Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab115. Omong kosong.


__ADS_3

"Menikahi adik anda? jangan berbicara omong kosong tuan Krisna. Saya dan Kia tidak saling mencintai," ucap Indra dengan tatapan dinginnya. Aura yang menakutkan terlihat jelas di pelupuk matanya. Mungkin saat ini kesabarannya telah habis.


Krisna tidak menjawab dia pun memandang dengan dingin kearah Indra dengan napas yang memburu. Lelaki itu pun hal-nya dengan Indra, mencintai orang yang sama.


Tidak habis pikir dengan keputusannya yang plin-plan. Bukankah Indra telah meminta izin padanya untuk mendekati Tazkia, lalu mengapa masih mengejar Nita. Lelaki breng*ek itu tidak pantas mendapatkan apa yang dia mau. Setelah mendapatkan Tazkia dia berubah haluan ignin memilikki Nita? Wanita itu hanya miliknya!


"Setelah mengejar Tazkia dan mendapatkannya, kamu malah dekat dengan wanita lain," ucap Krisna.


"Kami tidak saling mencintai Tuan Krisna, berhenti berbicara yang tidak Anda ketahui kebenarannya. Saya tegaskan satu kali lagi pada anda. Bahwa aku dan Kia tidak saling mencintai,"


"Tidak mencintai katamu! kamu tahu seberapa dia bersedihnya dulu saat kamu meninggalkan dia tanpa kata. Dan sekarang pun kamu akan meninggalkannya lagi!" Krisna naik vitam, dia menyentuh kerah baju Indra dengan kasar.


"Bukankah dia memintamu untuk menikahinya, dan kamu pikir dia tidak mencintaimu? harusnya saya memberikan julukan pada anda sebagai lelaki tidak punya pendirian. Anda mencari Tazkia lalu mengejarnya, dan anda pun menggoda Karina dengan mesra."


"Anda salah paham! saya akan menceritakan kebenarannya jika anda ingin mengetahui antara aku dan Nona Karina,"


Krisna semakin murka, ketika Indra masih bisa menyanggahnya. Dia tidak ingin Tazkia merasakan sakit, sedangkan Indra bahagia bersama Nita. Tetapi dia pun telah mendengar jika Tazkia mencintai Ari mantan sekretarisnya. Akan tetapi dia menutup telinga dan seolah tidak mengetahui kebenarannya, karena sebenarnya dialah yang tidak terima jika Indra dan Nita bahagia.


Krisna tidak ingin jika Indra bersama Nita. Dia bisa saja ikhlas menerima kenyataan bahwa Nita tidak akan memberikan dia kesempatan kedua. Namun, Krisna tidak ingin jika lelaki itu adalah Indra. Dia tidak akan rela jika Indra pendamping Nita.


Krisna pun menyeret Indra agar mereka tidak berada di sekitar toko. Tetapi Indra menepisnya dan menatap tajam kearah Krisna.


"Berhenti bermain-main dengan saya Tuan Krisna, atau anda sendiri lah yang akan merasakan dampaknya," sungut Indra. Namun, Krisna malah tertawa meremehkan seolah lelaki itu mengejek Indra.


Indra hanya tersenyum, "ketulusan dan juga jalan yang benar akan menjadi pemenangnya tuan Krisna!" kelakar Indra.

__ADS_1


Krisna menatap lekat-lakat lelaki itu dengan tatapan penuh kebencian. "Pura-pura dermawan padahal kamu tidaklah baik Tuan Indra!" cerca Krisna. Indra mengembuskan napas kasar.


Krisna tidak terima jika perusahaan itu kini telah beralih kepemilikan. Dia merasa jika perusahaan adalah aset berharga milik dirinya dan keluarganya. Tetapi Indra datang dengan mudahnya dan mengalihkan asetnya.


"Anda salah paham Tuan Krisna, saya sama sekali tidak bermaksud demikian." Krisna memukul Indra dengan cepat. Indra yang tidak terima pun akhirnya melawan. Dia memberikan bogeman di kedua pipi Krisna dengan membabi buta.


Bukannya melawan lagi, Krisna malah diam dan tersenyum menyeringai membuat Indra semakin menghajarnya.


Karina memekik saat dia menatap kedepan tokonya dua orang insan yang tengah saling menghajar. Untung saja toko belum buka dan juga pengunjung belum ada yang datang. Jika kejadian itu dilihat oleh pengunjung, akan menjadi dampak yang buruk untuk tokonya.


Gadis itu langsung berlari menuju ruangan kerja Nita. Nita menautkan alisnya heran. Saat gadis itu terengah-engah.


"Ada apa Karina, pagi-pagi sudah lomba lari di toko. Joging dulu gih sebelum karyawan yang lainnya datang," ucap Nita. Namun, Karina tidak memberikan penjelasan suaranya seolah tercekat di kerongkongan.


Wanita itu langsung menghempaskan tangan Karina di pergelangan tangannya. Lalu berlari untuk mencoba melerai.


Krisna kembali menyeringai saat Nita datang tergopoh-gopoh. Dia langsung mencoba memancing Indra agar lelaki itu akan semakin buruk di mata Nita.


"Apakah kamu tahu." Sambil terbatuk-batuk Krisna berucap.


"Aku yang menculik Karina!" seru Krisna dengan tatapan mengejek. Meski wajahnya telah babak belur.


"Oh, jadi kamu menculik Karina dan membawanya ke Kelab untuk kamu jual begitu!" Langkah Nita terhenti ketika mendengar ucapan Indra.


"Apa yang kamu katakan Tuan Indra?" tanya Nita. Tangan Indra yang semula mencekal kuat kerah Krisna ia hempaskan. Namun, dengan cepat Nita mencoba menangkapnya agar Krisna yang sudah babak belur tidak terjatuh.

__ADS_1


"Kamu terluka parah, Kris, ayok duduk dulu." Nita memapah Krisna dengan hati-hati. Membuat Indra semakin geram. Dia langsung menghempaskan tangan Nita agar menjauh dari Krisna. Dia pun mendorong Krisna hingga lelaki itu tersungkur ke tanah.


"Berhenti Tuan Indra! anda sudah keterlaluan!" tatapan nyalang Nita lemparkan.


Indra berusaha menggapai jemari Nita agar dia bisa menenangkan wanita itu. Namun, Nita dengan cepat menghindar.


"Dengarkan aku, ini salah paham Nona. a--"


"Diam kataku Tuan Indra, apa yang akan kamu jelaskan padaku! Lihatlah keadaan Krisna karena ulah anda! Kalian meributkan apa? jawab aku, ha!" teriak Nita, membuat Indra tidak bisa menyanggah.Wanita itu tengah marah padanya, bagaimana pun dia menjelaskannya semua akan sia-sia.


"Kamu sengaja menculik Karina agar bisa semalaman bersama denganku begitu, picik sekali pemikiran anda Tuan Indra. Saya telah salah mulai menyukai anda, ternyata anda tidaklah baik seperti apa yang saya kira!" Indra tidak terima dengan ucapan Nita.


"Tuan Krisna yang telah menculik Karina, dia yang telah membawa Karina ke Kelab Nona Nita!" teriak Indra saat Nita mulai berbalik badan tidak ingin mendengarkan penjelasannya lagi.


"Ta," lirih Krisna yang terkapar di tanah. Nita langsung mendekat kearah Krisna dan berusaha untuk membangunkannya.


"Kamu percaya padaku 'kan, Ta. Meski aku tidak menyukai gadis itu, aku sama sekali tidak akan melakukan hal bodoh itu pada gadis itu." Nita mengangguk dia lebih mempercayai Krisna yang telah lama ia kenal. Dia sedikitpun tidak mempercayai Indra orang yang baru dia kenal.


"Ya, aku percaya padamu, Kris," jawab Nita mantap. Indra yang mendengarnya semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Nita.


"Bukankah dia dulu pernah menyakitimu, Nona Nita. Apakah kamu akan semudah itu percaya padanya, dan tidak mempercayai aku yang jelas-jelas tidak bersalah," sanggah Indra. Namun, Nita memandang Indra dengan sinis.


"Apa yang aku lihat, itu yang sudah menjadi bukti. Anda telah menghajarnya hingga seperti ini membuktikan jika anda memang bersalah, dan takut kebusukkan anda diketahui orang. Anda memutar balikkan fakta!"


***

__ADS_1


__ADS_2