Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab106. Berteman.


__ADS_3

Tazkia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Setelah malam itu mereka membuat kesepakatan untuk membuat Nita jatuh cinta pada Indra.


Gadis itu menerima tawaran itu, mengingat Indra tahu jika Nita mulai menyukainya. Dia hanya ingin memastikan dengan memberi umpan tentang kedekatan mereka. Namun, nyatanya mereka sama sekali tidak memiliki hubungan.


Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu, awalnya menolak, dia tidak ingin membuat Nita salah paham dengan rencana Indra. Tetapi dia juga tidak mempunyai pilihan. Agar Indra berhenti mengikutinya.


"Baru satu hari, tapi rasanya begitu membuat sesak ketika melihat Mbak Nita menunduk dengan wajah sedihnya. Apa dia benar mencintai Indra? Jika iya, lantas mengapa mereka berpura-pura. Sama-sama gengsi, sih," gumam Tazkia. Ari melihati tingkah gadis itu dengan seksama. Tidak biasanya Tazkia bersikap serius, apalagi tengah seorang diri. Ari yakin jika Tazkia mempunyai rahasia yang tidak dia ketahui.


Ari perlahan mendekat, "mikirin apa, sampai kamu seserius itu," tanya Ari, dia mendudukkan bokongnya di kursi samping Tazkia. Gadis itu menyipitkan matanya menangkup pipi Ari begitu dekat.


"Kamu ganteng juga dilihat sedekat ini." Tazkia terus mengamati wajah Ari. Hingga hidung mereka saling bersentuhan.


Ari menengguk ludahnya susah payah. Dia lelaki dewasa, dia juga lelaki normal yang akan bereaksi ketika pandangan mereka begitu intim seperti ini. Matanya melirik bibir ranum itu yang terus memujinya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan Ari terus mengamati setiap inci wajah Tazkia.


Cukup!


Ari bisa gila jika seperti ini terus menerus. Lelaki itu mengumpulkan kesadaran, yang sudah terkumpul membuatnya langsung menjauhkan wajahnya dari hadapan gadis itu. Tatapan lelaki itu terlihat bingung, dia memegangi kening Tazkia.


"Kamu mabuk bakso pentol level berapa Kia!" seru Ari memekik, membuat Kia menutupi telinganya.


Ari membuka lebar-lebar mulut gadis itu, memeriksa sudut giginya.


"Habis berapa porsi? jangan bilang kamu frustrasi kenapa tahu jika Tuan Indra--" Tidak ingin mendengarkan omong kosong Kia memasukkan tisu ke mulut Ari.


"Tidak akan ada kata cemburu, aku hanya sedang mempunyai misi dengan dia," ungkapnya memberitahukan pada Ari, kening lelaki itu mengkerut dalam.


"Misi? misi membuat kamu cepat menikah?" Tik, kali ini Tazkia berhasil memberikan sentilan di dahi lelaki itu. Meski tidak merasa apapun di keningnya, membuat Ari memegangi dahinya yang sempat Kia sentuh.

__ADS_1


"Ya, misi untuk membuat Mbak Nita menyadari perasaannya pada lelaki itu. Dia mencintai lelaki itu Mas Ari,"


"Tahu darimana Nona Kia, kalau Nona Nita mencintai lelaki itu?" Ari penasran akan hal itu.


"Ya, berbeda saja ketika dia tengah berdekatan dengan Indra," jawab Kia.


"Lalu misi kalian bagaimana?"


"Sudah aku bilang, aku dan lelaki itu berpura-pura dekat dan mencaritahu tentang perasaan Mbak Nita."


Tanpa mereka sadari Krisna tengah menguping pembicaraan mereka. Tangannya mengepal kuat, dia tidak mengerti akan perasaan adiknya yang malah membantu lelaki itu. Krisna merasa jika Indra telah menginjak-injak harga dirinya dan juga Tazkia. Lelaki itu sudah meminta izin untuk mendekati Tazkia, tetapi dia malah mencintai Nita.


Lalu hati adiknya lah yang terluka di sini. Semula dia akan merelakan Nita bersanding dengan lelaki pilihannya. Namun, ketika Indra yang akan mendekatinya dia tidak menerima. Bagaimanapun dia harus mengejar Nita kembali agar misi yang membuat adiknya dirugikan berhenti. Dan sama sekali tidak akan menguntungkan Indra.


***


Krisna dan Nita tengah bercanda di ruangan Nita dengan tawa yang terdengar hingga keluar. Kali ini dia tidak terang-terangan akan mulai mengejarnya, dia datang menemuinya untuk mengatakan jika dia telah sadar dan tidak akan memaksakan hati Nita lagi. Cinta tidak bisa dipaksakan, itulah alasan yang Krisna berikan.


Ketukan dari luar membuat tawa mereka terhenti, Nita pun membiarkan orang itu masuk. Indra menutup pintu dengan pelan, dia juga berjalan dengan lesu. Lelaki itu mengembuskan napas perlahan-lahan. Hatinya merasa tercubit melihat kedekatan mereka. Tetapi bagaimanapun dia tidak bisa melarang Nita.


"Kebetulan sekali Tuan Indra, anda datang," sapa Krisna lelaki itu ikut duduk disamping Krisna.


Nita memandang Indra sekilas lalu mengembuskan napas dengan kasar. Terlihat seperti banyak beban yang tersirat, Indra merasa jika dirinya kini menjadi beban untuk Nita.


"Sayang sekali Tuan Indra, kami telah makan siang barusan." Krisna menunjuk sisa makanan yang telah mereka santap. Indra menatap sisa makanan dan apa yang dia bawa di genggamannya.


Hatinya mencelos, baru kali ini dia merasakan begitu sesak ketika melihat wanitanya dengan orang lain.

__ADS_1


"Ah, iya sepertinya aku terlambat,"


"Jika tidak keberatan, makanannya akan saya makan Tuan Indra," pinta Krisna dengan senyuman yang tidak biasa. Tatapannya begitu tidak ramah. Mengapa lelaki itu berubah dalam sekejap?


"Tidak masalah Tuan Krisna, tetapi sebaiknya kamu meminta izin pada Nona Nita. Karena saya telah memberikannya,"


"Makan saja jika mau!" seru Nita, biasanya wanita itu akan marah jika Karina memintanya. Namun, ketika Krisna memintanya dia rela berbagi. Mengapa ada sesuau yang berubah. Padahal tadi pagi saja mereka masih berbincang dengan nyaman.


"Kalian berdua di sini saja, aku ada urusan sebentar." Nita pun meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.


Krisna berdiri, meletakkan tangannya di saku celana. "Harusnya kamu menyerah, tidak baik menjadi lelaki yang serakah menginginkan dua wanita untuk kamu miliki," bisik Krisna di telinga Indra, senyuman sinis dia lemparkan. Lalu keluar ruangan dengan gaya angkuhnya.


"Apa maksudnya," gumam Indra bingung. Indra lantas menunggu Nita hingga memasuki ruangan itu kembali.


Sedetik kemudian Nita datang, "Kenapa belum pulang?"


"Aku ... Ingin menemani kamu," sahut Indra dengan senyuman yang amat manis. Hati Nita kembali berdebar tidak karuan. Mengapa dia masih tergila-gila padanya.


Nita menggeleng pelan, menekankan pada perasaannya bahwa dia telah mencintai orang yang salah. Namun, Indra malah mencekal tangan Nita ketika wanita itu berjalan melewatinya.


Nita masih menatap kesembarang arah, dengan gerakan pelan Indra memutar tubuh Nita untuk saling berhadapan. Nita lebih memilih menunduk daripada harus saling pandang dengan Indra.


Dia tidak bisa terus-memerus dalam belenggu cinta itu. Cinta yang mungkin akan membuat hatinya terluka karena mencintai orang yang salah.


"Buang rasamu itu, Ta, mengapa bisa kamu menaruh hati pada lelaki ini," batin Nita.


Nita perlahan mengatur napasnya, dia tidak ingin sampai terlihat grogi di hadapan lelaki ini. Dia tidak ingin di cap sebagai orang yang baperan.

__ADS_1


"Apa kita akan seperti ini selamanya?" Tanya Indra dengan tatapan intens menatap Nita. Wanita itu menengadah menatap bingung kearah lelaki itu.


***


__ADS_2