
["Ta, Kia sedang merajuk padaku. Dari tadi pagi dia tidak mau bicara padaku. Dia mungkin akan pergi dengan Indra kekasihnya. Dia merasa kalau aku terlalu mengekangnya. Padahal aku hanya ingin menasihatinya agar berpacaran yang sewajarnya."] Pesan yang dikirim Krisna.
Lantas Nita menoleh kearah depan ketika suara deru mobil terdengar berhenti di pelataran rumahnya. Berpacaran sewajarnya? Apakah Kia dan Indra?
Pikirannya menjadi bercabang dan memikirkan hal yang buruk pada lelaki itu. Padahal dia sempat mengagumi sosok lelaki tampan itu. Tetapi setelah Krisna memberitahukannya. Hatinya seolah tidak percaya.
Tazkia turun dari mobil, dan langsung berlari kedalam rumah Nita. Ketika pintu utama dibuka Nita langsung mengamati tingkah gadis itu. Ya, wajahnya terlihat kusut dan juga di tekuk.
Nita yakin jika Indra-lah penyebab Tazkia menjadi murung. Lantas Nita berdiri dan menghampiri gadis itu.
"Ada masalah?" tanya Nita, Tazkia menganggukkan kepalanya seraya memeluk tubuh Nita dengan erat.
"Iya, Mbak. Aku gak mau bicara lagi sama Mas Krisna," jawab Kia. Nita langsung menegang. Ternyata benar apa yang di katakan Krisna, lelaki itu memang tidak baik. Tetapi jika sudah terlanjur seperti itu. Harusnya mereka segera menikah.
Nita memapah gadis itu untuk masuk kedalam kamarnya. Sedangkan di dapur Karina tengah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
***
"Kenapa dengan Mas-mu?" tanya Nita ketika mereka telah sampai di dalam kamar dan mendudukkan bokongnya di tepi ranjang.
Bibir Tazkia mengerucut dan kakinya dia hentakkan kelantai. Perasaan benci yang mulai bercokol dalam dadanya. Mengapa lelaki itu berubah saat dirinya membutuhkan kasih sayang.
Tazkia tidak langsung menjawab, dia masih meredam emosinya agar tidak melampiaskan kekesalannya pada Nita. Berulang kali gadis itu menghela napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Dia mencodobgkan tubuhnya kearah Nita dan mulai memeluk wanita itu dengan erat.
Meminta sandaran seolah beban yang dia alami begitu berat. Nita ikut larut dalam suasana. Sepertinya mantan adik iparnya itu tidak dalam keadaan mood yang tidak baik.
"Mas Krisna jadi ngatur-ngatur hidupku, Mbak. Aku tidak suka," adu Tazkia, dia masih mengingat saat tengah sarapan. Krisna begitu dingin padanya. Bahkan dia meminta dirinya untuk pergi menemui Indra.
"Aku bingung kenapa dia Mbak,"
Pikiran Nita menerawang, akankah gadis sepolos Tazkia melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Apalagi ajaran Mama Riska yang selalu memintanya untuk menjaga diri. Apalagi pada anaknya, dia pasti akan memberikan wejangan pada Tazkia.
Nita menatap lekat-lakat bola mata gadis itu. Tazkia merasa malu di tatap begitu intens oleh Nita.
__ADS_1
"Mbak kenapa menatapku seperti itu?" Kia menutup matanya dengan tangan sebelahnya. Tangan satunya ia gunakan untuk memeluk Nita.
"Kamu harusnya mendengarkan Mas-mu, Kia. Mbak kira jika dia mengatakan yang terbaik untuk kamu untuk apa kamu merasa keberatan." Nita memberikan nasihat pada gadis itu.
"Kalau pacaran harus tahu batasan ya, sayang. Kamu kan masih gadis, harus menjaga kehormatan demi kebaikan kamu juga."
Mata Tazkia membola sempurna ketika Nita mengatakan yang tidak searah dengan pembicaraan mereka. Tazkia menatap bingung kearah Nita dengan alis yang manaut. Dahinya berkerut semakin dalam semakin bingung yang tersirat.
Gadis itu menguraikan pelukan dan mulai menegakkan tubuhnya.
"Apa maksudnya Mbak Tata?" pertanyaan itu terlontar, butuh waktu lama untuk Tazkia memikirkan apa yang di katakan mantan kakak iparnya itu.
"Pacaran yang sehat saja, Kia. Jangan karena cinta kamu menjadi buta. Sudah Mbak, harus Ketoko. Jika kamu mau tidur di sini saja." Nita pun berpamitan untuk keluar kamar.
Kia menatap punggung Nita yang menghilang dari pandangan ketika pintu kamar di tutup. Dia masih bingung dengan nasihat yang telah dibicarakan Nita. Sungguh tidak nyambung. Dia merasa jika Krisna mulai mengatur hidupnya untuk dekat dengan siapa. Sedangkan Nita membahas tentang masalah pacaran.
"Padahal aku tidak punya pacar, Mbak Tata."
***
Nita tampak menghela napas berat, lalu menganggukkan kepalanya. Tangannya mulai terulur membawa roti yang telah di sediakan Karina dan menyantap makanan itu. Tatapannya kosong, gerakan kunyahannya pun sangat lambat. Karina terus mengamatinya hingga bibirnya sudah gatal ingin bertanya.
"Mbak," panggil Karina dengan sedikit ia naikkan suaranya. Namun, Nita masih bergeming. Sepertinya makanan yang sempat masuk kemulutnya pun tidak lagi dia kunyah.
Karina memilih menunggu bos-nya di depan rumah ketika dia telah selesai dengan sarapannya. Duduk dengan santai sembari mengecek ponselnya. Fokusnya teralihkan ketika Imam mulai menghubunginya, tiga karyawan Nita telah datang Ketoko dan menunggu Nita dan Karina datang.
Karina hanya membaca dan bingung harus menjawab apa, tidak mungkin dia mengatakan jika bos-nya itu tengah melamun dan menunggu Nita sadar. Lama tidak mendapat respon Imam, pun meneleponnya.
["Ya,"]
["Cepat datang Karin, kami sudah menunggu lama ini. Ini sudah pukul setengah sembilan. Biasanya kan kalian datang pukul delapan,"] ucap Imam tidak sabar menunggu mereka.
["Kami kesiangan bangun, Mam. Tunggu, ya. Nanti akan kusampaikan pada Mbak Nita, agar cepat."]
__ADS_1
Karina menghela napas lalu membuangnya dengan kasar, setelah mematikan teleponnya. Dengan berat dia mulai berdiri dan kembali berjalan menuju dapur. Di sana Nita masih dengan posisi semula.
Gadis itu mengusap bahu Nita dengan lembut. Seketika pun Nita tersadar dan mulai mengunyah sarapannya dengan cepat.
***
Nita masih memikirkan pesan singkat yang telah dikirin Krisna. Benarkah? Tetapi dia tidak yakin jika Indra bisa melakukan hal seperti itu.
Karina mengamati tingkah Nita yang aneh saat Kia mulai datang. Apakah Nita tersinggung dengan perkataan gadis itu. Tetapi dia sudah terbiasa dengan ucapan yang terlontar dari mulut gadis itu. Apalagi kejadian semalam membuat Karina khawatir.
"Karin," panggil Nita. Karina menoleh dengan wajah berbinar. Dia bisa bernapas lega ketika Nita mulai memanggilnya. Kemungkinan wanita itu akan mengatakan kegundahannya ketika dia tidak bisa lagi menyimpannya seorang diri.
"Bacalah pesan dari Krisna." Nita mengulurkan tangannya, memberikan ponsel pribadi miliknya kearah Karina.
Gadis itu menatap bingung kearah ponsel yang di hadapannya. Tetapi dia tetap membawanya. Mengklik nama Krisna yang tertera dan membaca pesan singkat itu dalam hatinya.
Setelah selesai membaca Karina menghela napas kasar. Dia menunduk dan merasakan apa yang Nita rasakan. Mengapa semuanya terasa rumit. Apakah orang yang telah membantunya tidak berhak bahagia?
Saat wanita itu bisa membuka hatinya, cobaan datang dengan membuat skenario hidup seolah dia menjadi pemeran antagonis yang mendapatkan ganjaran.
"Jadi ini yang membuatnya murung. Aku yakin Tuan Krisna pun semalam mengatakan yang membuat hati Mbak Nita terluka. Dan Tuan Indra tidak datang untuk menghibur Mbak Nita semalam, aku yakin dia malah bertemu dengan Nona Kia. Kalau dia mempunyai hubungan dengan wanita lain, mengapa memberi harapan untuk Mbak Nita," batin Karina.
"Mbak." Nita menoleh dengan senyuman yang manis. Meski hatinya sedikit terluka. Setidaknya dia sudah merasa tenang.
"Cobaan hidup memang tidak bisa diduga-duga, Mbak. Semoga saja hatimu hanya sekadar rasa suka atau kagum. Bukan mencintai," ucap Karina, dia mengalihkan pandangan agar tatapan mereka tidak bertemu. Akan merasa canggung jika itu terjadi.
Nita menelan ludahnya susah payah. Sebenarnya rasa itu entah kapan menjadi cinta. Perasaan yang dulunya hanya sebatas mengagumi kini telah berubah menjadi cinta.
"Ya, kau benar aku mungkin hanya mengagumi sosoknya saja. Dia tampan, masih muda dan sukses. Tapi yasudah lah, dia sudah mempunyai calon istri. Mungkin menjadi pengagum rahasia tidak apa-apa." Nita menutup mulutnya saat dirinya sadar tertawa setelah mengatakan itu.
Karina pun menoleh lagi dan tahu jika Nita sedang menutupi rasa sakitnya dengan berpura-pura masabodo. Padahal hati wanita itu terluka lagi, lagi dan lagi.
"Semangat, Mbak! Kamu bisa berjuang sendiri sampai saat ini. Jika kamu dan dia berjodoh, percayalah bagaimana pun jalannya kalian akan tetap bersama, tetapi jika tidak, ikhlaskan lah, bukankah rumah impian yang kamu inginkan mempunyai pasangan hidup yang mencintaimu dengan tulus."
__ADS_1
***