Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab27. Tamu Spesial.


__ADS_3

Bab27. Tamu spesial.


***


Setelah makan siang kemarin. Nita merenungi setiap ucapan yang dilontarkan Krisna. Lelaki itu tidak akan lagi mencampuri urusannya. Dan dia juga meminta maaf jika perilakunya berlebihan dalam melarangnya.


Krisna menjelaskan bahwa dia juga mengkhawatirkan keadaan Nita. Dan dia juga akan memberikan kepercayaan penuh. Nita memprotes semua yang dilakukan lelaki itu Dimulai dari keromantisan mereka. Mudahnya jika diad* dom*a, dan juga ingin jika Krisna harus lebih adil dalam menyikapi semuanya. Jangan mengambil kesimpulan jika dia belum menemukan bukti yang valid.


Lelaki itu mengangguk, Nita pun meminta Krisna pulang dan membawa madunya itu. Bagi Nita cukup dia diberikan kebebasan untuk bertemu dengan Bian dia tidak akan masalah jika mereka tinggal lagi di rumahnya.


***


"Kasih! Kasih!" teriak Krisna begitu dia pulang. Biasanya lelaki itu akan mencari Kasih lalu memberinya kejutan. Dengan sebuah ucapan yang merdu dibisikkan, serta pelukan yang ia lakukan.


"Sayang aku pulang." Itulah kata yang dibiskkan Krisna. Lalu sekarang Kasih mendengar suaminya yang berteriak seperti itu, dia malas untuk menghampirinya. Mengingat dia merasa tidak dihargai.


"Kasih!" kini teriakan itu begitu menggema di dalam. Wanita itu sampai menutup telinga tidak ingin mendengar teriakan Krisna.


Krisna membuka dengan kasar pintu kamar itu. Hingga membuat Kasih terperanjat. Bukannya meminta maaf karena tidak kunjung keluar dia malah bertolak pinggang menantang Krisna.


Merasa ada yang tidak beres dia langsung mendekati istrinya.


"Kenapa tidak keluar juga ketika aku memanggilmu?" Tanya Krisna.


"Untuk apa aku datang, jika kamu memanggilku dengan nama. Aku tidak suka!" Protes Kasih. Menatap kesal kearah suaminya.


"Karena kamu membuat kesalahan besar, hingga membuat suamimu ini seperti orang b*doh," tandas Krisna.


"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan." Kasih mencoba untuk tidak terpancing. Krisna merasa tidak ada artinya jika harus mendesak Kasih.


"Berkemaslah, Nita sudah memaafkan," titah Krisna.


***


Nita baru saja pulang, membeli bahan-bahan untuk dimasak hari ini. Dia juga meminta mbak Ana untuk memasakkan menu spesial. Mbak Ana sampai tidak mengerti dengan jalan pikir majikannya itu. Harusnya dia meminta Krisna dan madunya itu untuk pergi meninggalkan rumah ini.

__ADS_1


"Kenapa malah di sambut dengan spesial, Nona? Harusnya anda meminta Tuan agar dia pergi bersama madunya," protes Ana. Nita terkekeh dengan kekhwatiran ART-nya itu. Dia tahu mengapa Ana mengatakan hal itu. Wanita itu membuktikan bahwa dia menyayanginya.


"Tidak usah dipikirkan Mbak, saya ini kuat. Dimana-dimana istri pertama lebih unggul. Aku tidak mau membuat dia merasa menang ketika aku meminta Krisna meninggalkan rumah ini," terang Nita. Ana memikirkan semua ucapan Nita.


Apa yang di katakan Nita memang benar. Namun, haruskah dia tetap satu atap. "Lalu apakah anda masih akan tetap bertahan?" tanya Ana. Nita mengangguk dan tersenyum simpul.


"Aku akan baik-baik saja, Mbak. Ayolah segera kita memasak. Sebelum mereka datang."


***


Nita berjalan kedepan untuk menyambut kedatangan mereka. Bahkan Nita yang melihat Krisna tengah digandeng madunya itu, dengan lembut melepaskan tangan Kasih dari Krisna. Kasih memandang tidak suka dengan apa yang dilakukan Nita.


Namun, kali ini dia tidak bisa memprotes ketika melihat tatapan suaminya. Akhirnya dia berjalan dibelakang mengekori mereka. Tiba di ruang makan, Nita langsung menyeret kursi untuk suaminya duduki. Krisna memandang heran dengan apa yang dilakukan istri pertamanya. Apa yang membuatnya berubah seperti ini.


"Silahkan makan. Aku sudah memasakan yang spesial untuk kalian," ucap Nita. Namun, mereka belum menyentuh makanan itu sebelum Nita yang memulainya.


"Kenapa belum pada makan?" tanya Nita, ketika dia melihat keduanya belum meyentuh makanan.


"Kamu yang harus memulainya!" tandas Kasih dengan tatapan sinisnya.


Wajah Kasih di tekuk dengan tatapan jengah ia menatap suaminya yang masih santai menunggu. Harusnya lelaki itu memprotes ini sama saja membuat dia merasa tidak di hargai.


Apalagi diperjalanan pulang Krisna tidak henti-hentinya memberikan petuah pada Kasih. Agar wanita itu bersikap sopan dan jangan pernah menyinggungnya lagi. Setelah Kasih menghancurkan photo di kamar Nita. Perubahan sikap mulai dia rasakan dari suaminya.


Di bawah meja Kasih menendang kaki Krisna. Agar dia berbicara jika wanita itu sudah kelaparan. Namun, Krisna menggeleng dengan menempelkan jari telunjuknya ke mulut. Mengisyaratkan bahwa apapun yang dilakukan Nita, Kasih harus menghargainya.


["Ingat pesanku tadi!"] Pesan yang di kirim Krisna pada Kasih. Dia sudah melihat wajah kesal terpangpang pada Kasih. Bahkan Krisna melihat jika Kasih sudah tidak sabar ingin menegur Nita.


'Kenapa mas Krisna malah semakin perhatian padanya. Ah, ku*ang aj*r, Mbak Nita apa yang sudah kamu lakukan terhadap suamiku,' batin Kasih.


Nita berulang kali menempelkan ponselnya di telinga. Namun, sepertinya seseorang belum juga mengangkatnya.


"Telepon siapa sih, Mbak? Penting banget, ya, sampai kita harus selama ini menunggunya?" tanya Kasih dengan wajah kesalnya. Namun, Nita masih santai melihat perubahan sikap madunya itu.


"Bagi kalian memang tidak penting, tapi bagiku dia sangat penting!" Nita beranjak berdiri dan mulai meneleponnya lagi.

__ADS_1


"Makan saja bisa nggak, Mbak. Nanti dia nyusul makannya. Katanya kami spesial tapi apa, ini! Kamu menyuruh menunggu dengan waktu yang cukup lama." Kasih sudah tidak bisa bersabar menunggunya.


"Sudah kubilang makan saja, duluan," titah Nita. Tangan Kasih terulur untuk membawa nasi. Namun, dicegah Krisna.


"Bersabarlah menunggu," bisik Krisna.


"Mas!" Erang Kasih. Bahkan Nita melihat Kasih sangat kesal pada Krisna. Nita hanya tersenyum dalam hatinya. Tentunya momen itu sungguh langka. Biasanya lelaki itu akan mengalah. Tetapi kali ini dia mulai menepati janjinya.


'Cukup terhibur, untuk masalah saat kamu menghancurkan isi kamarku. Tapi dia dimana sih, begitu lama sekali,' batin Nita.


"Mbak! Masih lama? Saya sudah lapar." Kasih memegangi perutnya yang keroncongan. Namun, Nita tidak menghiraukannya, dia tetap berusaha menelepon seseorang.


"Tunggu sebentar lagi, ya, Kas. Mungkin dia sedang dalam perjalanan makanya gak dijawab terus panggilanku," ucap Nita.


Kasih pun berjalan, dan mencari mbak Ana.


"Mbak, saya mau teh manis. Tolong bikinkan!" Seru Kasih.


Mbak Ana yang tengah di belakang rumah pun berlari pontang-panting ketika namanya dipanggil.


"Saya buatkan, Non." Ana sekilas melihat meja makan yang masih tertata rapi. Makanan yang belum sedekitpun tersentuh.


"Apa makanannya kurang enak, Non, mengapa belum dimakan?" tanya Ana.


"Majikanmu itu menjengke*kan saya. Saya di suruh menunggu begitu lama. Ketika dia menunggu seseorang yang entah siapa. Katanya makan malam spesial menyambut kami, bahkan saya merasa itu kebalikannya, saya ini tidak berarti untuknya," protes Kasih. Mengeluarkan uneg-unegnya.


Nita sudah memandang Kasih dengan senyumannya.


"Aku sambut dulu tamuku, Kas. Kita semua akan makan secepatnya," ucap Nita. Dia langsung berlari kedepan.


***


Dari siang belum juga di review, entah kenapa? terima kasih tetap setia menunggu cerita recehku ini😍


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2