
"Kamu bilang ini berlebihan? Lalu kenapa kamu tidak punya inisiatif membuat kami di sini gemas saja!" seru Nita dengan mendengkus. Dia sudah gatal ingin sekali membuat Bian peka.
Kenapa sikap Indra dan Bian jauh berbeda. Indra lebih memilih mengutarakan rasa cintanya dengan sebuah bukti. Sedangkan Bian, bukti dan Kata-kata saja tidak dia lakukan.
Dalam keadaan yang cukup untuk menjelaskan saja dia masih berbasa-basi. Bahkan seolah mengatupkan rapat-rapat bibirnya. Ketika orang suruhan Indra memperlihatkan video kedekatan mereka. Hanya berjalan berdua saling memandang diam-diam.
"Lamar saja langsung kenapa, kalau suka 'kan orang lain tidak akan jadi penghalang. Ini masih saja begitu," gerutu Nita. Bian hanya mendengarkan Nita mengomelinya. Sejauh ini dia merindukan wanita itu, tetapi jika dia meminta waktu untuk berbincang saja dia takut jika Indra tidak akan memberikan izin.
"Lalu aku harus bagaimana, Mbak?" tanya Bian polos.
Dia sudah mencoba untuk menjelaskan. Akan tetapi jawaban Karina yang selalu menyelanya dan tidak ingin mendengarkan membuat Bian merasa tidak ingin lagi melakukan hal itu.
"Yan, masih lama? Aku duluan kalau begitu kamu nyusul saja bagaimana?" usul Karina karena kesal menunggu Bian. Lelaki itu memutar badan dan menjauhkan ponselnya dari telinga lalu berteriak.
"Tunggu di sana, Karin. Aku akan segera datang. Ini bicaranya sudah selesai kok!"
"Aku pamit dulu ya, Mbak. Nikmati saja waktu berdua kalian. Nanti kalau pulang aku akan menculikmu dari Indra!"
Terdengar tawa nyaring saat Bian mengatakannya. Jika dia mampu dia akan melakukannya, tetapi dia terlalu menghormati Indra, meski lelaki itu seringkali ketus dan jugaemgkrktiknya dengan pedas.
"Hey dasar anak kurang ajar! Tidak akan kuuzinkan!" Setelah mendengar umpatan Indra, Bian langsung menutup sambungan telepon. Dia merasa hidupnya kini berubah setelah Indra bisa menerimanya dengan lapang dada meski kesalahan orang tuanya dulu membuat keluarga mereka menjadi tidak harmonis.
"Sayang sekali Tuan Indra, Bian sudah mematikan sambungan teleponnya," ledek Nita sembari tangannya mengayun di udara menggoyang ponsel yang sempat mereka gunakan.
"Aku sudah tidak tahan ingin memberitahu Bian, Tuan Indra," ucap Nita sembari bergelayut manja di lengan suaminya. Indra mengusap lembut rambut Nita yang tergerai.
"Beritahu saja. Memang apa bedanya sekarang dan nanti," cetus Indra. Dia merasa jika itu sungguh membuang waktu.
"Tentu saja bedalah, tapi dia harus dapat pelajaran. Biarkan saja dia menderita biar tahu rasa. Dia kira dia lelaki satu-satunya. Lelaki memang seperti itu suka sekali mempermainkan hati wanita!" seru Nita sambil tangannya memelintir perut suaminya.
__ADS_1
Indra refleks menyingkirkan tangan istrinya, dia memegangi tangan istrinya lalu menciumi nya.
"Hanya karena orang lain, kamu melakukan KDRT terhadap suamimu, hmm,"
"Jangan alay! Hanya sedikit saja."
***
"Siapa yang meneleponmu?" tanya Karina saat Bian sudah berlari mengejar dirinya. Bian berdehem, "bos-ku," jawab Bian singkat.
"Oh, berarti dia Tuan Indra 'kan? Ada sesuatu yang terjadi pada Mbak Nita?"
Bian hanya menggerutu dalam hati, niatnya ingin berbicara dari hati ke hati tidak bisa dia lakukan. Karin terus mencerca Bian dengan pertanyaan yang mengarah pada pasangan suami istri itu yang telah Mengganggunya.
"Tidak ada masalah, mereka hanya mengatakan bagaimana dengan hubungan kita!" seru Bian. Dia memepet tubuh Karina agar tidak berjarak. Lalu dia berbisik.
"Bos-ku dan Mbak Nita, memata-matai kita." Karina mengernyit heran. Apa maksud dari perkataan lelaki di sampingnya. Mana mungkin Indra dan Nita rela membayar orang hanya demi mereka yang belum juga berbaikan.
"Jangan ngada-ngada kamu! Kamu hanya ingin kita dekat meski mereka tidak ada 'kan?! Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan," kata Karina dengan bibir mencebik.
Bian tidak bisa berkata-kata lagi. Bagaimana pun dia menjelaskan Karina tidak akan mempercayainya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhrinya mereka menemukan nasi goreng dipinggiran jalan. Karina menunjuk kearah nasi goreng dengan ragu-ragu.
Dia tahu kini Bian telah menjadi sekretaris dari Indra yang dia ketahui sebagai pemilik perusahaan yang cukup maju. Namun, dia tidak mungkin mentraktir Bian di restoran seperti makanan yang telah Bian bawa tadi.
"Aku hanya mampu membelikan nasi goreng pinggiran," ucap Karina dengan meringis. Dia menggaruk tengkuk lehernya merasa gugup.
"Tidak masalah, kamu ingin makan lagi?" tanya Bian dengan senyuman menghangat. Karina menggeleng dia sudah cukup kenyang dengan makanan yang telah Bian bawa.
Karina pun memesankan nasi gorengnya satu porsi. Dia bahkan masih mengingat jika Bian tidak terlalu menyukai pedas. Setelah memberikan arahan dia pun duduk berseberangan dengan Bian.
__ADS_1
"Kamu masih mengingatnya?"
"Emmm, enggak juga. Mungkin karena aku juga tidak suka makanan pedas, ya, jadi begitu. Ya, refleks saja," elak Karina. Bahkan Bian tahu, jika Karina begitu menyukai makanan pedas. Tapi dia tidak ingin membuat suasana rusak dengan ke kepoannya.
Biarkan sikap gadis di hadapannya yang menjadi bukti bahwa Karina masih mencintainya. Penjual nasi goreng pun menghidangkan makanan itu. Bian menikmati makanan malam ini dengan perlahan. Bahkan dia ingin waktu berhenti agar bisa lebih lama bersama Karina.
"Sudah makannya?" tanya Karina saat dia merasa waktu sudah cukup lama menunggu. Namun, nasi di piring Bian masih tersisa sedikit lagi. Bian menengadah saat dia menyadari pergerakan Karina.
"Lanjutkan saja, santai saja," ujar Karina, dia juga tidak ingin waktu cepat berlalu. Jarang-jarang dia dan Bian bisa bersama seperti ini.
Bian berdiri, dan membayar nasi gorengnya. Karina tidak menyadari mengingat dia terlalu focus membalas pesan singkat dari Nita.
"Ayok, pulang!" ajak Bian, Karina bediri dan mengeluarkan uang dari saku celananya hendak membayar. Namun, Bian dengan cepat mencegahnya.
"Aku sudah membayarnya," bisik Bian di telinga Karina.
"Kenapa membayar sendiri, 'kan aku sudah bilang aku yang akan mentraktir kamu!" Kesal Karina dengan berlalu pergi meninggalkan Bian. Lelaki itu mengejar Karina saat raut wajahnya berubah menjadi kesal.
Akhirnya Bian bisa mencekal pergelwngat tangan Karina saat gadis itu langsung meninggalkannya. Mood Karina benar-benar tidak dalam keadaan yang stabil. Dia kadang gampang marah dan juga baik padanya.
Baru saja Bian akan menjelaskan semua yang telah dia lakukan terhadap Karina. Seseorang memnaggil Karina dengan membawa anaknya. Siapa lagi jika bukan Krisna.
Lelaki itu berjalan berdua, dan mendekati Karina. Dengan cepat Bian melepaskan tautan tangannya dari Karina.
"Sedang apa kalian?" tanya Krisna memecah keheningan.
"Kami kebetulan bertemu saja!" Jawab Karina, tidak membiarkan Bian menjawabnya jika mereka sengaja berjalan-jalan berdua di malam itu.
Hati Bian merasa sakit saat melihat raut wajah Karina yang semula kesal menjadi bahagia melihat Krisna dan anaknya.
__ADS_1
***