
Bab35. Kenapa Rela Berbagi Cinta?
***
Riska tengah gelisah di dalam kamarnya. Sudah berusaha untuk mencoba agar Nita dapat tinggal bersamanya. Tetapi Krisna tetap pada pendiriannya dia tidak akan membiarkan Nita pergi dari sisinya.
Krisna mencoba membujuk mamanya agar bisa sarapan bersama. Kasih begitu antusias ketika mengetahui mama Krisna datang. Namun, Krisna tidak mengatakan jika mamanya tidak setuju akan pernikahan mereka.
Krisna tidak mau mematahkan kebahagiaan Kasih. Dia berusaha agar Riska tidak terlalu memberikan sikap tidak sukanya terhadap Kasih.
"Ma, buka sebentar. Ada yang ingin Krisna bahas dengan Mama!" Riska tidak memperdulikan teriakan anaknya. Dia akan membalas semua yang telah dilakukan Krisna kemarin. Memangnya enak tidak di dengar. Itulah yang dia rasakan saat kemarin mengoceh tidak ditanggapi.
"Ngomong sendiri saja kamu, Kris. Mama tuh eneg sekali melihat kamu. Dasar lelaki tidak punya perasaan. Sudah aku pilihkan istri yang terbaik malah mendua," gerutu Riska. Dia malah bersantai di dalam kamar. Sembari menonton YouTube di Chanel Nessi Judge.
"Oh, ngeri juga ya, kalau di luar negeri begitu. Tentang iluminati, jadi parno sendiri kan," gumam Riska masih menikmati tontonannya.
"Ma! Ma! Buka pintunya." Krisna masih berusaha membujuk mamanya. Riska tertawa di dalam kamarnya berhasil membuat Krisna merasa frustrasi di luar sana.
"Rasain! Tapi kasihan juga kamu, Nak. Kalau bukan anak Mama kamu sudah Mama buat jadi perkedel," gerutunya. Tak ayal wanita baya itu membuka pintu kamarnya. Mengingat Krisna sampai harus kesiangan karena menunggunya untuk keluar.
"Kenapa!" Ketus Riska. Krisna mendorong pelan mamanya untuk masuk kedalam kamarnya. Dia juga celingak-celinguk takut seseorang menguping pembicaraan mereka.
"Bersikap baiklah pada Kasih, Ma. Dia juga menantu Mama, apalagi dia sedang mengandung cucu Mama," pinta Krisna. Membuat Riska membulatkan matanya tidak percaya. Jika dia akan mempunyai cucu tetapi bukan dari Nita.
"Itu anakmu dengannya. Tidak ada sangkut-pautnya dengan Mama, kamu pilih Mama atau madumu itu? Ingat Krisna, Mama tidak pernah mengajari kamu untuk menyakiti perempuan. Apalagi dia Nita menantuku. Mama tidak terima Krisna, kamu paham!" Cerca Riska. Dia masih tidak terima dengan poligami anaknya.
__ADS_1
"Sekarang sudah terlambat, Ma. Aku sudah bersama Kasih, aku mencintainya, dia juga rela dan ikhlas menjadi istri keduaku." Krisna mencoba memegang tangan Riska. Namun, Riska menolak.
"Biarkan dia tinggal bersama Mama, Krisna!" Seru Riska memohon.
"Aku tidak akan mengizinkannya, Ma. Satu langkah pun dia pergi, dia tidak akan bisa pergi dari sisiku." Krisna tetap kukuh.
"Mama tidak setuju!" Riska menolak pendapat anaknya yang menurut dirinya tidak adil.
"Bukankah kemarin kamu bilang, tidak mencintainya. Lalu kenapa masih mempertahankan. Dia juga harus bahagia Krisna. Jangan egois kamu! Meski dia sudah bercerai denganmu. Mama tetap akan menganggap dia menantu Mama, dan istrimu itu tidak akan Mama akui," terang Riska. Krisna tidak lagi menjawab protesan mamanya.
"Ok, terserah Mama. Aku hanya minta Mama tetap bersikap baik padanya. Bukan malah membahas hal lain. Aku sudah kesiangan, aku berangkat kerja dulu, Ma." Krisna menyalami tangan mamanya lalu pergi.
Riska memandang anaknya yang pergi meninggalkan kamarnya. Dia mengembuskan napas kasar. Keras kepala lelaki itu ternyata menurun dari dirinya. Dia dulu selalu tidak mau kalah dari suaminya. Dan sekarang anaknya tidak mau mengalah dengan dirinya.
***
Riska berjalan-jalan mencari kamar Nita. Setelah semalam dia memilih ikut pulang mengantarkan mereka. Dan tinggal bersama Nita. Dia ingin menguatkan menantunya yang telah lama menderita karena keegoisan anaknya.
Di saat dia akan menyentuh knop pintu, Kasih memanggil Riska. Wanita baya itu mengurungkan niatnya untuk membuka, lalu memutar badan untuk melihat orang yang tengah memanggilnya. Riska menatap serius kearah Kasih tanpa berkedip.
Kasih sampai salah tingkah dibuatnya. Kasih pun mencoba membuang rasa canggungnya lalu berjalan mendekati Riska. Namun, sejurus kemudian Riska perlahan mundur. Membuat Kasih merasa tidak enak hati diperlakukan seperti itu.
"Ma, a-aku," ucap Kasih ragu-ragu.
"Aku sudah tahu siapa kamu. Entah apa yang ada dalam pikiran kamu, memilih menikah dengan lelaki yang sudah beristri," seloroh Riska. Membuat wanita muda itu terkejut dengan ucapan menyakitkan itu.
__ADS_1
"Ka-karena aku mencintainya, Ma." Kasih menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Matanya berkaca-kaca karena tajamnya ucapan sang mertua.
"Sesama perempuan harusnya kamu mengerti dengan perasaan perempuan lain," tandas Riska.
"Tapi, Mbak Nita merestui kami, Ma. Dia rela di madu. Lalu mengapa Mama yang tidak terima," ungkap Kasih. Berkata sesuai dengan kenyataannya. Riska mendesah berat lalu memilih membalikkan badan dan menggapai knop pintu. Sebelum dia masuk, dia berkata kembali.
"Seorang istri tidak akan membiarkan suaminya tidak bahagia. Karena Krisna tidak mencintainya bukan berarti kamu berhak masuk dan menghancurkan rumah tangga mereka. Aku tidak menyalahkan kamu, hanya saja saya heran, wanita muda dan secantik kamu. Kok rela jadi yang kedua? Ingat ya, mmm, menantuku tidak sungguh-sungguh mengikhlaskan. Aku lebih tahu dari siapapun, bahkan dari Krisna. Dia sudah aku anggap sebagai anakku sendiri, meski dia hanya seorang menantu. Mengerti!" Riska pun menutup pintu kamar Nita. Dia juga membiarkan Kasih yang menangis di sana.
Riska melihat Nita yang tengah berdiri di depan jendela. Tatapannya kosong dan juga sayu. Dia amat terpukul dengan keadaan Nita sekarang.
"Sayang nya Mama." Riska merentangkan tangannya untuk Nita menghambur kepelukannya. Nita yang mendengar mertuanya datang langsung berbalik dan memeluk mamanya. Riska dapat merasakan bagaimana sakitnya hati Nita sekarang.
"Kenapa kamu rela membagi cinta sayang? Mengapa kamu tidak mengabari Mama. Mama kan bisa pulang, membantu kamu." Riska mengelus kepala Nita dengan sayang.
"A-aku, aku ingin Krisna bahagia, Ma. Mama juga mungkin sudah tahu, kalau Krisna tidak mencintaiku. Entah mengapa setelah menikah dia sedikit berubah, Ma." Nita semakin menelusupkan wajahnya di ceruk leher Riska.
Riska menenangkan Nita yang tengah terpuruk dalam dekapannya. Hangatnya pelukan mertuanya membuat Nita merasa nyaman.
"Tapi haruskah kamu rela suamimu menikah lagi. Itu bukan pengorbanan sayang. Itu namanya kamu merusak diri sendiri. Harusnya kamu memilih cara agar Krisna dapat mencintai kamu seperti masa sekolah dulu," ungkap Riska memberi saran. Nita menguraikan pelukannya lalu menengadah.
"Apapun akan kulakukan agar dia bisa bahagia, meski bukan bersamaku, Ma. Keputusanku salah kah, Ma. Aku ingin dia bahagia, hanya itu saja," rintih Nita, dia menunduk menyembunyikan wajahnya. Dia malu karena tidak bisa bersikap tegar.
***
Bersambung ...
__ADS_1