
Bab26. Seharusnya Mendengar Dari Dua Belah Pihak!
***
Pukul satu siang Nita baru membuka mata. Dia heran mengapa dia berada di dalam kamarnya. Sedangkan dia semalam pergi dengan Bian. Lalu kemana lelaki itu sekarang? Apakah dia menginap di sini. Mengingat Krisna jarang pulang, dan memilih menemani istri keduanya itu. Nita mencoba mengingat-ingat, tapi dia hanya ingat saat dia meminta Bian untuk menikahinya. Dan mengatakan jika dia masih per@wan.
"Ahh, aku malu padanya saat ini, kenapa harus kata itu yang terlontar!" Gerutu Nita mengingat ucapannya pada Bian.
Dia mencari ponselnya untuk mengabari Bian. Nita juga ingin mengetahui setelah itu apa yang terjadi. Meski malu yang kini dirasakan dia tetap mengahalau rasa itu, dan mungkin Bian akan mengerti dengan keadaannya semalam.
"Ponselku dimana lagi," gerutu Nita. Ingin bangun. Namun, rasanya pusing.
Nita memegangi kepalanya yang merasa berdenyut. M@buk membuatnya lupa, bagaimana kejadian semalam. Semoga saja lelaki itu bisa dipercaya. Dia beringsut menyandarkan punggungnya ke punggung ranjang. Dengan gerakan lambat dia akan membawa gelas yang berada di nakas. Belum juga sampai kebibirnya untuk dia tengguk gelas itu terjatuh kelantai. Mengakibatkan suara yang amat bising.
Mbak Ana yang mendengar suara itu langsung tergopoh-gopoh takut terjadi sesuatu dengan majikannya. Ketika dia memasuki kamar Nita, dia baik-baik saja. Ana pun mengelus dada karena majikannya tidak menyakiti diri sendiri.
Mbak Ana membersihkan pecahan kaca itu. Setelah selesai dia pun menatap Nita dengan kasihan.
"Jangan seperti itu mbak, saya tidak terlalu menyedihakan juga." Nita tertawa dengan ucapannya. Ya, ini yang di namakan kata munafik, lain di hati lain di bibir.
"Saya berharap seperti itu," ucap Ana. Dengan mendesah berat.
"Nona Kasih tadi kemari membawa Tuan Krisna. Semalaman dia terjaga hanya untuk menunggu Nona. Dia takut Nona Kenapa-kenapa,"
"Ah sudah mbak, saya tidak perduli lagi dengan perilakunya. Mulai saat ini saya tidak mau Mbak mengatakan apa yang dia lakukan di saat saya tidak mengetahuinya," terang Nita. Mbak Ana sedikit tersenyum lalu refleks memeluk Nita.
__ADS_1
Merasa dia salah Ana meminta maaf karena kelancangannya telah memeluk Nita. Wanita itu sama sekali tidak keberatan jika pun Ana memeluknya lagi. Nita merentangkan tangannya agar Ana kembali dalam pelukannya.
Nita juga menegaskan bahwa dia menganggap Ana sebagai saudara perempuannya. Mengingat dia sudah tidak mempunyai sanak saudara. Yang dia punya hanya Krisna. Meski lelaki itu selalu melukai hatinya.
"Aku sudah memutuskan, Mbak. Di waktu yang tepat aku akan pergi. Mungkin karena aku selalu diabaikan. Membuat hati ini merasa mati rasa. Ketika dia memberikan perhatian lebih aku sama sekali tidak bereaksi apa-apa Mbak," terang Nita. Ana memeluknya semakin erat. Bahkan bahu wanita itu bergetar merasa bahagia.
"Mbak senang mendengarnya semoga jika saatnya tiba, semua berjalan lancar. Dan anda bisa menemukan kebahagiaan anda kelak." Doa yang dipanjatkan Ana untuk Nita.
Nita menepuk-nepuk bahu Ana dengan lembut. Dia tersenyum simpul dengan doa yang telah diucapkan Ana. Hatinya tersentuh, dia merasa benar untuk keputusannya.
"Aku kapan bisa membicarakan ini dengannya ya, Mbak? Apa jika Kasih mengandung. Agar aku mempunyai alasan untuk meminta cerai padanya?" tanya Nita meminta saran.
"Itu waktu yang tepat Nona. Tapi ... Apakah anda bisa bertahan selama itu. Sedangkan prediksi kehamilan tidak ada yang tahu, hanya Yang Maha Kuasa yang mengetahuinya Nona," jawab Ana. Nita langsung berpikir mempertimbangkan. Ada benarnya juga.
"Tapi jika aku mengatakan sekarang, dengan alasan apa? Karena poligami ini? Aku yang mengizinkannya Mbak, dia tidak akan menerima alasan itu. Semoga saja maduku itu cepat mengandung," tandas Nita. Di aamiinkan oleh Ana.
Nita turun dari ranjang, untuk membersihkan tubuhnya. Dia merasa tidak nyaman mengingat ini sudah siang hari. Baru saja pakaian itu terlepas dari tubuhnya ketukan pintu membuatnya harus mengurungkan dulu niat untuk membersihkan diri.
Sekretaris Ari yang mengetuk pintu. Dia juga memberikan pesan pada Nita jika Tuan Krisna ingin makan siang bersamanya. Niita mengangguk malas, dan mengiyakan undangan makan siang itu.
***
Perjalanan begitu menyita waktu. Karena kemacetan. Sesekali Nita menggerutu mengingat lamanya perjalanan yang mereka tempuh. Lelaki itu masih focus menatap kejalan. Baru saja dia bernapas lega suara lelaki itu menggema.
"Nona tahu ketika anda m@buk berat kemarin. Apa yang dilakukan suami tericnta anda!" Suara itu terdengar serius di pendengaran Nita.
__ADS_1
"Saya tidak perduli, bukankah kewajiban suami untuk menjaga istrinya? bukan hanya membuatnya terluka," ketus Nita.
"Tetapi anda salah, pergi bersama lelaki lain. Bukan dengan suami anda. Jika mendiang orangtua Nona masih hidup, saya yakin beliau akan tidak suka dengan perilaku Nona semalam," sindiran halus dari Ari.
Nita mencebik dan memilih bungkam. Mencoba memikirkan sususan kata untuk menjawabnya. Akan percuma menjelaskan, dia tidak akan mengerti bagaimana rasanya menjadi istri. Namun, tidak dicintai, dianggap saja tidak.
"Anggap saja sebagai bantuan terhadap teman. Karena dia memilih berteman dalam pernikahan. Konyol bukan jika dalam pernikahan yang sah, tetapi malah memilih berteman. Lebih baik dulu tidak mengucapkan janji suci jika dia tidak bisa setia," terang Nita.
"Apalagi kemarin dia tidak menanyakan apapun padaku. Dia tidak mau mendengar penjelasanku. Dia menuduhku berselingkuh hanya karena sebuah photo," decak Nita.
"Saya rasa itu wajar. Seorang suami tidak akan rela jika istrinya didekap lelaki lain yang sama sekali tidak ada hubungan darah diantara kalian. Kalian mengatakan kalian hanya sekadar kakak, beradik. Tapi apakah anda yakin hanya sebatas itu? Saya hanya menyampaikam isi hati Tuan Krisna. Dia ingin anda mempunyai batasan terhadap lelaki lain," cerca Ari. Membuat Nita tersadar. Kurangnya kedekatan mereka yang membuat mereka tidak mempunyai rasa percaya satu sama lain.
"Tapi itu tidak disengaja. Jika dia tidak mendekap saya, saya akan terjatuh. Apakah saya harus memilih dia melepaskan saya dan saya merasakan sakit di tubuh saya?" timpal Nita membela diri.
"Lalu kenapa anda tidak mengatakannya. Bukankah saat kejadian anda tidak melakukan pembelaan!" Ari mengatakan apa yang dia tahu.
"Saya malas untuk berbicara, dia sudah menuduh saya yang tidak-tidak!" jawab Nita.
"Jadi anda masih kukuh jika Tuan Krisna bersalah? Coba nanti anda membujuknya dan berikan penjelasan," titah Ari memberi saran pada Nita.
"Semoga anda bisa ada di hatinya jika anda merayu Tuan seperti Nona Kasih," ledek Ari.
"Dia kan yang mengirimi photo itu pada Krisna. Aku tahu dia yang menghasut Krisna. Makanya saya tidak mau menjelaskan. Dia hanya mendengar dari sebelah pihak saja!" ucap Nita yang merasa hanya akan sia-sia pembelaannya.
***
__ADS_1
Bersambung...