Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Season2. Rumah Impian. Bab76. Mengejar Cinta Nita.


__ADS_3

Ini kelanjutan dari Pernikahan Kedua Suamiku, judulnya rumah impian. Namun, tetap di buku ini. Selamat membaca teman-teman😊


Season2. Bab76. RI. Mengejar Cinta Nita.



Sudah satu tahun berlalu semua masih seperti yang dulu, tidak ada perkembangan apapun di antara Nita dan Krisna. Membuat Riska khawatir jika anaknya akan tetap menduda tanpa pendamping lagi.


Apalagi cucunya sudah beranjak besar sekarang, usia anak itu sudah satu tahun setengah. Sudah mulai aktif dan mencari mama-nya, hati Riska teriris ketika dia tidak bisa memberitahukan apapun pada cucunya itu. Mengingat cucu-nya masih kecil tidak akan mengerti jikapun dia menjelaskannya.


Riska sudah berusaha membicarakan masalah ini. Namun, jawaban lelaki itu tetap akan menunggu pujaan hatinya, mantan istri yang masih sangat dia cintai.


"Kris!" panggil Riska ketika anaknya sudah pulang bekerja, seperti biasanya dia akan menyibukkan dirinya dengan bekerja.


Krisna melonggarkan dasi yang meililit lehernya, ia menghela napas kasar. Dia ingin berusaha mengabaikan panggilan dari sang mama, akan tetapi dia tidak bisa melakukannya.


Perlahan lelaki itu memutar tubuhnya untuk menatap sang mama, yang masih memandanginya dengan wajah yang kian menyedihkan. Sakit perasaan Riska sekarang yang melihat penyesalan yang bersarang dalam hati anaknya.


"Ma, aku baik-baik saja," jawab Krisna, tidak ingin menampakkan wajah sedihnya Krisna mulai berjalan meninggalkan mama-nya, yang masih berdiri dibelakang Krisna.


Namun, Riska sudah tidak ingin mendengar penolakan dan pengabaian dari anaknya.


"Bersiaplah untuk beremu dengan gadis yang mama pilih, mama sudah tidak bisa menahan lagi," ucap Riska, kini wanita itu yang sudah tidak ingin mendengarkan sanggahan anaknya.


Langkah Krisna terhenti, hatinya berdebar tidak karuan ketika mendengar ucapan sang mama. Dia akhirnya berbalik lagi untuk menolak. Namun, di sana sudah tidak ada wanita itu.

__ADS_1


Dia berjalan kekamarnya untuk mencari Riska, tentunya untuk membatalkan kencan buta yang sama sekali tidak dia inginkan. Setelah sampai di depan pintu kamar Riska, dia mengetuk pintu itu dan memanggil mama-nya.


"Ma, tolong suruh dia pulang saja. Aku tidak ingin datang lagi, aku sudah berumur ma. Harusnya kamu mengerti apalagi aku sudah mempunyai anak. Tidak akan ada yang mau padaku," tolak Krisna pada Riska.


Di dalam kamar sana Riska mencebik, wanita baya itu hanya menggerutu tidak jelas sembari mondar-mandir mendengar alasan anaknya yang tidak masuk akal.


"Siapa yang bilang jika wanita di luar sana tidak ingin padamu, Kris. Tunjukkan pada mama saat ini juga, baru mama akan percaya!" seru Riska. Krisna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, jika dia sudah berniat untuk membuka lembaran baru, dia sudah lama membina rumah tangga kembali.


"Rasain tidak bisa berkutik lagi 'kan, makanya kenapa susah sekali meyakinkan kamu jika hatimu itu bukan terlalu mencintai Nita, tetapi rasa bersalah yang kamu rasakan," gumam Riska.


Namun, Krisna tidak ingin mengiyakan perintah Riska, dia terus mengetuk pintu kamar mama-nya. Meski Ari beberapa kali menghubunginya. Lelaki itu sudah tahu, jika Ari menjadi pendukung pertama mama-nya.


"Geli sekali, di saat yang saya harapkan Nita yang menghubungi berulang kali. Ini malah sekretaris yang telah berkhianat. Bukannya membantu bos-mu, dia malah berpihak pada mama-ku," gerutu Krisna, tak ayal dia tetap mengangkatnya.


["Kenapa?"] tanya Krisna dengan ketus pada Ari. Mereka memang dekat baru-baru ini setelah dia membantu Riska, dan Tazkia.


Krisna sudah ingin sekali memarahi Ari. Namun, sekarang dia bisa apa selain datang. Krisna berbalik akan menuju kamarnya untuk mengganti pakaian. Namun, tanpa dia sadari Riska sudah lebih dulu keluar dan mencarikan pakian yang cocok untuk anaknya.


Lelaki itu melongo tidak percaya dengan tingkah mama-nya, wajahnya dia buat sesedih mungkin agar wanita itu tidak memaksakan sesuatu yang tidak ia inginkan.


"Tidak ada penolakan Kris, cepat ganti pakaianmu. Kamu sudah Mama kasih waktu untuk menaklukkan hati Tata, tapi apa dia bahkan tidak mau lagi bertemu denganmu setelah lelaki muda itu pergi," ucap Riska, mau tidak mau akhirnya Krisna membawa pakaian itu. Sebelum dia masuk kekamarnya untuk mengganti pakaiannya dia menoleh kearah mama-nya.


"Hanya terjadi salahpaham diantara kami, Ma, jangan paksa aku lagi. Sungguh aku tidak menginginkan kencan buta ini. Harusnya mama memikirkan jodo untuk anak perempuan Mama yang masih sendiri. Lulusan luar negeri. Tetapi tidak bekerja." Krisna terus meracau agar keinginannnya bisa diiyakan oleh Riska.


Riska memutar bola mata jengah dengan ucapan Krisna. Merasa tidak penting dia malah mendorong anaknya untuk masuk kedalam.

__ADS_1


***


Dengan berat hati dan di bawah ancaman dia bergegas pergi. Namun, bukan pada tempat yang telah di berikan Ari. Krisna mendatangi rumah Nita berharap wanita itu bisa menemuinya dan membantu dirinya dari kencan buta.


Sebelum mengetuk pintu Krisna mengembuskan napas kasar terlebih dulu. Rasanya begitu berat ketika dia berdiri di depan rumah Nita.


"Semangatlah, Kris, ini hanya rumahnya bukan orangnya. Padahal dulu kami dekat dan tinggal satu rumah, tetapi mengapa bertemu dengannya sekarang gugup seperti ini," ucap Krisna. Dengan penuh tekad akhirnya dia menekan bel rumah Nita.


Cukup lama lelaki itu berdiri di sana. Namun, Nita dan Art-nya tidak kunjung juga membukakkan pintu untuknya. Krisna memilih pergi kerumah Nita dan diabaikan seperti ini daripada dia harus datang pada gadis yang sama sekali tidak dia inginkan.


Pintu utama dibuka, tetapi bukan Nita yang berdiri di sana. Melainkan Ana yang tampak gugup.


"Ada apa Tuan Krisna? Nona Nita sudah tertidur, saya tidak mungkin membangunkannya," kata Ana memberitahukan. Krisna menghela napas kasar, dia tahu jika datang kerumah Nita dia akan pulang dengan rasa kecewa.


Dengan suara yang terasa berat, Krisna menjawab. "Oh, iya, tidak pa-pa Mbak, bolehkah saya numpang duduk saja di sini menungu jemputan datang," dusta Krisna, semoga saja Nita khilaf keluar rumah dan mereka bisa bertemu.


Ana mengangguk, dia masuk kedalam. Namun, sebelum kedapur dia lebih dulu menuju kamar majikannya.


"Nona Nita," panggil Ana.


"Berikan teh hangat saja untuk dia, Mbak, saya masih belum ingin bertemu dengannya meski Bian sekarang tidak ada," titah Nita, Ana menurut dia langsung membawa teh hangat untuk Krisna.


"Sejauh ini perubahan Tuan Krisna sungguh 180 derajat berbeda dari yang dulu, dulu saja Nona Nita yang mati-matian ingin mendekatkan diri. Sekarang keadaan itu berbalik, semoga saja mereka bisa bahagia jika di takdirkan bersama. Namun, jika harus berpisah, semoga saja mereka diberikan jodoh yang terbaik untuk menemani masa-masa tua mereka." Do'a Ana untuk Krisna dan Nita.


Namun, belum juga teh dia hidangkan, Ana mendengar perdebatan kedua orang itu yang sungguh sengit.

__ADS_1


***


__ADS_2