
Bab74. Tidak Bisa Membohongi Diri Sendiri.
***
Pagi-pagi sekali Bian sudah mengunjungi rumah Nita ketika semalaman dia tidak bisa menghubungi wanita itu. Wajahnya sudah di selimuti dengan kekhawatiran. Nita yang tengah sarapan pun terkejut dengan raut wajah Bian. Dia mengernyit heran, jika Bian sudah begini tandanya dia sedang tidak baik-baik saja.
"Makanlah dulu jika memang ada sesuatu yang penting," titah Nita Bian menurut dan ikut mendudukan bokongnya di kursi berhadapan dengan Nita.
Mbak Ana pun berbisik di telinga Nita karena tidak biasanya lelaki muda itu berperilaku seperti itu.
"Seperti ada sesuatu yang sangat urgent. Seperti tengah mengkhawatirkan sesuatu yang berarti untuk hidupnya,"
"Aku bisa mendengarnya Mbak Ana." Bian menimpali ketika Ana selesai berbisik di telinga majikannya.
Raut wajah Ana berubah merah padam karena malu, dia tersenyum kikuk karena diketahui oleh Bian. Dia pun pamit undur diri.
"Benarkah apa yang di kata Mbak Ana? ada sesuatu yang membuatmu gelisah?" tanya Nita ketika dia sudah melahap habis sarapan paginya.
"Karina diusir oleh Tuan Krisna Mbak. Entah karena apa yang jelas keluarga mereka sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja," ungkap Bian, Nita tekekeh dengan laporan yang dia dengar dari Bian.
"Kamu memata-matainya? banyak sekali yang kamu ketahui tentang gadis imut itu, bisakah kamu berterus terang saja pada dia agar dia tidak mengira jika kamu dan aku benar-benar dekat," saran Nita, Bian menghela napas kasar lalu memilih beranjak berdiri untuk pergi.
Bahkan kali ini dia tidak berpamitan pada Nita. Baru saja Nita akan memanggil Bian ponselnya berdering. Kia, gadis itu meneleponnya. Awalnya Bian ingin menghiraukannya tetapi setelah dia mendengar nama Karina di ucapkan Nita, dia berbalik lagi.
["Sebenarnya apa yang terjadi pada Karina, Kia?"] tanya Nita.
["Aku ingin bertemu denganmu saja Mbak, aku kerumah ya,"] ucap Kia.
["Ok, Mbak tunggu."]
hanya itu saja yang bisa Bian dengar. Nita menautkan alisnya dan tersenyum simpul ketika Bian tidak jadi meninggalkannya.
"Kenapa belum pulang? kamu sudah mulai tidak menghargai kakakmu ini, pergi saja!" ketus Nita. Setelah mengatakan itu Nita meninggalkan Bian, tetapi Bian mengikutinya.
__ADS_1
"Aku hanya tidak sengaja bertemu dengan mereka di restorant Mbak, untuk apa aku mengikutinya seperti tidak mempunyai pekerjaan," elak Bian, tetapi bagaimana pun Bian menutupinya NIta dapat mengetahui kebenarannya.
"Yasudah pulang saja, jika merasa gadis itu tidak penting." Nita mengusir Bian. Lelaki itu terkesiap tidak percaya jika Nita mengusirnya.
"Aku pulang, tapi Mbak beritahu padaku apa yang gadis itu beritahu pada Mbak," rengek Bian.
"Ok! tapi tidak gratis ada syaratnya. Tidak ingin menerima protesan. Cepat pulang sebelum Kia datang." Nita mengibaskan tangannya, agar Bian segera pergi dari rumahnya. Bian berdecak karena tidak bisa mendengarnya secara langsung.
"Gengsi sekali hanya untuk mengakui!" seru Nita dengan helaan napas berat.
"Bisa saja kamu menutupi ini dari semua orang, tetapi kamu sendiri tidak akan bisa membohongi diri sendiri," gumam Nita.
***
Nita berjalan kedepan untuk menyambut kedatangan Kia, mantan adik iparnya. Untuk saat ini memang dia sudah melupakan semuanya. Namun, dia tidak bisa menghilangkan rasa sakit dihatinya karena perlakuan Krisna.
Baru saja dia mendudukan bokongnya di kursi depan Kia sudah datang. Dengan wajah cemberutnya dia bisa mengetahui jika gadis itu sedang marah.
"Mbak NIta!" teriaknya, lalu memeluk nita dengan erat. Cukup lama Kia memeluk wanita itu. Dia sudah rindu padanya karena telah lama tidak berjumpa.
"Jika begini biasanya kamu sedang marah pada kakakmu?" tebak nita, tetapi Kia tidak bisa menutupi kebenarannya. Jika dia memang sedang tidak akur dengan kakaknya. Bukan karena Krisna memarahinya, tetapi lelaki itu tidak menuruti keinginannya.
"Apa yang kalian perdebatkan?" tanya NIta, Kia menoleh pada Nita dengan wajah frustrasinya.
Namun, bukannya menjawab dia hanya semakin cemberut dengan wajah kesalnya. Nita tersenyum simpul melihat perilaku mantan adik iparnya itu.
"Kia hanya rindu Mbak Tata saja, malas sekali Kia menasihati mas Krisna yang keras kepala. Sudah tua tapi kelakuannya masih kayak anak yang baru puber. Tapi memang puber kedua lebih parah ya Mbak. tua-tua keladi," cerocos Kia.
"Memangnya apa yang dilakukan Mas-mu?" tanya NIta penasaran, Kia tampak berpikir, haruskah dia mengatakan semuanya dan berkata jujur pada Nita?
Cukup lama gadis itu terdiam, sedangkan Nita masih setia menunggu jawaban Kia. Berulang kali Kia menatap Nita, gadis itu sungguh tidak bisa mengatakan masalah ini padanya.
"Hanya masalah pekerjaan, Mbak. Kamu tahu kan semenjak dia berpisah denganmu dia sudah tidak punya banyak waktu dengan anaknya, padahal dia juga butuh kasih sayang seorang ayah,"
__ADS_1
"Sudah diberi kebahagiaan menjadi orangtua masih menyia-nyiakannya pa--." Kia merasa bersalah ketika dia melihat raut wajah Nita yang berubah sendu. Bodohnya dia salah mengucapkan kata itu.
Padahal dia tahu jika Nita pernah mengandung. Namun, dia kehilangan calon bayinya karena keguguran. Nita mengelus perutnya merasai perasaannya yang kian terluka lagi. Sesakit ini? menyiksa hatinya, andai dia langsung menggugat Krisna tanpa ragu mungkin keguguran tidak akan pernah dia alaami.
Nita mendongak ketika dia telah lama menunduk, di sana sudah ada Krisna yang tengah memandanginya. Nita langsung berdiri karena terkejut. Dia juga memalingkan tatapannya karena enggan untuk bertemu dengan Krisna.
"Maafkan Kia karena te--"
"Aku tidak akan pernah bisa benci padanya. Aku hanya akan marah jika kamu kemari tanpa diminta, aku harap kamu jangan pernah datang lagi!" Nita langsung berlari kedalam rumahnya dan menutup pintu dengan cepat.
Krisna menggantung tangannya di udara, baru saja dia akan mengetuk, lampu rumah itu sudah di matikan. Jelas sekali Nita tidak ingin menemui Krisna lagi.
Krisna menghampiri adiknya yang tengah cemberut karena Krisna memaksanya untuk pergi tanpa berpamitan.
"Dengan cara mas begini akan membuat hubungan aku dan Mbak NIta merenggang. Aku seperti tidak punya tata krama karena tidak berpamitan padanya. Sudah aku lelah karena Mas selalu mementingkan diri sendiri, aku juga akan pergi menemani kak Krin." Kia pun menghubungi Ari untuk menjemputnya. Dia kesal terhadap kakaknya yang berperilaku seperti ini.
Datang secara tiba-tiba dan menghancurkan suasana. Kia yakin jika Nita saat ini pasti membencinya. Dengan ucapannya yang salah membuat dirinya tidak bisa memaafkan diri sendiri.
"Aku sungguh tidak punya muka saat ini untuk menghadapinya."
Ari pun datang, Kia pergi begitu saja meninggalkan Krisna yang menatap kosong kearahnya.
"Kenapa lagi dengan Tuan Krisna? saya rasa anda salah jika membicarakan masalah ini pada Nona Nita," ucap Ari, Kia menghela napas berat.
"Aku juga masih waras, tidak mungkin mengatakan hal itu padanya. Kalian pikir aku anak kecil! tapi aku masih imut juga," celetuknya sambil membawa ponsel dari dalam tasnya dan menekan kamera untuk melihat wajahnya sendiri.
Ari menggelengkan kepalanya karena ucapan gadis di sampingnya.
"Entah apa yang akan terjadi jika aku menjadi suamimu," gumam Ari, samar-samar Kia dapat mendengarnya. Namun, tidak begitu jelas. Dia langsung memiringkan tubuhnya dan menatap dengan senyuman licik.
"Kenapa? apa kamu mendengarnya?" tanya Ari sekilas melihat kearah Kia.
"Tidak!!"
__ADS_1
***