
Bab67 Pindah Rumah.
***
Pagi ini sudah terdengar seperti di pasar saja ruang makan. Sesekali gelak tawa terdengar, Krisna bisa mengingat satu persatu orang yang berbicara. Namun, hanya ada satu suara yang tidak di kenalnya. Siapa dia?
Ketika dia sudah berada di sana, dia melihat lelaki yang sudah tidak asing baginya. Tanpa aba-aba Krisna langsung memberikan lelaki itu bogeman seperti kemarin.
Semua orang yang berada di sana tampak terkejut. Teriakan dari para wanita sungguh memekakkan hingga si jago pun menangis karena terkejut.
"Kris, Kris, hentikan! Kataku!" Teriak Nita berusaha mencoba memisahkan keduanya. Namun, bukannya berhenti Krisna semakin membabi buta. Lelaki itu masih saja memukul Bian. Sedangkan Bian tidak berani membalasnya. Dia hanya berusaha menghindar sebisanya. Ari pun yang mencoba menenangkan tuannya tidak bisa dilakukannya.
Tazkia melihat kakaknya yang mudah emosi hanya mengembuskan napas berat. Dia berusaha membawa obat dan mengobati Bian.
"Mas Bian, ini ngapian sih kesini! Buat suasana semakin runyam saja, kayak TV jadul!" Celetuknya dengan wajah malas.
Bian tidak menjawab, dia hanya sesekali mendesah ketika Tazkia menekan pipi Bian. Ari yang melihat adegan mesra itu langsung membawa obat itu. Dia yang akan menggantikan Tazkia mengobati Bian.
"Hoy, gak sopan mas Ari! Lah kamu mau mengobatinya? Sebegitu perhatiannya kamu padanya, jangan-jangan kamu suka dia." Tunjuk Kia kearah Bian. Gadis itu bergidik akan pergi. Tetapi Ari mencekal tangan gadis itu, hingga akhirnya pun dia duduk disamping Ari.
"Saya sudah peringatkan bukan!" Tegas Ari. Bian tampak menatap dengan serius.
"Mas Ari," rengek Kia, gadis itu mendekat kearah wajah Ari, lalu membawa sesuatu yang berada di rambutnya.
"Ini apaan Mas?" Gadis itu membolak-balik benda kecil yang sempat menyangkut di rambut Ari.
Melihat adegan romantis di depannya membuat Bian, merasa akan diabaikan. Dia berusaha mencoba pergi. Namun, Tazkia kembali berdiri, dia memegangi tangan Bian agar lelaki itu tidak pergi. Ari yang melihat tangan Kia bertautan pun langsung berdiri dan melepaskan tautan tangan mereka.
__ADS_1
Tazkia mengerutkan keningnya, "hey Mas Ari, apa yang salah, kamu ini!" Tazkia menendang kaki Ari.
"Nona Kia, apakah anda tidak mengerti jika dia sedang cemburu? Mengapa begitu polos sekali," ucap Bian membuat Tazkia tersenyum malu. Dia menatap intens kearah Ari.
"Mas Ari punya hati? Bisa suka sama Kia?" Wanita itu malah tergelak mendengar ucapan Bian yang mengatakan bahwa lelaki itu tengah cemburu padanya.
Bian pun memilih pergi meninggalkan pasangan itu. Karina gadis itu mengikuti kemana arah Bian pergi. Dia mencekal tangan Bian hingga lelaki itu menghentikan langkahnya.
"Berhentilah untuk membantu Nona Nita Yan, itu semua hanya akan membuat kamu terluka seperti ini," ucap Karina. Namun, Bian tersenyum sinis dan menghempaskan tangan Karina dengan kasar.
"Berhentilah mencampuri urusanku Karin!"
***
Krisna dan Nita sedang berada di ruang kerja. Lelaki itu sedang merangkai kata untuk memohon pada wanita di hadapannya. Sebegitu keraskah hatinya sampai dia memberikan gugatan cerai. Kini map itu sudah Krisna terima. Dengan hati yang sudah bergejolak.
Jika dia bisa memilih harus bersujud dan mencium kakinya dia akan melakukan hal itu. Demi cintanya pada Nita.
"Aku sudah berusaha, aku sudah mencoba. Tetapi hatiku ini tidak bisa menerima kamu lagi, meski hatiku sudah memaafkanmu tapi cinta itu tidak akan utuh lagi. Jika kamu mencintaiku, kamu bisa menandatanganinya. Agar semua cepat selesai. Dan pergilah dari rumah ini. Kita sudah tidak bisa bersama lagi," ucap Nita dengan mantap. Membuat lelaki itu seketika melepaskan tangannya dari tangan Nita.
Haruskah kisah cintanya seperti ini? Krisna menyadari jika Kesalahannya begitu fatal hingga membuat Nita tidak bisa memaafkannya. Kini dia menyadari begitu sakitnya ketika orang yang kita cintai bercanda ria dengan lelaki lain. Apalagi jika harus membagi cinta dan suami.
Nita pergi dari ruangan kerja Krisna dengan wajah tegasnya. Dia sudah memikirkan ini, selama dia bersama Krisna sudah tidak ada lagi getaran di hatinya.
Ari dan Tazkia menatap nanar pintu ruangan kerja Krisna. Mereka setia menunggu di sana supaya bisa mengehentikan aksi Krisna yang pasti akan membanting segala barang yang berada di sana.
Tetapi hampir satu jam menunggu mereka tidak juga mendapat suara itu. Hingga pukul 8 Krisna keluar dari ruangan dengan wajah dinginnya.
__ADS_1
"Ayok Ari, kita sudah menunda rapat." Krisna mengajak sekretarisnya untuk bekerja.
"Mas Krisna, sebaiknya kamu libur dulu untuk hari ini. Suasana hatimu sedang dalam keadaan buruk, apakah bisa bekerja," saran Kia. Namun lelaki itu menatap hangat pada adik tersayangnya meski sesekali mulutnya sungguh membuat hatinya retak.
Krisna berjalan mendekati Tazkia, dia juga memeluknya dan menciumi puncak kepala adiknya. Untuk beberapa tahun lamanya dia tidak melakukan hal ini. Kia bisa merasakan betapa sakitnya hati kakaknya itu.
Salahkah dia malah mendukung kakak iparnya, tetapi dia membuat kakaknya sendiri terluka?
"Mas Kris." Kia berusaha melepaskan pelukan Krisna. Namun, lelaki itu semakin kuat memeluknya.
"Tidak apa-apa Kia, Mas tahu apa yang akan kamu katakan. Kamu tidak salah memihak padanya. Karena Mas terlalu menyakitinya. Tetapi tolong bilang padanya, Mas ingin bisa tetap bertemu dengannya meski kami sudah resmi bercerai. Dan biarkan anak itu tetap tinggal di sini, kalian juga tetap di sini. Mas ingin sendiri dulu, merenungi semua kesalahan," terang Krisna panjang lebar.
"Tuan jika anda tidak bisa mengadakan rapat, biar saya saja yang menghandle. Anda bisa istirahat," saran Ari. Namun, Krisna menolak dia tetap ingin pergi.
"Kia, bilang sama Mbak Ana tolong bereskan barang-barang Mas, nanti Ari yang akan membawanya," pinta Krisna. Kia menurut dan menatap sedih kearah Krisna.
Gadis itu memegangi dadanya merasakan apa yang tengah Krisna rasakan.
"Ya Tuhan, dia begitu lemah. Hatinya melow seperti Barbie. Rasanya ingin aku membelikan dia boneka Barbie," racau Kia sembari menggelengkan kepalanya sendiri.
"Mama! Mama!" Gadis itu berjalan mencari Mamanya.
"Ma," panggilnya ketika dia sudah menemukan sang mama. Wanita itu menatap pada anaknya dengan wajah garang. Sudah dipastikan omongannya tidak akan membuat orang suka.
"Sepertinya Mas Krisna harus kita belikan boneka. Aku kasihan sama dia Ma,"
"Kia apa hubungannya dengan Mas-mu yang kasihan dan boneka. Dia itu lelaki Kia. Jangan bergosip yang tidak-tidak. Kamu ini sama sekali tidak mempunyai simpati sama sekalikah dengan kakakmu itu dasar pohon pisang!"
__ADS_1
***
Bersambung ...