
Bab30. Tunggulah Aku, Kamu Akan Bahagia Suatu Hari Nanti.
***
Mereka sudah berada di dalam restoran. Tanpa banyak basa-basi mereka langsung memesan makanan lalu memakan apa yang mereka pesan. Tidak ada kata yang terlontar ketika mereka memasuki restoran. Kasih pun kali ini tidak mengikuti Krisna keluar.
Nita tengah cemas, dengan keputusan apa yang akan Krisna katakan. Apakah lelaki itu akan mengiyakan keinginan Kasih, atau tetap mempertahankan dirinya untuk tetap tinggal di sana.
Pikiran-pikiran buruk yang terbesit saat ini. Nita tahu bagaimana dalamnya cinta Krisna pada wanita itu. Meski dia terlihat baik pada dirinya, dia pasti akan menuruti keinginan Kasih.
Dia memang tidak berarti dalam kehidupan Krisna. Kebaikan, perhatian yang selalu dia berikan bukanlah tentang cinta. Hanya sebatas teman. Namun, dia tidak peka akan perasaannya Nita. Mengapa lelaki itu egois.
"Ta," panggil Krisna, sorot matanya begitu santai. Seolah tidak terjadi apa-apa. Nita sedikit lega, mungkin Krisna akan tetap mempertahankan dirinya untuk tinggal.
Nita hanya berdehem menjawabnya. Setelah insiden kemarin malam membuat dirinya merasa malu sendiri.
"Kamu tahu kan apa yang Kasih inginkan kemarin." Krisna mengingatkan kembali kejadian kemarin.
Nita mengangguk, "kenapa memang? Kamu mau mengusirku dari rumahku sendiri?" Tebak Nita. Lelaki itu tersenyum menanggapi dengan sorot mata yang teduh.
"Menurutmu aku bisa sekejam itu?" tanya Krisna balik bertanya.
'Kamu lebih kejam, karena telah melukai hatiku,' batin Nita.
"Kenapa tidak mungkin? Menurutmu kamu menikah lagi itu bukan perbuatan kejam?" Jawab Nita. Krisna terdiam, dan memandangi Nita cukup lama. Sedangkan Nita dia berusaha mengalihkan tatapannya.
Krisna seolah tengah mengintimidasinya dirinya. Tatapan yang tidak biasa dia berikan pada Nita.
"Jika aku membayar semuanya dengan rasa cinta, apakah itu cukup untuk membuat rasa sakitmu sedikit lebih baik?" Tanya Krisna. Nita mengerjap tidak percaya dengan apa yang dilontarkan Krisna. Apakah lelaki itu mulai mencintainya lagi?
__ADS_1
Atau sebuah kata sebagai pengalihan ketika Nita menggertak nya. Nita tertawa mengejek ketika mendengar ucapan Krisna. Padahal dia sudah sangat bahagia jika benar itu terjadi.
"Apakah menurutmu, semua yang telah terjadi bisa terulang seperti dulu. Mmm, maksudku, apakah setelah kamu mengatakan itu kamu bisa menghapus kata istri kedua yang sudah tersemat pada Kasih?" Tanya Nita.
Lelaki itu mengembuskan napas kasar dan menatap Nita. Kali ini Nita tidak mengalihkan tatapannya. Dia ingin memandang lelaki itu dengan lama, agar dia tahu seberapa cintanya dia pada lelaki itu. Dan sedalam apa rasa luka yang telah Krisna torehkan di hatinya saat ini.
"Jika aku bisa memilih, aku ingin menjadi yang kedua untukmu Kris, agar aku bisa memiliki hatimu. Tetapi aku tidak bisa memaksa kamu untuk mencintaiku. Teruslah menyakitiku, Sampai waktunya tiba rasa itu akan sirna seiring berjalannya waktu." Nita memainkan gelas yang tengah berada di hadapannya.
"Lihatlah, air yang berada di dalam gelas ini, Kris." Nita memandang gelas yang tengah ia pegang. Krisna pun mengikuti apa yang tengah di lakukan Nita. Wanita terus menggoyangkan gelas itu.
"Seperti itulah rasa cinta itu. Tidak berujung, dan entah sampai kapan akan bertahan,"
"Ta," panggil Krisna.
"Tidak usah kamu menjelaskan. Aku mengerti, untuk sebuah perasaan memang sulit untuk ditebak. Kita bersama bahkan dari bayi, tetapi tidak menutup kemungkinan jika ternyata kebersamaan kita tidak berujung saling mencintai," terang Nita. Wanita itu mengusap kasar air mata yang sempat jatuh.
Krisna mendesah berat, "aku di sini, bingung harus memulai kata dari mana. Sedangkan keinginan Kasih ingin kamu pergi sementara sampai ... Dia melahirkan. Hmm, apakah kamu akan mengerti?" tanya Krisna.
"Benarkah dia mengandung?" tanya Nita. Krisna hanya mengangguk.
"Selamat keluarga kalian sudah lengkap. Mmm, Kris ... Kalian sudah lengkap, menurutku kamu sudah saatnya melepaskan aku," ucap Nita, dia menatap Krisna dengan tatapan memohon. Tetapi lelaki itu sama sekali tidak menanggapinya. Dia tetap tenang dan tidak memberikan pendapatnya.
"Sejauh kamu melangkah, kamu tetap harus berada di sampingku. Aku sudah berjanji kepada orangtuamu. Serta ini adalah amanat orangtuaku yang ingin aku menjadi suamimu, mengertilah, agar aku tidak merasa salah karena tidak bisa menepati janji," timpal Krisna. Nita memejamkan mata dengan degupan jantung yang kian tidak menentu.
Sesulit ini untuk melepaskan diri dari jerat cinta Krisna. Untuk apa tetap bersama jika dia tidak mencintai dirinya.
"Tapi, kamu tidak memiliki rasa apapun padaku, Kris, sudah seharusnya kamu melepaskan aku untuk aku mencari kebahagiaan diriku sendiri. Meski aku dan kamu tidak tinggal bersama lagi, kamu masih tetap bisa menjagaku," saran Nita. Di bawah meja sana dia memegangi perutnya yang datar. Ia juga ingin mempunyai keturunan dari Krisna.
Lelaki yang teramat dia cintai. Tetapi mengapa harus seperti ini jalan mereka. Ketika kedua orangtua mereka masih lengkap, Krisna tampak mencintai Nita. Lelaki itu selalu memberikan perhatian dan seolah hatinya untuk dirinya.
__ADS_1
"Keputusanku tidak bisa kamu ubah, Ta. Mohon bersabar, aku ...," ucapan Krisna menggantung. Nita semakin antusias dengan jawaban Krisna. Apakah lelaki itu sudah mulai menyukai dirinya lagi. Setelah kemarin saat kedekatan dirinya dan Bian.
"Aku apa Kris, apakah ka---"
"Aku akan bersikap adil pada kalian." Nita lemas seketika saat mendengar jawaban Krisna. Dia menyangka jika dia akan mengatakan tentang perasaannya. Namun, tebakannya itu salah.
"Kamu sudah tahu kan jika Kasih ingin kamu pergi dari rumah kamu sendiri. Dan aku tidak bisa melakukannya, kadang aku bingung dengan ngidamnya yang tidak masuk akal," terang Krisna mengulang lagi ucapannya. Dia tampak gusar.
"Lalu kamu akan melakukannya?" tanya Nita lagi.
"Jawabanku tentu saja tidak mungkin. Aku akan berusaha mencari cara agar kalian tetap satu rumah," jawab Krisna. Nita merasakan sesak kembali, dia sudah berusaha membuatnya menyingkir dari hatinya. Tetapi mengapa semakin dicoba semakin sakit.
"Jika dia tetap kukuh, ingin aku pergi bagaimana. Kamu akan mengusir aku dari rumahku sendiri?"
Krisna tidak menjawab pertanyaan Nita. Dia memegang tangan Nita dengan erat seolah menguatkan. Dia tahu isyarat apa yang diberikan Krisna saat ini. Tentu saja dia akan melakukannya.
'Aku yakin kamu tidak hamil, kamu hanya berusaha mengusirku agar kamu berhasil membuat rumah tanggaku hancur. Tapi itu semua tidak akan terjadi Kasih, ingat itu,' batin Nita.
"Bersabarlah menunggu." Krisna masih mencoba memberi pengertian.
"Menunggu apa?"
"Sesuatu yang akan membuatmu bahagia. Percayalah padaku, suatu saat nanti jika saatnya tiba kamu akan menjadi wanita yang paling bahagia," ucap Krisna memandang Nita.
***
Doble up nih, jangan lupa vote dan hadiahnya, yang ikhlas ya, hehe
happy reading...
__ADS_1
***
Bersambung...