dan bisa menerima kenyataan. Apa yang telah kamu genggam tidak akan selamanya kamu miliki," ucap Indra, dia meletakkan bunga dan buah itu di nakas. Kia memalingkan tatapannya kearah lain, sedangkan Indra menatapnya begitu berbeda.
"Benarkah tidak saling mengenal, lalu tatapannya," batin Nita.
Kia begitu enggan menatap Indra, karena diabaikan Indra pun berpamitan untuk keluar dan mengatakan jika dia mempunyai urusan penting pada Nita. Nita berpamitan pada Tazkia, gadis itu mengizinkan dan memintanya untuk kembali jika telah selesai bekerja.
***
Nita dan Indra sudah pergi dari rumah Tazkia, Nita yang merasa penasaran karena Indra mencari dirinya pun bertanya.
"Bukankah ada sesuatu yang ingin anda katakan?" tanya Nita memecah keheningan. Indra tampak gelisah dan berpikir. Beberapa kali lelaki itu berdehem.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengatkan jika pesan yang terselip di buket bunga, bukan kata-kataku. Itu kerjaan Bian," kata Indra, Nita hanya menganggukkan kepalanya. Bukankah masalah ini telah selesai, dan dia pun sudah mengetahui siapa dalangnya. Lantas mengapa Indra mengatakan hal yang tidak penting?
"Oh," jawab Nita singkat, dia pun mengalihkan tatapannya lurus kedepan. Indra tampak gugup saat dirinya diberikan pertanyaan oleh Nita.
Indra mengantarkan Nita ketokonya, dia juga menawarkan diri untuk mengantar Nita kerumah Kia. Nita mengernyit, karena tidak biasanya Indra berperilaku seperti itu.
"Ok, jemput saja pukul 3 sore nanti," titah Nita, wajah Indra tersenyum sumringah dan begitu bersemangat ketika Nita mengatakannya.
Nita berpamitan untuk masuk, dan langsung menuju ruangannya. Setelah dia menyimpan tas-nya, Imam memberitahu jika pesanan telah sampai.
Nita pun keluar dan mengecek barang. Setelah selesai Nita meminta Imam untuk membawanya kedalam.
"Ini baju pajamas yang motif, dan polos dipisah ya? daster busuinya juga hati-hati ketukar," ucap Nita memperingati pegawainya.
"Eh." Nita pun berbalik dan tampak malu sendiri. "Saya lupa jika kalian sudah pintar. Tapi apa salahnya jika kalian lebih teliti." Nita mengangkat alisnya sebelah.
"Siap! Mbak Nita." Ketiganya menjawab serempak dan memberikan hormat. Sebelum menuju keruangannya Nita berbalik lagi dan bertanya.
"Maaf Mbak saya terlambat," ucap Karina yang ngos-ngosan karena berlari.
"Hey, kenapa kamu berbalik juga Rindi," ucap Risma seolah tidak suka.
"Mbak Nita," panggil Imam, agar Risma, dan Rindi menyadari jika ada bos mereka di sana. Keduanya tampak sungkan dan membungkukkan badannya. Nita menggelengkan kepalanya dan meninggalan pegawainya.
"Kamu dikejar-kejar siapa Karin?" tanya Risma, gadis itu bahkan menyeret Karina untuk keluar dari toko. Imam dan Rindi tampak khawatir dengan sikap Risma yang kasar.
"Risma!" tegas Rindi agar dia tidak melakukan hal yang tidak-tidak.
"Kenapa Di? aku hanya bertanya padanya. Salahkah jika aku khawatir, jika dia merasa kesulitan bukankah harus berbagi dengan temannya. Lalu apa yang dilakukan Karina selama ini!" Risma berbicara dengan tegas. Dia pun masuk kedalam tanpa menunggu jawaban Karina.
Sebenarnya Karina ingin mengatakan pada rekan kerjanya. Namun, dia tidak bisa dia tidak ingin mereka merasa khawatir padanya.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan dimasukin hati. Dia juga sama halnya seperti aku mencemaskan kamu, tetapi caranya salah." Rindi memberikan pengertian.
"Sebenarnya siapa lelaki itu? bukankah dia lelaki yang menjemput Mbak Nita, lalu apa maksudnya mengikutiku seperti itu," batin Karina.
***
Jam sudah menunjukkan pukul tiga, Nita memandangi arloji yang membelit tangannya, berdoa agar Indra tidak datang. Namun, dia juga merasa heran mengapa Indra seolah ingin mendekatinya karena sesuatu?
"Ah, sudahlah. Mungkin aku yang terlalu berlebihan." Nita pun membawa tas-nya dan berpamitan pada karyawannya. Setelah dia keluar dia melihat Indra sudah memarkir kendarannya di depan tokonya.
Nita-pun masuk kedalam mobil Indra ketika lelaki itu membukkan pintu untuknya. Setelah Indra masuk Nita bertanya.
"Kemana supir kamu? biasanya kamu kemana-mana selalu bersama dengan supir,"
"Dia ada keperluan jadi tidak bisa mengantarkan saya," jawab Indra. Nita pun hanya menganggukkan kepalanya.
Kini mereka sudah tiba di pelataran rumah Kia, dengan wajah yang berseri-seri Indra begitu bersemangat. Nita pun menghentikkan langkahnya dan berbalik menatap Indra.
"Tuan Indra mau ikut masuk juga? apakah ada seseorang yang ingin kamu temui?" tanya Nita. Wajah Indra masih tersenyum dan tampak santai sekarang, tidak seperti tadi pagi.
"Saya hanya khawatir jika terjadi sesuatu pada kalian, bukankah akan kesulitan jika tidak ada yang menolong." Indra menggandeng lengan Nita untuk masuk kedalam. Kia melihat mereka berdua bergandengan tangan. Dia menatap datar seolah tidak melihat apa-apa.
Setelah Indra melihat Kia, dia langsung melepaskan tangan Nita dari genggamannya. Nita yang merasa heran berjalan mendekati Kia dan membelai rambut gadis itu.
"Sudah merasa baikkan?" tanya Nita. Namun, sebelum Kia menjawab, Indra menyerobot untuk berkata.
"Nona Kia, saya sudah memesan makanan pavorit anda. Di saat anda sedih bukankah anda akan memakannya. Cobalah, anda pasti bisa merasa lebih baik." Ketika bel berbunyi Indra langsung kedepan dan membawa sesuatu.
Nita mengernyit kearah Indra, menatap bingung dan meminta penjelasan.
"Anda begitu dekat sekali yah, dengan Kia,"
__ADS_1
"Kebetulan saya bertanya pada pelayan di sini."
***