Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab91. Merengek Seperti Anak Kucing.


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, Indra dan Nita semakin dekat. Setelah mereka saling berbagi kisah sedih masing-masing. Nita selalu mencoba mendekatkan lagi Indra dan Kia. Bagi Nita diantara mereka hanyalah sebuah kesalahpahaman. Bukan seperti dirinya, fatal dan tidak mungkin bisa diperbaiki.


Bukan tentang hubungannya, tetapi luka hati yang telah Krisna berikan padanya. Selama satu bulan pun Krisna terus berusaha mengancam Indra untuk menjauhi Nita. Dia tidak akan memaafkan masalah mereka dahulu yang membuat Kia beberapa Minggu bersedih.


Seperti saat ini Krisna tengah berada di toko Nita, dia terus memohon agar wanita itu menjauhkan Kia dari kehidupannya. Tetapi kenyataannya dia muak melihat lelaki itu, karena telah merebut dua wanita berharga dalam hidupnya.


"Ayolah Ta, jangan kamu dukung terus lelaki itu. Bukankah kamu tahu sebelum kita menikah bagaimana Kia terluka saat pacarnya pergi tanpa berpamitan," mohon Krisna terus mengganggu Nita, tetapi Nita seolah tuli tidak memedulikan lelaki itu yang terus merengek padanya.


Nita masih sibuk dengan daftar stok di tokonya. Ketika ada akan memeriksa keluar, Krisna-pun ikut keluar dan mengekor di belakangnya. Mulutnya tidak berhenti berbicara mengulang ucapannya yang semula.


Nita berjalan dengan pelan, melihat stok di almari. Di sana sudah ada tulisan tentang motif barang yang di simpan.


Rindi-pun masuk tidak mengetahui jika Nita di sana bersama Krisna. Dia terus mencari-cari barang yang belum ditemukannya.


"Ayolah, Ta. Sampai kapan kamu hanya mendiamkan aku. Menganggap aku tidak ada padahal terus mengoceh di sampingmu. Apakah kamu tidak merasa terganggu konsentrasi kerjamu. Sebelum kamu mengatakan iya, aku akan tetap seperti ini!" Seru Krisna. Rindi mendengarnya, setelah dia menemukan apa yang dia cari. Dia pun keluar dari gudang dan langsung berlari kearah depan.


"Hey, ada hal yang tidak biasa," ucapnya bisik-bisik. Kepalanya sesekali menoleh kearah belakang takut jika yang digosipkan tiba-tiba datang.


"Apaan sih, Di, mukamu itu serius amat loh," jawab Risma, si ratu kepo yang sudah penasaran akan berita yang diberikan Rindi.


"Itu di gudang." Telunjuknya mengarah kearah gudang. Membuat Risma semakin manautkan alisnya penasaran.


"Ada mbak Nita, dan juga tuan Krisna di dalam. Kok aku lihatnya kasihan plus lucu nggak, sih. Tuan Krisna yang terkenal dingin itu merengek pada Mbak Nita, tapi diabaikan. Mbak Nita cuek aja menganggap lelaki itu hanya angin lalu," terang Rindi memberitahukan pada Risma, Rindi yang jarang bergosip pun terserap virus dari Risma. Imam datang, dia sudah tahu jika dua wanita itu sedang bergosip.

__ADS_1


"Kerja woi, ngurusin hidup bos Mulu. Nanti di pecat!" Ancam Imam, sanggup membuat dua gadis itu memukul bahu Imam agar dia pergi dan tidak mengganggu mereka.


"Mbak Nita keren ya, baru keluar sudah kelilingi cogan. Kemarin ada Tuan Indra yang datang, eh sekarang Tuan Krisna. Aura janda beda ya, Di." Risma menyikut Rindi. Namun, dia tidak tahu jika itu adalah Karina. Merasa ucapannya tidak ditanggapi dia pun berbalik dan mendapati wajah Karina yang tengah menantangnya.


"Bukannya kerja malah bergosip!" Tunjuk Karina kearah Risma. Gadis itu tersenyum malu dan langsung berlari meninggalkan Karina.


"Huh." Karina mengembuskan napas kasar, "sebenarnya ada kesepakatan apa antara Mbak Nita dan Tuan Indra, aku takut jika lelaki itu berbuat buruk pada mbak Nita. Apalagi setelah dia menculikku kemarin," gumam Karina mengingat insiden malam itu.


***


Nita sudah mengecek barang, dia pun berjalan untuk masuk kedalam ruangannya lagi. Krisna masih mengekor seperti anak kucing yang tidak ingin ditiggalkan oleh induknya. Nita sebenarnya sudah merasa bosan, dan risih, rengekan dan penolakan Krisna membuat sakit telinganya.


Tetapi dia enggan berbicara dengan Krisna, dia ingin membuat Krisna jera dan meninggalkannya. Dia tidak ingin memberi harapan pada Krisna. Keputusan ini yang terbaik. Ketika Nita bediri akan kekamar mandi, Krisna refleks ikut berdiri. Namun, ketika Nita telah membuka pintu dia langsung menutupnya, membuat kening Krisna membentur pintu.


"Aku tidak melakukan hal konyol seperti itu, Ta. Aku refleks saja karena kamu bediri. Hanya takut kamu pergi dari pandanganku," protes Krisna yang merasa ucapan Nita tidak benar. Lelaki itu menunggu Nita hingga keluar dari kamar mandi.


Setelah keluar dia langsung memprotes, "tarik kata-katamu itu, Ta. aku tidak cab*l seperti yang kamu katakan tadi," oceh Krisna, demi wanita satu ini dia rela membanting harga dirinya. Demi Nita dia melewatkan kencan buta itu, hingga membuat Riska turun tangan dan mengalami kecelakaan.


Tetapi Krisna tetap berusaha mengejar janda-nya. Selagi Nita belum mempunyai pasangan dia tidak akan pernah menyerah.


Nita berbalik, menunjuk Krisna dengan telunjuknya. "Hentikan, Kris! kamu mengganggu pekerjaanku, apakah kamu tidak takut perusahaanmu bangkrut hanya untuk merengek padaku," bentak Nita, sudah jengkel.


Krisna tersenyum sumringah, ocehannya yang telah lama tidak ia dengar, kini terucap dari mulut wanita itu. Nita mengernyit melihat Krisna yang malah tersenyum ketika dimarahi.

__ADS_1


"Sudah hilang *kal dia!" seru Nita menggelengkan kepalanya.


"Yang terpenting aku bisa bersama kamu," jawabnya dengan masih membuntuti Nita kemanapun dia pergi.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, para pegawai sudah pulang lebih dulu. Hanya tertinggal Nita dan Krisna. Krisna langsung mempersilakan Nita untuk memasuki mobilnya, sedangkan Nita menolaknya mentah-mentah.


"Terima kasih, Kris, aku akan naik taksi saja. Pulang duluan saja," titah Nita, tetapi lelaki itu tidak menghiraukan ucapan Nita.


Dia tetap setia menunggu taksi yang akan menjemput Nita, mengikuti wanita itu sampai rumah agar dia selamat.


Mobil berwarna hitam, tidak seperti taksi pun datang, Krisna mengamati seolah ingat siapa milik mobil itu. Dia terus mengamati orang itu hingga keluar. Dan benar saja Indra lelaki yang dibencinya.


Krisna langsung pasang badan, menghalangi Nita untuk tidak masuk kedalam mobil lelaki itu. "Hey, Kris. Tolong berhenti! aku sudah lelah, berhenti bermain!" decak Nita yang merasa tingkah Krisna begitu keterlaluan, padahal dia sudah mengorbankan waktunya mendengarkan ocehan tidak penting dari mulut lelaki itu.


"Ok, kamu pulang aku tidak melarang, hanya saja aku tidak mengizinkan kamu pulang bersamanya!" seru Krisna menunjuk kearah Indra dengan tatapan tajam. Nita menghela napas kasar, tubuhnya merasa lelah di tambah dengan sikap Krisna yang kekanak-kanakkan.


"Mau kamu apa?" Nita bertanya dengan menyeret Krisna agar lelaki itu menjauh dari Indra, dia takut jika Krisna memukul Indra seperti pada Bian dulu.


"Kamu ikuti saja dari belekang, ok, jangan membuat aku mengatakan jika kamu tidak boleh datang lagi ke tokoku. Atau aku akan menyuruh pegawaiku membuat larangan agar kamu tidak datang lagi ketokoku." Kesabaran Nita mulai habis.


"Aku saja yang pulang bersama tuan Indra, Mbak."


***

__ADS_1


__ADS_2