Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab105. Sadar Diri.


__ADS_3

Karina mengerjap, sembari tubuhnya menggeliat. Terasa rileks saat dia terbangun. Tunggu! Bukankah dia semalam tengah makan malam bersama Tuan Indra dan juga Mbak Nita, lalu mengapa dia sekarang berada di kamar.


Mata gadis itu menyapu seluruh sudut kamar. Suara gemericik air dari dalam kamar mandi menandakan ada orang yang tenang berada di dalam.


Memegang kepala, Karina berusaha mengingat kejadian semalam. Namun, dia hanya mengingat ketika dia mengatakan jika dirinya telah begitu kekenyangan. Selepas itu, dia tidak mengingat apapun.


"Jangan-jangan yang menggendongku Tuan Indra?" Pekik Karina mulai kalang kabut. Dia tidak ingin mempunyai utang budi pada lelaki itu.


"Tapi tidak mungkin, ya, tidak mungkin. Aku yakin Mbak Nita memilih satpam di depan untuk menggendongku." Karina memilih menepis pikiran itu.


Nita keluar sudah bersiap dengan pakaian rapinya. Dia menautkan alisnya ketika Karina terus memukul kepalanya sendiri.


Tidak ingin terjadi sesuatu yang fatal, Nita lantas berlari dan mencegah tangan Karina memukuli kepalanya sendiri.


"Hentikan, Karin. Ada masalah apa?" Panik, ya Nita sungguh panik. Takut gadis itu mengalami halusinasi atau bahkan tengah setres yang membuatnya menyakiti diri sendiri.


Karina memandang sendu kearah Nita dengan pundak yang merosot seketika. Dia ingin mengetahui secara detail kejadian malam tadi. Tetapi dia terlalu malu untuk bertanya.


Nita yang merasa gelagat Karina berbeda langsung mendudukan bokongnya di ranjang. Mencoba mendekati apa yang membuat gadis itu terlihat gelisah.


"Kenapa?" Meluncur juga kata itu, Nita penasaran. Sungguh.


Gadis menunduk malu, pertanyaan apa yang dia tanyakan, haruskah dia bertanya apakah Indra yang menggendongnya. Sungguh memalukan jika benar iya.


"Jangan membuat aku takut Karin, katakanlah, jika ada yang ingin kamu tanyakan," ucap Nita sembari menepuk-nepuk punggung gadis itu dengan lembut.


"Mbak." Tangan Karina mulai terulur dan memegangi tangan Nita dengan gemetar.


"Semalam ...." Tidak mampu mengatakannya juga. Bibir itu tidak mampu bersuara, dan kerongkongannya seolah tercekat.

__ADS_1


Nita seketika ingin menjewer telinga gadis itu. Setelah mengatakan satu kata saja, otaknya sudah terkoneksi dengan kejadian semalam. Karina pasti ingin mengetahui apa yang telah terjadi.


Nita lantas berdiri, dia mengira jika gadis itu sakit. Nyatanya dia tidak mau mengetahui kenyataan yang mungkin memang benar yang tengah dia pikirkan.


"Apa yang kamu pikirkan itu benar. Memang tuan Indra-lah yang menggendongmu. Aku malas jika harus berteriak, sedangkan disampingku ada lelaki yang bisa dimintai bantuan." Nita mengedipkan sebelah matanya. Seolah mengejek gadis itu. Karina langsung menelungkupkan wajahnya pada kedua tangannya.


Menggeleng begitu kuat, hingga dia mengbanting tubuhnya di atas ranjang. Berguling, memukul-mukul bantal seolah dia tengah menghajar lelaki mes*m itu.


"Ah, memalukan. Niat hati ingin membuatnya malu karena kelaparan. Tetapi malah dia yang membuatku malu. Menyebalkan!" Erang Karina dengan terus memukul bantal.


***


Karina telah bersiap untuk bekerja, dia pun ragu-ragu membuka pintu kamar. Kepalanya celingak-celinguk, mencari tahu apakah ada orang di sekitarnya yang akan membuat jantungnya berhenti berdetak. Namun, keadaan sungguh kondusif, aman dan terkendali.


Dia berjalan menuju ruang makan dengan pancaran wajah berseri-seri. Tetapi setelah dia berada tepat di meja makan. Dia langsung memutar tubuhnya perlahan untuk berbalik arah.


Ya, Indra sudah bertamu di pagi hari begini. Bahkan lelaki itu sudah menemani Nita yang tengah sarapan. Karina yang sudah tidak memiliki muka di hadapan lelaki itu pun enggan untuk bertemu dengannya.


Wajah Karina memerah karena malu. Apalagi lelaki itu menyindirnya dihadapan Nita. Kedua tangannya mengepal begitu menjengkelkan.


"Tidak inginkah kamu berterima kasih padaku, aku sudah susah payah menggendong tubuh kecilmu itu. Meski banyak makan ternyata apa yang kamu makan tidak menjadi daging di dalam tubuhmu." Dan hati Karina terbakar, ingin sekali menutup mulut lelaki itu agar berhenti bicara.


"Mungkin jika kamu kurus, Bi--" Nita menggelengkan kepalanya secepat mungkin, ketika Indra akan mengatakan yang seharusnya tidak Karina ketahui. Karina lantas pergi tidak mempedulikan lelaki itu.


Nita mengembuskan napas kasar ketika hampir saja Indra mengatakannya. "Jangan sampai membuat rencana dia gagal," peringatan dari Nita. Indra memberikan hormat.


"Siap, Nyonya Nona." Kening Nita mengkerut mendapati panggilan yang aneh.


"Anak muda seumuran kalian memang sulit di pahami." Nita menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tidak mengerti.

__ADS_1


"Ya, karena kamu akan menjadi Nyonya Wiguna," ucap Indra, Nita menatap dalam laki-laki itu dengan keheranan. Omong kosong apalagi yang telah lelaki itu ucapkan.


"Maksudmu Tazkia? Ya, dia memang cocok denganmu." Nita pun mengalihkan tatapannya kearah lain. Matanya mulai memanas ketika mengetahui jika lelaki dihadapannya sungguh sangat mencintai gadis itu.


Lalu perasan apa yang tengah bersemayam dalam hatinya?


Sebisa mungkin dia tetap berusaha normal untuk menyikapi ini semua. Hatinya berkata dia terluka. Tetapi bibirnya berkata dia mendukung hubungan mereka.


Takdir macam apa yang membuatnya merasa dalam duka. Rasa sakit yang selalu dia terima. Sampai kapan harapannya berjalan dengan kenyataan.


"Mari kita berangkat," ajak Indra, Nita dengan cepat mengusap air mata dengan telapak tangannya. Dia mengangguk lalu mengekori Indra. Tiba di depan mobil, Tazkia sudah menunggu bersandar di sana.


Dengan wajah merengut dia berjalan kearah Indra. Gadis itu memukul bahu lelaki itu dengan keras.


"Meninggalkan orang yang ketiduran. Tidak lucu!" Cibir Tazkia dengan melipat tangan di dada.


Nita memilih mengabaikan keduanya, tangannya terulur untuk membuka pintu depan mobil. Tetapi Tazkia menyerobotnya untuk masuk kedalam. Tidak biasanya gadis itu ingin duduk berdampingan dengan Indra.


Nita pun mau tidak mau duduk di kursi belakang. Tidak ada perbincangan di antara ketiganya. Namun, hanya beberapa saat hening itu tercipta.


"Kamu kalau minta izin sama mas Krisna bisa nggak sih gak usah pagi-pagi. Kayak mau kerja saja, aku tuh gak kerja ya!" Oceh gadis itu dengan meradang.


"Hentikan Kia, membuat telingaku sakit." Telunjuk Indra menempel di bibir gadis itu. Namun, Tazkia malah menggigitnya. Lelaki itu mengaduh.


"Gak usah telunjuk kamu arahkan padaku. Memang siapa kamu berani-beraninya berbuat seperti itu!" Gerutu gadis itu dengan menyibakkan rambutnya yang terurai.


Nita memandangi perdebatan mereka berdua. Serasi, ya, sangat serasi itulah yang dia ucapkan di dalam hatinya. Mana bisa dia menggantikan posisi Tazkia. Gadis cantik yang masih muda, usianya pun begitu jauh dengan dirinya. Apalagi tidak mungkin dia harus bersaing dengan gadis yang telah dia anggap adiknya sendiri.


Mungkin Indra bukan takdirnya. Dia harus merelakan mereka, agar hatinya tidak jatuh terlalu dalam.

__ADS_1


***


__ADS_2