Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab58. Tidak Ingin Bertemu.


__ADS_3

Bab58. Tidak Ingin Bertemu.


**


Setelah satu jam kepergian mereka Tazkia tampak berfikir, dia sedang ingin bertanya tapi entah pada siapa. Lalu apa pertanyaan itu? membuatnya berpikir keras.


Dia sudah mondar-mandir tidak jelas sepanjang hari untuk mengingat semuanya. Tetapi dia sama sekali tidak mengingat itu.


"Aku itu mau bertanya apa dan pada siapa? Hoy, otakku memang tidak berfungsikah Sampai melupakan hal yang penting," gerutunya. Baru saja dia akan mendudukan bokongnya di tepi ranjang. Riska membawa keponakannya.


Alis Tazkia menaut ketika sang mama mengantar cucunya itu kekamarnya.


"Hey, Mama. Ini kenapa di bawa kekamarku?" tanya Tazkia.


"Temani dia dulu Kia, mama mau meluruskan pinggang mama ini. Mama lelah. Mbak Ana kasihan jika harus selalu mengurus si jago," pinta Riska. Kia ingin menolak tetapi apalah daya dia tidak bisa menolaknya selain menurut.


Tazkia mulai menggendong bayi yang sudah ditinggalkan oleh ibunya itu. Dia mengamati wajah teduh si kecil yang terlelap di dalam tidurnya.


"Kasihan sekali kamu. Harus sendiri tanpa mama." Kia menciumi pipi gembul si kecil. Saat sesekali bayi itu menggeliat membuat hati Kita tenang. Dia melengkungkan bibirnya dan mengingatt sesuatu.


"Oh, aku ingat. Aku belum bertanya pada Mas Ari perihal wanita itu. Siapa ya namanya rin, Ring, Antangin!"


"Hoy aku lupa, kenapa bisa sih pelupa begini!" Gerutunya lagi membuat si jago menangis. Riska dan Ana langsung berlari kearah kamar Kia. Mereka berdua khawatir jika Kia melakukan hal buruk pada bayi itu.


Keduanya membuka pintu bersamaan.


"Kia!" Seru Riska wanita itu sudah memasang wajah cemas. Kia tersenyum kikuk ketika mereka memasang wajah garang padanya.


"Sini Mbak Ana, bawa si jagonya," titah Kia.

__ADS_1


***


Selembar kertas menjadi sebuah saksi jika Bian telah pergi. Lelaki itu meninggalkan Karina yang sudah tidak mempunyai apa-apa. Aset kekayaan yang dimiliki telah berbalik nama atas nama Bian. Karina sudah menjadi gelandangan sekarang.


Kasih saudara satu-satunya telah pergi, lalu kemana dia pergi? Haruskah dia mengemis untuk menyambung hidupnya? Nita menyusul Karina ketika dia telah lama menunggu.


Alih-alih menemukan Bian, dia hanya mendapati Karina yang menangis di dalam sana.


"Arin," panggilnya ketika dia memasuki kamar. Wanita itu mendongak lalu menatap Nita dengan tatapan menyedihkan. Dia beranjak berdiri lalu memeluknya dengan erat.


"Bian pergi, Nona. Aku bagaimana? Dia meninggalkan aku," lirih Karina. Nita mengerti dengan kesedihan gadis itu. Dia pun memapah Karina untuk duduk.


Ketukan pintu dari depan membuat Karina tersenyum sumringah. Dia yakin jika yang datang adalah Bian. Ketika Nita sudah berdiri akan membuka pintu, Karina menahan Nita agar tidak pergi. Dia sendiri yang akan membuka pintunya. Melihat Bian, memarahi lelaki itu yang sudah tega meninggalkannya seorang diri di tempat orang lain.


Ketika dia membuka pintu, hatinya melemas. Ternyata bukan orang yang dia harapkan melainkan orang lain.


"Halo Nona Karina. Bisa kami bertemu dengan Nona Nita? Beritahu dia jika Tuan Krisna datang untuk bertemu dengannya," titah Ari. Lelaki itu memperkenalkan Krisna. Karina mengangguk dan diapun mempersilahkam mereka untuk masuk.


"Nona Nita," panggil Karina. Wanita itu menoleh dan hanya menjawab dengan deheman. Tetapi Karina bingung harus mengatakannya seperti apa.


"Siapa yang datang? Bian 'kan. Di mana dia? Kenapa dia bisa berbuat seperti ini padamu. Aku akan memarahi dia, dimana dia sekarang?" Cerca Nita. Dia sudah gatal ingin memarahi Bian.


Karina menggeleng pelan. "Di depan bukan Bian Mbak Nita, di depan Tuan Krisna," sahut Karina. Membuat Nita mengerjapkan matanya tidak percaya. Dia tahu jika suatu hari nanti lelaki itu akan datang. Tetapi mengapa secepat ini, bahkan kematian Kasih baru saja satu Minggu.


Nita mempunyai perkiraan buruk tentang lelaki itu. Dia kira dia wanita yang tidak punya perasaan. Harus kembali lagi padanya. Setelah Krisna meminta haknya secara paksa membuat Nita trauma. Dia belum siap jika harus bertemu dengannya.


"Karina bisakah kamu memberitahu dia, Jika saya sedang beristirahat. Saya belum siap bertemu dengannya. Bagaimana pun dia memang suami saya. Tetapi saya berniat untuk mengajukan perceraian jika sudah 40 hari kepergian Kasih. Sebenarnya aku ingin secepatnya mengirimi dia surat cerai, tetapi aku menghargaimu, dia saudaramu," terang Nita. Karina menatap tidak percaya jika Nita bersikukuh ingin bercerai.


"Setiap malam dia memandangi photonya. Tetapi dia tetap ingin berpisah," batin Karina. Wanita itu tidak memberikan komentar apapun. Dia mengangguk untuk memberitahukan pada tamu itu.

__ADS_1


Sebelum sampai di ruang tamu, dia menghela napas dalam lebih dulu.


"Dimana dia?" Tanya Krisna lelaki itu celingak-celinguk ketika Karina datang hanya seorang diri.


"Tu-tuan, mmm, Nona Nita berpesan pada saya jika beliau ingin beristirahat dan tidak ingin bertemu siapapun," ucap Karina. Krisna langsung berjalan mendekati Karina. Dia meminta diberitahu dimana kamar Nita berada.


Krisna memegangi bahu Karina dengan kuat agar gadis itu mengatakannya. Tetapi Karina tetap bungkam, dia hanya menundukkan kepalanya karena takut.


"Beritahu saja Karina, jika terjadi sesuatu saya yang akan bertanggungjawab!" Seru Ari.


"Bian juga telah menitipkan kamu pada Tuan Krisna. Jadi setelah dia pergi kamu akan di biayai hidup oleh Tuan Krisna, jadi, tidak inginkah Anda membalas budi dengan memberitahukan dimana kamar Nona Nita berada,"


***


"Nita, aku datang untuk membawamu pulang." Krisna mengetuk pintu ketika Nita tidak kunjung membukanya. Sedangkan Nita di dalam sana berusaha tidak mendengar jika lelaki itu mengetuk pintu kamarnya.


Dia berusaha untuk masa bodo. Seperti apa yang dilakukan Krisna padanya. Dia sudah terlanjur sakit hati.


"Nita, bisakah kamu keluqr sebentar untuk menemuiku? Kita harus berbicara, berikan aku kesempatan. Aku akan memperbaiki semuanya." Krisna tidak hentinya membujuk Nita.


"Percayalah aku sungguh mencintaimu. Saat aku membawamu keluar rumah di tengah malam, itu bukan keinginanku. Kamu haruanya mengerti ini semua Nita. Karena Kasih terus merengek padaku. Aku tidak tega." Nita di dalam sana menutup telinganya tidak ingin mendengarkan penjelasan lelaki itu.


"Aku sudah bilang, jika aku tidak akan kembali jika kamu mengusirku dari rumah itu. Tapi apa kamu melakukannya, Kris. Kamu membuang ku, hanya karena kamu tidak mencintaiku. Aku bahkan merasa menjadi wanita ketiga di saat aku menjadi istri pertama. Aku terluka Kris," gumam Nita. Wanita itu beranjak berdiri dan berjalan di depan pintu. Dia menatap nanar knop pintu yang sama sekali tidak ingin dia buka.


Hatinya sudah cukup sakit, dia tidak mau menambah luka itu. Bagai luka yang disiram air garam. Perih itu tidak berkesudahan. Lalu apakah dia harus memberikan kesempatan? Tetapi tidak semua orang mendapatkannya.


"Nita, aku mencintaimu. Bisakah kamu memberiku kesempatan!"


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2