
Hari ini Nita memilih untuk tetap berdiam diri di rumah. Dia belum ingin diganggu oleh Indra, atau bahkan Krisna. Hidupnya merasa tidak tenang kala kedua orang itu selalu mencoba untuk menemuinya.
Mengembuskan napas kasar, seolah beban itu tiada berkurangnya dalam pikiran. Haruskah dia pindah rumah dan menghindar dari dua orang itu.
Sepintas pikirannya memikirkan untuk liburan. Nita tersenyum sumringah ketika dia memikirkannya. Dia pun langsung bergegas untuk membereskan barang-barangnya.
Nita membawa koper, lalu dinaikkan keatas ranjangnya. Dia pun memilah-memilih pakaian untuk dibawanya besok berlibur.
"Ah, aku butuh piknik." Dia membanting tubuhnya di atas ranjang.
Namun, saat dia memejamkan mata. Dia teringat dengan Mbak Ana asisten rumah tangganya. Jika dia datang ke kampung halamannya sepertinya tidak akan ada yang bisa menemukan dirinya. Jika dia berlibur ke Bali atau tempat Wisata lainnya mungkin saja dua lelaki itu akan menyusulnya.
Nita akhirnya memilih untuk kerumah Ana. Sebelum dia berangkat dia memberi kabar terlebih dulu padanya. Dan meminta alamat Ana. Setelah mendapat alamatnya Nita bergegas pergi dan memilih memakai jasa angkutan umum yaitu bus.
Sebelum pergi dia memberikan selembar kertas untuk Karina, Nita memilih tidak memberitahukan kemana dia akan pergi. Agar hidupnya bisa tenang selama beberapa saat.
***
Setelah kurang lebih memakan waktu hampir tujuh jam, dalam perjalan bus, kini dia mulai menaiki taksi untuk menuju tempat Ana. Di sepanjang perjalan dia melihat keindahan alam yang masih asri. Hatinya tentram dan juga berseri-seri.
Mengapa tidak terpikirkan olehnya sejak dulu untuk datang mengunjungi kediaman Ana. Tidak terasa pun taksi telah membawa Nita pada tempat tujuannya. Di sana sudah ada Ana yang menunggu majikannya untuk datang.
"Selamat datang, Nona." Ana membawa koper yang tengah diturunkan oleh sang supir. Namun, Nita menolak mengingat sekarang bukan waktunya untuk Ana melayani dirinya.
"Sudah, Mbak. Tidak usah repot-repot biar saya saja." Nita menolak secara halus.
"Eh, ini Neng Nita teh?" Tanya mang Andi suami dari Ana. Nita tersenyum sembari menyalami suami dari Ana.
Mereka berbincang-bincang sebentar, sampai akhirnya mempersilahkan Nita untuk beristirahat di kamar yang sudah di sediakan.
Ana memberitahu jika kamar itu tidaklah senyaman kamarnya di kota. Tetapi Nita memakluminya dan dia pun merasa terharu karena Ana mau menampungnya untuk beberapa hari Nita tinggal di sana.
__ADS_1
Nita langsung menyimpan kopernya di depan dipan kayu sederhana yang berukuran sedang itu. Dia teringat saat dirinya kabur dari Krisna, menjauhinya karena rasa luka yang terasa semakin tidak mampu dia tahan.
Rasa lelah karena telah perjalan membuatnya mengantuk hingga tanpa sadar dia terlelap.
***
Lelaki dengan setelah casual itu keluar dari mobilnya saat telah sampai di tempat tujuan. Bukan Indra namanya jika dia tidak bisa menemukan wanita itu. Apapun tentangnya dia akan mengetahui. Sebab dia meminta orang untuk memata-matai Nita, agar dia tidak pernah kehilangan wanita itu.
Dari tempatnya memarkir mobil dia berjalan cukup jauh. Sebenarnya dia sudah sampai di rumah Ana. Tetapi di sana tidak bisa memarkir mobil, hingga akhirnya dia harus memutar mobilnya kembali agar bisa di parkir dipinggir jalan.
Andi suami dari Ana tampak heran dengan kedatangan dua tamu yang menurutnya sungguh istimewa itu. Dia mengira jika majikan Ana tengah bertengkar dengan lelaki yang tengah dia jemput. Dia menggelengkan kepalanya mengingat masa mudanya dulu.
"Kenapa Pak?" tanya Indra saat melihat Andi menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Lelaki itu mengangkat tangannya. Namun, dia urungkan mengingat kastanya yang beda. Indra langsung menangkapnya dan menepukkan tangan Andi kebahunya.
Mereka tertawa bersama mengingat hal yang tengah barusan terjadi.
"Kalian tengah bertengkar? Kalian masih pacaran atau sudah menikah?" Tanya Andi.
"Tapi saya mempunyai permintaan, Pak. Kalau bisa jangan beritahu Nona Nita kalau saya datang, saya ingin memberikannya kejutan," imbuh Indra dengan hati-hati. Andi mengangguk dan memberitahukan jika dia akan melapor ke Pak RT, karena mereka akan menginap.
Indra akan tidur di rumah saudaranya. Sedangkan Nita akan tinggal di rumah Pak Andi.
***
Nita mengerjapkan matanya saat dirinya bangun. Dia mengedarkan pandangan lalu menatap kearah pakaian yang masih tetap sama saat dirinya datang.
Nita beringsut mundur untuk menyandarkan punggungnya di punggung ranjang. Dia menghela napas dengan lega. Saat beberapa hari kedepan dia tidak akan lagi diganggu oleh dua kurcaci yang selalu mengganggunya.
Dia perlahan menjuntaikan kakinya untuk turun. Dia mencari-cari sandal rumahnya, kebiasaan dirinya saat di kota. Namun, dia terkikik pelan saat dirinya sadar jika dia tengah berada di rumah Ana.
"Aku lupa," gumamnya, sembari bergeliat, lalu melangkahkan kakinya untuk keluar kamar.
__ADS_1
"Nona di--" Andi langsung membekap mulut Ana dengan tangannya. Dan berbisik agar Ana tidak mengatakan apapun pada Nita.
Nita mengerutkan keningnya ketika dua orang itu berbuat demikian. "Ada apa?" Tanya Nita kebingungan.
Lalu dia mulai mendudukkan bokongnya di lantai yang sudah beralaskan tikar.
Setelah duduk tangannya terulur untuk membawa nasi. Bertepatan dengan kedatangan seseorang yang amat mengusik pikiran Nita. Dia berulang kali mengerjapkan matanya dan berdoa.
"Semoga bukan Indra, atau Krisna Ya Tuhan," batin Nita.
"Kemanapun kamu pergi, aku akan ada di sekitarmu." Suara bariton itu membuatnya langsung mendongak dan tersenyum kecut.
"Kau!" Nita lantas berdiri, dia menyeret lelaki itu untuk keluar dari rumah Ana.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Sudah g*la, atau otakmu sudah tidak war*s, mau menikah masih mengganggu wanita lain. Jangan membuat citra wanita janda rusak, karena di kira aku janda gatal," kelakar Nita dengan tidak suka.
Indra mengangkat tangannya untuk menggapai pipi Nita, tetapi Nita menepisnya. Dia sudah benar-benar ingin lelaki di hadapannya sadar jika perilakunya akan membuat Nita merugi.
"Kamu sadar tidak, apa yang kamu lakukan ini salah!"
Indra masih menatap lekat-lakat wajah Nita. Dia hanya bergumam dalam hatinya jika Nita semakin cantik dan menggemaskan.
"Lelaki kurang aj*r ya, kamu. Kamu tahu aku dan Kia dekat? Lantas mengapa melakukan hal seperti ini, bagaimana jika Krisna melihat kita! Aku akan di kira wanita murahan yang menggoda calon suami adiknya," resah Nita, dia sungguh khawatir, jika Krisna dan Kia mengetahui kelakuan Indra yang sungguh membuatnya pusing.
Nita memandang Indra dengan bertolak pinggang. Bisa-bisanya dia malah tersenyum simpul melihatnya dengan wajah tanpa dosanya.
Bughh..
Satu tendangan di betis lelaki itu mendarat dengan kuat. Nita tidak peduli saat Indra mengaduh kesakitan. Itu semua salahnya karena telah mengikuti dirinya sejauh ini
"Makan itu, lelaki mata keranjang!" Nita tersenyum menyeringai merasa bangga karena telah membuat lelaki itu kesakitan.
__ADS_1
***