Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab139. Memalukan


__ADS_3

Seperti inikah rasanya?


Mengapa rasanya berbeda saat dia melakukannya dengan Krisna? Mengapa rasa itu tidak dia dapatkan pada suami pertamanya?


Nita menutup matanya saat pergulatan itu telah selesai. Begitu membuatnya rileks hingga dia menikmatinya dengan penuh perasaan. Indra, mengapa lelaki itu bisa membuatnya menikmati? Sentuhannya membuat Nita mabuk kepayang, bayang-bayang saat suaminya mencumbu kembali memenuhi pikirannya.


Bibir yang dulu selalu menggombali nya dengan manis nyatanya begitu manis saat bersentuhan dengannya. Ahh, mengapa Nita menjadi semes*m itu memikirkan Indra.


Indra menyelimuti tubuh Nita saat Nita lebih dulu memejamkan mata. Sebenarnya dia belum ingin tertidur. Namun, karena malu harus berperilaku seperti apa membuatnya memejamkan mata.


"Tidurlah, kamu sudah bekerja keras malam ini untuk membahagiakan aku." Cup, Indra mengecup daun telinga istrinya dengan lembut. Namun, Nita merasakan perasaan berbeda saat bibir itu menyentuh daun telinganya. Geli, bercampur rasa yang sempat dia rasakan saat pergulatan panas tadi terjadi.


Kenapa dia menginginkan sentuhan itu terulang lagi? Bisakah dia menjadi jaim agar tidak terlihat murahan di depan suaminya. Namun, bukankah tidak masalah jika dia menginginkannya lagi?


Tangan Indra memeluk perut istrinya yang tidak memakai pakaian. Sentuhan kulit perut dan tangannya membuatnya menjadi memikirkannya lagi, lagi, dan lagi.

__ADS_1


Ingin rasanya Nita mnegumpat atas apa yang ada dalam pikirannya saat ini. "Bisakah kamu tidur saja, jangan memikirkannya terus jangan membuat aku malu di depannya," Batin Nita.


"Belum tidurkah?" tanya Indra saat menyadari pergerakan istrinya. Nita membatu bahkan Indra merasa jika Nita tidak bernapas.


"Hey, bernapas lah, jangan konyol! Kamu masih gugup? Jangan seperti itu membuatku ingin lagi melakukannya," ucap Indra, Nita pun mengembuskan napasnya kasar.


"Mmm, a-aku... "


Indra memegang tangan kiri Nita lalu menariknya hingga Nita langsung berbalik untuk menghadapi Indra. Tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun kini saling bergesekan. Wajah Nita kembali memerah.


"Hey..."


"Apa sih," jawab Nita dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Indra memegangi tangan Nita dan mengecupnya.


Indra tidak mempermasalahkan apa yang di lakukan istrinya, dia memeluknya dan mulai memejamkan mata. Namun, Nita yang mendengar dengkuran halus suaminya perlahan menurunkan tangannya lalu mengamati setiap inci wajah suaminya.

__ADS_1


Nita berusaha untuk tidak mengganggunya, dia malu jika melakukan hal konyol. Akan tetapi tubuhnya mulai berkhianat, tangannya mulai terangkat untuk menyentuh permukaan wajah Indra dengan jari jemarinya. Setiap wajahnya tidak luput dari sentuhannya membuat Indra membuka mulutnya. Namun, kedua matanya masih terpejam.


"Sayang, berhentilah bermain-main aku lelah dan besok aku harus bekerja kembali," ucap Indra, Nita meringis menahan malu meski matanya tertutup tetap saja membuatnya malu.


Nita tidak menjawab, tetapi dia mencari posisi tidurnya yang nyaman agar cepat menyusul suaminya ke alam mimpi.


***


Ketukan pintu dari luar membuat Nita mengerjapkan matanya. Tangannya mengayun untuk mencari seseorang yang semalam tidur bersamanya. Namun, di sisinya tiada siapapun. Apakah harus sepagi ini Indra pergi, padahal masih pagi. Nita pun menjuntaikan kakinya untuk menuruni ranjang.


Dia menuju pintu untuk membuka pintu. Di sana sudah ada Karina yang tersenyum jahil padanya. Gadis itu pasti tengah memikirkan hal konyol.


"Kata Tuan Indra Mbak sudah bekerja keras semalam. Jadi dia memintaku utnuk membawakan sarapan pagi." Karina langsung masuk kedalam saat Nita membukanya. Saat Karina sudah menyimpan sarapan di nakas Nita memintanya untuk duduk di ranjangnya.


"Aku tidak mau mendengarnya Mbak, aku masih polos,"

__ADS_1


***


__ADS_2