Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab46. Kehilangan.


__ADS_3

Bab46. Kehilangan.


***


Krisna terbangun ketika ponselnya berdering. Sudah pukul setengah 6, matanya membulat seketika. Dia langsung pontang-panting berlari untuk membersihkan diri. Setelah selesai mmembersihkan diri dia melihat kearah meja makan yang belum terhidang apapun.


Dia memamnggil nama Nita dan mencari keseluruhan ruangan. Dia pun membangunkan Ana yang masih tertidur pulas di kamarnya.


"Mbak kenapa kamu bisa kesiangan? Biasanya kamu tidak pernah seperti ini?" Tanya Krisna. Ana mengingat yang terjadi semalam. Namun, yang dia ingat terakhir kali hanya meminum jus yang telah diberikan Nita.


"Tidak tahu Tuan, saya hanya ingat saat saya diberi minuman sama Nona," ucap Ana berterus terang. Krisna tampak berfikir, menelaah apa yang dilakukan wanita pujaannya. Dan kini dia mengerti.


Semalam dia juga merasa heran tentang sikap Nita, tidak biasanya dia memberikan minuman, tanpa beradu mulut lebih dulu dia pun mengizinkan Krisna untuk masuk kedalam kamarnya. Ternyata firasat kemarin terbukti.


"Mbak, Nita pasti pergi. Ayok, Mbak cari di bawah. Saya yakin dia belum jauh," titah Krisna pada Ana. Mereka berdua pun langsung bergegas mencari Nita kesana-kemari.


Ponsel Krisna berdering di saat dia tengah mencari Nita. Krisna berusaha mengabaikan tetapi sang penelepon masih berusaha untuk menghubunginya. Karena mengganggu Krisna pun mengangkatnya. Meski malas mengangkatnya.


["Batalkan semua jadwal rapat saya. Saya sibuk sekarang Ari!"] Tegas Krisna.


["Anda tidak bisa membatalkan nya kali ini Tuan, dimana anda sekarang saya akan menjemput anda,"] tandas Ari, Krisna mendesah berat.


["Istriku hilang bagaimana bisa saya focus bekerja Ari!"] Suara Krisna terdengar meninggi.


["Anda tidak perlu khawatir, saya akan membantu anda untuk menemukan nona,"] kata Ari. Dia tetap berusaha membujuk majikannya.


["Batalkan rapat hari ini. Atau ...,]


["Baik, Tuan. Saya akan membatalkan nya,']

__ADS_1


Setelah selesai berbincang dengan Ari, Krisna mengingat rumah yang telah lama mereka tinggali. Krisna mengabari Riska apakah Nita pulang kerumah. Namun, jawaban Riska tidak. Membuat Krisna frustrasi. Dia sudah kehilangan jejak Nita. Harus kemana lagi dia mencari, sedangkan dia tidak tahu kemana saja wanita itu pergi.


Lelaki itu berjalan gontai tanpa gairah. Dunianya hancur karena belum juga menemukan Nita.


"Aku harus mencari kemana lagi, kemana kamu pergi Nita," lirih Krisna. Dia menghubungi Ari untuk melihat ke hotel apakah Nita sudah berada di sana.


Tidak lama pun Ari menghubungi Krisna lagi, dia mengatakan jika Nita tidak berada di hotel, bahkan di rumah pun tidak ada. Krisna semakin frustrasi. Dia benar-benar pergi. Namun, sebelum dia pergi dia teringat seseorang. Lelaki yang telah bersama Nita, ya Krisna berusaha mengingat nama lelaki itu.


Namun, ingatannya kini sungguh buntu. Dia sama sekali tidak bisa mengingat orang itu. Setelah lelah mencari Krisna memutuskan untuk pulang. Dia juga menyuruh Ari untuk mengantarkan Ana pulang, sedangkan dia sendiri pulang menaiki taksi.


***


Krisna berjalan lesu memasuki rumah, rumah yang telah mereka tinggali 2 tahun kebelakang. Dia sungguh menyesali karena telah membuat kepergian Nita mendadak seperti ini. Jika dia memberikan kepastian yang benar mungkin Nita tidak akan senekad itu pergi dari hidupnya.


Kasih tersenyum licik melihat wajah murung suaminya itu. Krisna tidak akan bisa menemukan Nita jika dia tidak memberitahunya. Dan bagaimana pun keadaannya dia tidak akan memberitahu dia. Dia ingin mendapatkan kasih sayang penuh dari mertua dan suaminya itu.


Riska mendengar Kasih yang memanggil Krisna langsung berlarian kedepan. Mereka juga ingin tahu bagaimana keadaan Nita.


Namun, ketika mereka di depan, mereka hanya mendapat kekecewaan. Orang yang mereka khawatirkan tidak berada di sana. Senyuman menyejukkan itu kini tidak terlihat lagi. Begitu sedihnya mereka mendengar Nita belum juga di temukan.


"Tata!" Teriak Riska, dia histeris. Dia akan berlari keluar untuk mencari menantunya itu.


Kemana pun kakinya melangkah dia akan mencari Nita. Dia tidak mau Nita mendapat kesulitan di luar sana. Cukup di saat bersama Krisna saja kesulitan.


Krisna yang melihat Mamanya bersedih begitu dalam pun langsung menggendong mama-nya untuk masuk. Ada rasa kasihan dari lubuk hati Kasih. Sesaat dia berfikir jika mungkin kehilangan terasa menyakitkan dia juga pernah merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan. Sama halnya dirinya telah mati, rasa simpati terhadap orang disekitarnya.


***


"Kemana kamu mengusirnya Krisna!" Teriak Riska kearah anak lelakinya itu. Krisna menunduk tidak mampu menjawabnya. Riska menghampiri anaknya lalu menampar pipi anaknya begitu kasar.

__ADS_1


"Ini untuk Nita, yang telah kamu lukai!" Seru Riska. "Dan ini untuk rasa kecewa padamu karena telah memperlakukan Nita begitu buruk. Kamu kira seorang wanita yang mencintai tidak akan pergi ketika dia selalu di sakiti setiap saat, tidak akan pergi di saat kamu memberikan perhatian lebih, tetapi kamu mnegabaiakan hatinya. Sekarang kamu puas telah membuat dia pergi. Puas kamu Krisna! Jawab!" Cerca Riska. Dia tidak bisa menahan amarahnya kepada Krisna.


Semua pasti karena ulah Krisna. Lelaki itu sudah membawa Nita pergi tanpa sepengetahuan dirinya.


"Mau mengelak atau berkata jujur Krisna!"


"Maafk--"


Sebuah tamparan kembali dilayangkan Riska. Ari mencoba menenangkan Riska.


"Sudah Nyonya, seburuk apapun Tuan Krisna, dia adalah anakmu. Anda tidak bisa melakukan hal seperti ini terus, semua tidak akan mengubah keadaan. Nona Nita pun tidak akan kembali jika anda membunuh Tuan sekali pun," ucap Ari, Riska langsung dipapah masuk kedalam kamarnya oleh Ana.


"Ari, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kasih berpura-pura cemas.


"Anda bisa tanyakan pada Tuan Krisna, dan sekarang rawatlah Nyonya Riska. Saya masih banyak pekerjaan." Kasih mencebik, lalu mendelik kearah Ari. Sebal sekali dia dengan ucapan lelaki itu. Apa susahnya untuk menjawab.


Kasih pun membawa Krisna masuk untuk kadalam kamarnya. Ketika dia melewati kamar Nita, dia berhenti berjalan. Dia juga meminta izin pada Kasih bahwa dia ingin tidur di kamar Nita.


Meski berat tetapi Kasih menganggukkan kepalanya. Membiarkan Krisna terpuruk karena kehilangan Nita. Biarlah dia mengenang kebersamaan mereka. Sejujurnya Kasih melihat tingkah suaminya yang begitu sedih. Tetapi dia juga ingin menjadi satu-satunya istri.


Biarlah Kasih merasakan kedinginan untuk beberapa saat. Tetapi dia dapat menjadi nyonya Krisna satu-satunya.


Krisna membuka kamar Nita perlahan. Dia masih mengingat jelas raut wajahnya yang terkejut karena dia menarik paksa wanita itu untuk pergi dari rumah. Kini hatinya begitu sakit ketika mengingatnya.


"Harusnya aku tidak membawamu pergi, harusnya aku tidak memaksamu yang membuatmu membenciku. Nita kembalilah, aku mohon. Aku tidak bisa jika tanpa kamu, pulanglah," gumam Krisna. Lelaki itu menangis merasakan sesak. Seperti inikah rasanya kehilangan, ketika dia tahu jika Nita sudah tidak lagi mencintainya.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2