
BonChap Final. Bab75. Kepergian Bian.
***
Perang dingin antara saudara itu sudah berlangsung satu minggu. Tazkia sudah tidak ingin berbicara lagi dengan kakaknya. Meski Krisna sudah berusaha meminta maaf padanya. Ari pun ikut membujuk Kia karena lelaki itulah yang dekat dengan gadis itu. Jika Ari tidak menurut bonus kerjanya akan di potong.
Riska pun sudah berusha mencoba membujuk anak gadisnya, tetapi kali ini dia pun tidak mendengarkan saran dari mamanya. Kali ini Kia benar-benar marah, pasalnya ponsel Nita tidak dapat dihubungi setelah kejadian malam itu.
"Masih belum aktif juga, Ya Tuhan Mbak Tata, apa kamu membenciku sekarang. Benar-benar ini mulut, memang benar banget dijuluki si mulut pedas dan tidak punya hati seperti pohon pisang," gumam Kia sembari mondar-mandir tidak jelas di kamarnya.
Khawatir yang mendera membuatnya tidak mempunyai nafsu makan. Riska dan Karina sudah berusaha membujuknya untuk mengisi perutnya. Namun, gadis itu tidak kunjung mau keluar dari kamarnya.
"Nona Kia, bisakah anda keluar dulu. Isilah perut anda, jika anda tidak makan bagaimana meminta maaf pada Nona Nita," ucap Karina, dia terus membujuk Kia meski harus pulang pergi. Kini Karina sudah tidak tinggal lagi bersama keluarga Krisna.
Kia berpikir sejenak menelaah semua ucapan Karina. Jika dia tidak bisa menjaga tubuhnya agar sehat bagaimana dia bisa mengunjungi Nita untuk meminta maaf padanya. Akhirnya setelah dia memikirkan dengan matang dia pun keluar kamar dan memakan makanan dari Karina.
Tampak lahap ketika Kia memakannya, dia bahkan merasa jika makanan itu terasa familiar di mulutnya. Setelah selesai menyantap makanannya, dia bertanya pada Karina.
"Makanan ini terasa tidak asing ap--"
"Benar ini masakan Nona Nita, dia masih mengkhawatirkanmu. Dia tidak pernah sedikitpun membencimu, jangan merasa bersalah." Karina pun berpamitan untuk pulang. Satu menit setelah kepergiannya nomor baru meneleponnya.
Tazkia ragu-ragu untuk mengangkatnmya, dering pertama dia tidak mengangkatnya, tetapi karena terus berdering akhirnya dia mengangkatnya.
["Hallo Nona Kia,"] sapa Bian diseberang sana. Kia mengingat-ingat siapa pemilik suara ini.
["Mbak Nita memintamu untuk datang!"]
Baru saja Kia akan menjawab telepon itu dimatikan. Gadis itu menggerutu, menyimpan rasa kesal pada lelaki itu. Meski dia tidak mengatakan dia siapa. Namun, Kia tahu siapa dia.
__ADS_1
***
Bian dan Nita berhasil menggali informasi dari Kia, kejadian apa yang membuat Krisna marah dan mengusir Karina. Kencan buta yang konyol telah Tazkia lakukan membuat Bian merasa ingin memarahi gadis itu.
Namun, Nita berusaha menenangkannya agar dia tidak terlalu gegabah untuk memarahi Kia. Supaya mereka bisa menemukan alamat baru Karina. Setelah Kia pulang Bian tidak hentinya mengumpai gadis polos itu. Dia juga mengerti jika niatnya sungguh baik ingin membanu sang kakak.
Tetapi karena tingkahnya Bian tidak lagi bisa tenang, mengingat Karina sudah tidak lagi bisa terlindungi dibelakang Krisna. Dunia luar akan membuatnya kesulitan.
"Kamu tenang saja, soal Karina Mbak yang akan menjaganya. Lagipula Mbak juga akan membuka restorant kamu tidak usah khawatirkan dia," ucap Nita. Namun, Bian terus saja menampilkan wajah cemasnya.
"Bagaimana bisa aku tenang jika dia tidak aman Mbak," resah Bian dia akan pergi untuk beberapa tahun kedepan, tetapi keadaan Karina malah membuatnya tidak berdaya.
Nita mendekati Bian dan mengusap pundak lelaki itu dengan perlahan.
"Besok Mbak akan menemuinya," ucap Nita. Namun, tetap tidak membuatnya tenang. Karena sudah merasa kasihan akhirnya Nita menelepon Karina.
Akhirnya Nita bisa membawa Karina untuk keluar rumah bersamanya, dia tidak memberitahukan pada gadis itu jika Bian juga ikut bersama mereka. Namun, lelaki itu bersembunyi agar Karina tidak mengetahuinya.
"Mungkin kamu bingung karena aku mengajakamu keluar secara mendadak seperti ini." Deg, jantung Karina berpacu lebih cepat dari biasanya, karena dia yakin jika Nita mengetahui jika dia dan Bian sempat bertemu.
"Tapi Nona jangan salah paham, sungguh aku dan dia tidak mempunyai hubungan apa pun," timpal Karina dengan wajah bersalahnya. Dia juga terlihat menyesalinya karena Bian menemui dirinya.
"Aku tidak masalah," ucap Nita dengan santai, bahkan dia memberikan senyuman yang manis pada Karina membuat gadis itu salah tingkah. Dia salah mengartikan senyuman manis Nita.
"Aku yakin dia pasti tidak menyukaiku," Batin Karina.
Nita bisa melihat jika Karina begitu menyesali tentang pertemuan mereka. Bahkan Nita yakin kesalahpahaman ini sungguh akan susah di luruskan untuk kedepannya. Namun, dia tidak bisa berbuat banyak, Bian ingin mereka sama-sama berjuang untuk masa depan kelak.
"Saling mencintai tetapi saling menyakiti. Bahkan lelaki itu tidak bisa membedakan antara perasaan sebagai kakak dan orang yang di sayangnya," batin Nita. Wanita itu menggeleng pelan tidak mengerti akan tingkah keduanya.
__ADS_1
Setelah terlibat perbincangan sesaat keduanya kini saling terdiam. Tidak ada yang memulai percakapan kembali. Di rasa sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan Nita mengajak Karina untuk pulang.
Nita pun mengantarkan gadis itu, hingga akhirnya dia tahu di mana gadis itu tinggal. Setelah sampai di rumah kontrakan Karina, Nita pun ikut turun untuk mengantarkannya.
"Ti-tidak usah Nona," tolak Karina. Nita pun menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Karina.
"Panggil saja Mbak," ucap Nita, dia melanjutkan perjalanannya untuk menuju kontrakan Karina.
***
Kini Bian bisa pergi dengan tenang ketika dia mengetahui di mana Karina tinggal. Bahkan dia menitipkan gadis itu untuk Nita jaga, seperti apa yang telah dia lakukan terhadapnya.
"Kabari Mbak, jika ada masalah," pinta Nita, wajahnya kini sedikit cemas. Meski mereka cukup dekat bahkan jika Bian pergi keduanya tetap masih bisa saling berkomunikasi.
"Tenang saja Mbak. Lalu bagaimana dengan ujian yang telah kamu berikan pada Tuan Krisna, apakah kamu akan bersama lagi dengannya??" Tanya Bian. Namun, bukan jawaban yang Bian dengar, helaan napas yang berat. Seolah Nita enggan untuk bersama lagi dengan lelaki itu.
"Jika Mbak tidak bisa menerimanya kembali, bantulah aku agar Karina tidak--"
"Kamu masih peduli padanya?" Sela Nita dengan kekehen kecil setelah Bian mengalihkan pembicaraan mereka tentang Krisna.
"Tenang saja, Mbak hanya butuh waktu untuk berpikir, kamu juga tahu Krisna tidak menyukai pujaan hatimu itu, untuk apa bersikap tak acuh padanya jika kamu merasa dia sangat berarti untukmu," kata Nita memberikan komentar pedasnya.
"Aku hanya ingin dia kuat, dan berdiri dengan kakinya sendiri, tanpa bergantung padaku Mbak." Bian pun keluar dari mobil ketika mereka sudah tiba di bandara.
Nita tersenyum dan mengerti akan perkataan Bian. Mereka saling melambaikan tangan untuk saling melepaskan.
***
Jangan Unfav ya teman-teman, Kisah mereka masih berlanjut. Namun, di judul yang baru. Jika sudah selesai riset akan aku beritahukan pada kalian❤ Terima Kasih untuk dukungan kalian semua❤
__ADS_1
Add FB Asri Riri
Dan follow Ig ku juga asri_riri17